Universitas Airlangga Official Website

Memaknai Iduladha 1443 H, Berlatih Ikhlas dan Bersyukur

Suasana Salat Idul Adha 1443 H di Masjid Ulul Azmi Minggu (11/7/2022) Foto: Nuri Hermawan

UNAIR NEWS – Perayaan Idul Adha menjadi salah satu momen yang ditunggu oleh para umat muslim di seluruh dunia. Turut merayakan hari besar tersebut, Masjid Ulul ‘Azmi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar salat Idul Adha 1443 H bersama pada Minggu (10/7/2022). Bertempat di Kampus MERR C UNAIR kegiatan tersebut ramai diikuti oleh sivitas akademika, mulai dari Rektor UNAIR Prof Dr Mohammad Nasih SE MT Ak hingga para mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Dekan Bidang II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Dr M Athoillah Isfandiari dr MKes bertugas menjadi khatib. Dalam khutbahnya, Atok menyampaikan hikmah mengimplementasikan Idul Adha dalam kehidupan sosial sebagai umat beragama.

Pakar Epidemiologi UNAIR tersebut menuturkan, meskipun pandemic covid-19 belum juga usai, tidak ada alasan bagi umat muslim untuk tidak bersyukur. Dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak stabil, perayaan Idul Adha tidak boleh kehilangan makna dan esensinya.

“Pada Idul Adha, hari raya kurban ini orang belajar ikhlas. Ikhlas lillahi ta’ala mempersembahkan kurban, karena mengharapkan keridhoan dari Allah SWT untuk berbagi ke sesama. Bukan karena perasaan tidak enak kalau tidak berkurban,” tuturnya.

Berbagi kepada sesama tidak hanya berhenti di Idul Adha saja. Namun, berbagi sepatutnya diteruskan pada waktu-waktu berikutnya. Atok menyebutkan, ibadah kurban tersebut dapat dimaknai sebagai wujud syukur kepada sang pencipta dan wujud persaudaraan dan kemanusian antar umat muslim.

“Berlatihlah bersyukur secara ikhlas. Temukan hal-hal yang membuat kita berucap Alhamdulillah,” ujarnya.

Suasana Salat Idul Adha 1443 H di Masjid Ulul Azmi Minggu (11/7/2022) Foto: Nuri Hermawan

Wakil Dekan Bidang II FKM UNAIR tersebut mengungkapkan, Idul Adha erat kaitannya dan tidak bisa dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS. Sikap teladan nabi Ibrahim AS yang mendapatkan perintah menyembelih putranya, menunjukkan cinta kepada Allah SWT lebih besar dan jauh lebih di atas segala yang dititipkan oleh Allah SWT.

“Sekarang ini kecintaan pada duniawi telah mencemari nilai hidup dan kehidupan manusia. Penghormatan tidak lagi dilihat dari tingkat ketakwaan, melainkan dari tingginya materi yang dimiliki,” tukas Atok.

Dosen FKM UNAIR itu mengharapkan, perayaan Idul Adha dan persembahan hewan kurban mampu menyadarkan umat Islam bahwa derajat sebagai makhluk Allah ditentukan oleh nilai ketakwaan. Ia juga berharap, momen tersebut dapat menumbuhkan sifat saling meringankan beban sesama, ikhlas, dan selalu bersyukur akan nikmat Allah SWT. (*)

Penulis: Alysa Intan Santika

Editor: Feri Fenoria