n

Universitas Airlangga Official Website

Membuka Peluang Menghadapi Revolusi Industri

Prof Badri
Guru Besar FEB UNAIR Prof. Badri Munir Sukoco saat memberikan orasi. (Foto: Helmy Rafsanjani)

UNAIR NEWS – ”Revolusi industri sudah di depan mata, universitas harus bisa membangun ekosistem startup untuk berkontribusi dalam persaingan global,” ucap Guru Besar ekonomi Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D dalam paparannya dalam acara Gelar Inovasi Guru besar yang berlangsung di Kampus C Universitas Airlangga, Kamis (02/11).

Badri menyampaikan, perkembangan dunia digital yang begitu cepat melahirkan peradaban baru. Yakni, terjadinya revolusi industri 4.0. Fenomena tersebut dikhawatirkan menimbulkan banyak masalah. Salah satunya, pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia bakal digantikan robot.

“Inilah yang harus dihadapi. Termasuk oleh perguruan tinggi. Universitas bisa mengoptimalkan peran perguruan tinggi apa tidak,” ujarnya.

Kreatifitas sangat dibutuhkan untuk menghadapi revolusi industri. Universitas berperan mencetak generasi yang kreatif. Termasuk tidak hanya menelurkan kreatif profesional seperti menjadi dokter, melainkan super kreatif seperti inovator dalam bidangnya.

Menurut dia, sebanyak 70 % penduduk di dunia akan tinggal di megacities. Di dunia, hanya terdapat 50 megacities yang memiliki perekenomian yang jauh lebih maju dibanding negara-negara konvensional.

Pemenuhan kategori megacities di suatu negara akan sukses bila didukung dengan world class university. The best university akan menghasilkan the best talent. Bakat-bakat terpilih itulah yang akan membentuk suatu innovation ecosystem.

Indonesia dengan bonus demografi diprediksi menjadi kekuatan ekonomi ke-5 dunia. Namun, hal itu bisa saja menjadi terbalik ketika persiapan-persiapan tidak sedini mungkin dilakukan.

Indonesia harus memilki innovation ecosytem untuk mewujudkan megacities. “Bila tidak, sangat mungkin akan tergeser dengan adanya revolusi industri ini,” ucap Badri.

Memiliki ekosistem itulah yang akan mendorong terciptanya hal-hal baru. India misalnya. Badri mencontohkan bahwa negara itu telah membuat start-up ecosystem guna mendorong tumbuh-kembangnya ekonomi mereka. “Israel memiliki pendapatan per kapita sekaligus hak patennya paling tinggi dan ternyata perkembangan start-up di sana juga paling maju di dunia,” ucapnya.

“Indonesia harus memiliki kebijakan yang sangat friendly dalam meningkatkan GDP melalui start-up, ” lanjutnya.

Menurut dia, saat ini universitas hanya bermain di belakang, seharusnya bisa berkolaborasi dengan berbagai elemen terkait dalam menghadapi revolusi industri 4.0. “Anak FK dengan ekonomi, misalnya. Anak FK dengan Farmasi, contohnya,  harus berkolaborasi sehingga tahu apa yang menjadi kebutuhan pada masa depan. UNAIR saat ini tengah mengembangkan start-up center. Yakni, wadah yang bisa memfasilitasi mahasiswa dalam membangun start-up,” jelasnya

 

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Feri Fenoria