Obesitas pada remaja kini menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin serius, termasuk di Indonesia. Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini bukan sekadar masalah penampilan, tetapi berkaitan erat dengan risiko penyakit tidak menular di masa depan, khususnya penyakit jantung dan pembuluh darah. Resistensi insulin menjadi salah satu penyerta (comorbid) obesitas, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Resistensi insulin merupakan “akar masalah” dari sindrom metabolik, suatu kumpulan faktor risiko yang meliputi obesitas sentral, tekanan darah tinggi, gangguan lemak darah, dan kadar gula darah yang tidak normal. Bila kondisi ini tidak terdeteksi sejak dini, risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan komplikasi jangka panjang lainnya akan meningkat saat dewasa.
Sayangnya, pemeriksaan resistensi insulin sering kali membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang relatif kompleks dan mahal, seperti penghitungan HOMA-IR. Hal ini menjadi kendala untuk skrining massal, terutama di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan alat skrining yang lebih sederhana, tetapi tetap akurat. Penelitian menggunakan pendekatan InsuTAG, yaitu indeks yang dihitung dari kadar trigliserida dan insulin puasa, sebagai alat deteksi dini resistensi insulin dan sindrom metabolik pada remaja obesitas. Penelitian ini melibatkan remaja usia 13–18 tahun di Surabaya dan Sidoarjo, dengan desain potong lintang dan pemeriksaan metabolik yang komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40% remaja obesitas mengalami resistensi insulin, dan hampir jumlah yang sama memenuhi kriteria sindrom metabolik. Temuan ini mengonfirmasi bahwa obesitas pada remaja bukanlah kondisi jinak, melainkan sudah disertai gangguan metabolik yang nyata. Yang menarik, InsuTAG terbukti memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi resistensi insulin. Nilai InsuTAG >23,48 mampu mengidentifikasi resistensi insulin dengan sensitivitas 78% dan spesifisitas 87%. Artinya, indeks ini cukup andal untuk memilah remaja yang berisiko tinggi. Sementara itu, untuk mendeteksi sindrom metabolik, nilai cut-off InsuTAG >23,36 juga menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Penelitian ini tidak hanya menyoroti aspek klinis, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan salutogenesis, yaitu paradigma kesehatan yang berfokus pada penciptaan dan pemeliharaan kesehatan, bukan sekadar pencegahan penyakit. Dalam pendekatan ini, penting bagi remaja untuk memahami kondisi kesehatannya (comprehensibility), merasa mampu mengelola risikonya (manageability), dan melihat makna dari perilaku hidup sehat (meaningfulness). InsuTAG dapat berperan sebagai alat umpan balik objektif yang membantu remaja menyadari risiko metabolik mereka sejak dini. Ketika disertai edukasi yang tepat dan pendekatan yang tidak menghakimi, informasi ini dapat meningkatkan kesadaran diri dan memotivasi perubahan perilaku, seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, dan mengurangi gaya hidup sedentari.
Temuan ini membuka peluang besar untuk penerapan InsuTAG dalam program kesehatan berbasis sekolah. Lingkungan sekolah merupakan tempat strategis untuk skrining dini, edukasi kesehatan, dan promosi gaya hidup sehat. Dengan alat yang relatif sederhana dan informatif seperti InsuTAG, tenaga kesehatan sekolah dapat mengidentifikasi kelompok berisiko dan merancang intervensi yang lebih tepat sasaran. Lebih jauh lagi, pendekatan ini dapat membantu remaja membangun kemandirian dalam menjaga kesehatan mereka sendiri. Dengan memahami bahwa risiko penyakit jantung dapat dimulai sejak usia muda, remaja diharapkan lebih termotivasi untuk menjaga kesehatan sebagai investasi jangka panjang.
Take home message
InsuTAG terbukti sebagai alat skrining yang menjanjikan untuk mendeteksi resistensi insulin dan sindrom metabolik pada remaja obesitas. Lebih dari sekadar indikator biokimia, InsuTAG berpotensi menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan remaja dalam menghadapi lingkungan yang semakin obesogenik. Deteksi dini, edukasi yang tepat, dan dukungan lingkungan dapat menjadi kunci untuk mencegah beban penyakit kardiometabolik di masa depan.
Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)
Link: https://e-journal.unair.ac.id/PROMKES/article/view/81179





