UNAIR NEWS – Ada 7,4 miliar populasi manusia di dunia. Sebanyak 3,4 miliar di antaranya adalah pengguna aktif internet. Dari angka tersebut, sebanyak 2,3 miliar adalah pengguna media sosial. Rata-rata, dalam sehari, orang menggunakan sepertiga waktunya untuk mengakses media sosial. Inilah dampak perkembangan teknologi yang membuat arus informasi berkembang pesat.
Akhyari Hananto, penggagas gerakan Good News From Indonesia (GNFI) banyak berbagi pengetahuan tentang perkembangan media dan peran pihak hubungan masyarakat (humas) di instansi pendidikan. Ia menjadi salah satu pembicara Dialog Komunikasi Publik yang diadakan oleh Pusat Informasi dan Humas Universitas Airlangga, Rabu (30/11), di Aula Kahuripan 300.
Menanggapi fenomena arus informasi dan komunikasi yang kian masif, humas menjadi garda terdepan dalam membangun citra perguruan tinggi. Humas juga dituntut untuk memformulasikan strategi dalam mengemas keunggulan universitas menjadi produk yang menarik dan disebarluaskan untuk masyarakat.
“Ada tiga kunci kemenangan humas. Pertama, mengidentifikasi keunggulan. Kedua, mengidentifikasi target market (pasar). Ketiga, bagaimana menghubungkan keduanya dalam sebuah produk kemasan yang bagus,” papar Akhyari.
Publik, seperti yang kita tahu di zaman informasi ini, memiliki banyak pilihan informasi yang beragam dan tak terbatas. Beragam cara mesti digunakan untuk menghasilkan produk yang mampu menggaet hati publik. Tampilan visual yang menarik, mudah diakses, sederhana, menampilkan pesan yang mendalam, dan dapat dinikmati kaum muda.
Membangun optimisme
Gagasan membangun GNFI bermula dari kegelisahan Akhyari atas citra buruk Indonesia yang dibangun media-media arus utama. Menurutnya, media-media ini tak membangun optimisme dan membagikan inspirasi masyarakat untuk mengekspose potensi besar yang dimiliki Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia memiliki beragam keunggulan yang dapat diketahui warga dunia.
“Kita memiliki sejarah yang panjang, alam yang indah, budaya yang adiluhung, kesenian yang luar biasa banyak, keragaman budaya. Tapi tidak banyak orang luar yang tahu. Jangankan orang luar, orang Indonesia pun tidak tahu sendiri apa keunggulan-keunggulan dari bangsa kita,” ujarnya.
Maka itu ia berpikir untuk mengangkat potensi-potensi yang dimiliki Indonesia agar terekspos di ruang publik. Sejak didirikan tahun 2009 hingga sekarang, banyak saluran media yang dikelola GNFI. Mulai dari laman resmi, YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, dan LINE. GNFI juga memproduksi majalah digital dan cetak. Di ranah media nasional, GNFI telah memiliki program dengan bekerjasama dengan tiga stasiun televisi di Indonesia.
“Saya berharap ketika orang membaca, orang bisa mengenali Indonesia, bangga menjadi Indonesia, mencintai Indonesia, dan dia ikut sharing tentang keindahan-keindahan Indonesia kepada yang lain. Ketika masyarakat kita bangga menjadi Indonesia, maka ia akan terpicu keinginan untuk berbuat sesuatu yang baik untuk Indonesia,” ujarnya.
Melalui GNFI, ia berharap publik semakin mengenali Indonesia, bangga menjadi bagian dari Indonesia. Sehingga, kita bisa bekerjakeras dan berinovasi bersama untuk kemajuan bangsa. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S





