UNAIR NEWS – Topik mengenai “Mengokohkan Akidah, Memahami Dimensi Musibah” menjadi topik bahasan dalam pengajian rutin Universitas Airlangga yang diadakan pada Kamis (27/10/2022). Kegiatan itu bertempat di Aula Lantai 3 Fakultas Vokasi Universitas Airlangga.
Dihadiri oleh puluhan sivitas akademika UNAIR, pengajian rutin tersebut mengundang Prof Dr H Ahmad Zahro MA sebagai pengisi acara. Di hadapan para hadirin, Prof Zahro mengatakan bahwa datangnya musibah merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan, maka dari itu sebaiknya para muslim dapat menyikapinya dengan benar.
“Tidak semua orang dapat memahami musibah, apalagi jika diri sendiri yang terkena, namun kita perlu menyikapinya secara tepat, salah satunya dengan mengingat bahwa kita perlu ridho terhadap ketentuan Allah SWT dan belajar untuk introspeksi diri,” terangnya.
Ustaz Zahro sapaannya, menjelaskan bahwa ada beberapa kategori dimensi musibah yang bisa digunakan sebagai bahan introspeksi diri. Dimensi yang pertama adalah uqubah atau hukuman. Dimensi ini berlaku bagi orang yang banyak dosa, dan ditimpakan akibatnya melalui hukuman dunia sementara di akhirat akan melihat berdasar pertobatannya.
“Semua musibah ada kaitannya dengan perbuatan manusia, seperti zalim,” imbuhnya.
Kedua, dimensi tadzkirah atau disebut juga dengan peringatan. Menurutnya, dimensi tadzkirah itu berlaku bagi orang yang seimbang antara dosa dengan pahalanya. Orang yang diharapkan dapat sadar dan beristighfar.
“Ketika ada musibah, kita harus senantiasa merasa bahwa kita itu diperingatkan, supaya kita menyadari bahwa memang ada pahala tetapi juga ada dosa,” tutur Ustaz Zahro.
Ketiga, adalah dimensi kafarat atau tebusan, ini berlaku bagi orang beriman yang berdosa. Jika hatinya ridho dengan musibah yang menimpa, maka dosanya akan diampuni sepadan dengan tingkat musibah yang dialaminya tersebut.
“Kita perlu membimbing diri dan mengatur hati agar selalu bersikap ridha terhadap apapun yang terjadi, kita perlu meyakini bahwa apapun yang sudah terjadi itu pasti sudah keputusan dari Allah SWT, maka dari itu kita perlu ridha untuk mendapatkan hikmah serta mendapat ampunan dari-Nya,” terang guru besar ilmu fiqih tersebut.
Keempat, dimensi tabsirah atau harapan. Itu berlaku bagi orang yang sadar bahwa segala kesulitan itu akan melahirkan kemudahan. Ia menjelaskan bahwa asal hatinya ridha menerima musibah, maka harapan baik pasti akan menjemputnya.
Kemudian, yang kelima merupakan mihnah atau ujian. Hal ini umumnya berlaku bagi orang yang derajat keimanannya sudah tinggi. Maka dari itu, untuk menaikkan derajatnya perlu diuji dengan musibah.
“Setiap ada musibah, bisa saja terjadi kepada kita lebih dari satu dimensi, maka dari itu kita perlu menyikapinya dengan ridho dan senantiasa introspeksi diri untuk semakin dekat kepada Allah SWT dengan tujuan mendapatkan ampunan, rahmat dan hidayah-Nya,” papar Ustaz Zahro.
Penulis: jihan aura
Editor: Khefti Al Mawalia





