Universitas Airlangga Official Website

Melihat Peluang Bisnis dengan Empati

Vania Santoso di sebelah kiri memberikan materi pada wirausaha merdeka 2023 di Auditorium Candradimuka GKB Kampus C Universitas Airlangga

UNAIR NEWS – Airlangga Collaborative Entrepreneur Camp (ACEC) kembali hadir sebagai bagian dari wirausaha merdeka 2023 yang dilaksanakan pada Senin (28/8/2023) di Auditorium Candradimuka GKB Kampus C Universitas Airlangga (UNAIR). 

Dengan menghadirkan pembicara Co-Founder dari heySTARTIC yang berhasil masuk dalam Forbes 30 under 30 class tahun 2021 yaitu Vania Santoso. 

Vania menjelaskan bahwa ketika ingin membangun sebuah bisnis harus mulai dari awal terlebih dahulu dengan dikenal sebagai sisi empati. 

Empati yang dimaksud adalah dengan mengenal permasalahan yang terjadi disekitar kita. Mulai dari lingkungan, masyarakat, sampai ke kebiasaan konsumen yang ingin dituju. 

“Dulu saya hanya berfikir ingin mengurangi adanya kerusakan lingkungan, melihat banyaknya bencana alam di tahun 2000-an yaitu banjir yang mendorong saya ingin membuat proyek sosial untuk mengurangi penyebab adanya bencana banjir,” jelasnya. 

Tentunya untuk membuat proyek sosial maupun komunitas lingkungan diperlukan adanya biaya untuk pelaksanaannya. 

Disini Vania berpikir bagaimana caranya untuk menghasilkan uang. Hingga melakukan adanya jualan baju bekas melalui blog, mengikuti perlombaan, hingga mengirimkan proposal – proposal ke perusahaan yang memiliki awareness terhadap lingkungan. 

Terbentuknya heySTARTIC

Vania terus melakukan banyak bisnis yang dapat menghasilkan uang agar dapat membiayai komunitas lingkungan hingga adanya tren pengelolaan barang – barang bekas untuk menjadi produk yang dapat digunakan kembali. 

Walaupun masih banyak sekali masyarakat yang belum melek akan adanya penggunaan barang dari bahan – bahan bekas yang dikelolah untuk digunakan lagi. Tentunya sasaran konsumen juga masih terbilang sedikit. 

Dengan itu, Vania kembali belajar untuk menentukan barang/jasa yang ingin diproduksi, mencari target pasar disesuaikan dengan audiens yang dituju, hingga memproduksi produk yang dipasarkan dengan kualitas yang baik. 

“Dari sini akhirnya saya dan tim melahirkan heySTARTIC yang berjalan di sektor Sustainable Fashion (barang), Art Education (Jasa), dan berjalan dengan sistem circular economy (memperhatikan sektor lingkungan),” tambahnya. 

Sektor yang Terbentuk 

Melalui Sustainable Fashion, heySTARTIC berhasil membuat barang – barang yang dibuat dari bahan bekas menjadi barang yang memiliki value proposition dan dapat bersifat limited edition. 

Dengan itu, memiliki target pada customer yang memiliki selera fashion unik dan juga suka tampil beda. Tentunya dapat mengantar heySTARTIC untuk hadir dalam acara pameran fashion tidak hanya di pameran kriya maupun lingkungan saja. 

Tidak hanya itu, heySTARTIC juga membuka kerja sama dengan pemerintahan atau perusahaan yang disebut dengan B2B yaitu Bussines to Bussines untuk memproduksi souvenir dalam jumlah banyak untuk kebutuhan event pemerintahan maupun perusahaan. 

Lalu untuk Art Education berjalan dalam bentuk pelatihan – pelatihan ataupun workshop yang diadakan untuk pengembangan edukasi terkait pengelolaan bahan bekas. 

Dan terakhir yaitu berjalan dengan circular economy, yang mana heySTARTIC berusaha untuk terus down to earth dengan dikolaborasikan untuk tetap peduli terhadap lingkungan. 

“Disini biasanya kalau bagi – bagi rezeki tetap menggunakan tas yang dikelola dari barang bekas, jadi kita masih dapat mengurangi sampah dan peduli terhadap lingkungan.”  

Penulis: Nokya Suripto Putri 

Editor: Feri Fenoria