Universitas Airlangga Official Website

Memahami Hidup dan Mati dari Perspektif Negeri Sakura

Ishii Yukata, Deputi Konsul Jenderal Jepang di Surabaya dalam Kuliah Tamu FIB UNAIR pada Selasa (29/4/2025) (Foto: Humas FIB)
Ishii Yukata, Deputi Konsul Jenderal Jepang di Surabaya dalam Kuliah Tamu FIB UNAIR pada Selasa (29/4/2025) (Foto: Humas FIB)

UNAIR NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Pandangan Orang Jepang Terhadap Hidup dan Mati. Acara tersebut berlangsung pada Selasa (29/4/2025) di Ruang Siti Parwati, Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Jepang, Nunuk Endah Sri Mulyani SS MA PhD hadir memberikan sambutan pada acara ini. Dalam sambutannya, Nunuk mengajak mahasiswa melihat tema ini melalui sudut pandang yang lebih mendalam. “Biasanya kita membahas budaya populer Jepang, tapi kali ini kita diajak menyelami sisi eksistensial masyarakatnya. Bagaimana mereka memaknai hidup, kematian, bahkan keberadaan setelah mati,” jelasnya

Kuliah tamu ini mengundang Ishii Yukata, Deputi Konsul Jenderal Jepang di Surabaya sebagai narasumber. Ishii membahas mengenai jisei no ku, puisi perpisahan yang akan seseorang tulis menjelang ajal. Tradisi ini telah mengakar kuat dalam sejarah Jepang, termasuk di kalangan tokoh seperti Toyotomi Hideyoshi atau Yoshida Shoin. Mereka meninggalkan puisi sebagai catatan batin tentang kefanaan, bukan sekadar pesan terakhir untuk dunia.

“Orang-orang memandang kematian sebagai akhir cerita, sehingga mereka merasa perlu menutupnya dengan pantas. Bukan untuk dramatisasi, tapi sebagai bentuk kesadaran bahwa hidup memang sementara,” ujarnya.

Tradisi ini tumbuh dari cara hidup yang terhubung dengan alam. Daun yang gugur, angin yang berganti musim, masyarakat terus menjalankan praktik budaya hingga kini dan memaknai semua itu sebagai simbol bahwa hidup akan berakhir. Alih-alih takut, masyarakat Jepang cenderung menyiapkan diri, bukan secara spiritual semata, tapi juga dengan cara-cara simbolik, seperti menulis puisi.

Masyarakat Jepang juga menjaga hubungan dengan kematian melalui praktik budaya yang masih mereka jalankan hingga kini. Salah satunya kuyo, ritual doa dan penghormatan untuk arwah yang telah meninggal. Mereka percaya roh tidak langsung meninggalkan dunia, melainkan butuh bimbingan agar bisa beristirahat dengan tenang. “Keluarga biasanya berkumpul pada hari ke-49 setelah seseorang meninggal. Mereka memanfaatkan momen itu untuk memastikan arwah bisa berpindah sepenuhnya,” tuturnya.

Pandangan tentang dunia setelah mati atau anoyo turut memperkuat keyakinan itu. Masyarakat Jepang membayangkan anoyo bukan sebagai tempat asing, tapi sebagai ruang batin tempat roh leluhur tetap hadir dan mengawasi keluarga. Mereka menyimpan altar keluarga, seperti butsudan, di rumah untuk menyapa dan memberi persembahan kepada keluarga yang telah tiada. “Kalau saya pulang ke Jepang, hal pertama yang saya lakukan biasanya menyapa kakek-nenek di depan altar rumah. Rasanya, seperti mereka masih ada,” tambahnya.

Kehadiran agama Buddha dan Shinto turut memperkuat cara pandang ini. Ajaran Buddha mengenalkan konsep reinkarnasi dan karma. Sementara itu, ajaran Shinto mengajarkan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan. Karena itu, masyarakat Jepang dapat menjalani upacara kelahiran ala Shinto dan kemudian menerima pemakaman secara Buddha. “Keduanya tidak pernah bertentangan. Justru saling melengkapi,” pungkasnya.

Menurutnya, dengan cara pandang itu, hidup tak pernah benar-benar selesai saat napas terakhir berhenti. Masyarakat Jepang menganggap kematian sebagai momen pulang, bukan pergi.Sepanjang hidup, mereka hanya sedang menulis cerita yang akan ditutup dengan tenang, bukan dengan takut.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Edwin Fatahuddin Ariyadi Putra