UNAIR NEWS – Jelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) adakan Talkshow Bahasa (Bahas Apa Saja). Tema talkshow tersebut adalah Literasi Sejarah: Menuju Kemerdekaan Indonesia dan Menumbuhkan Literasi Melalui Perpustakaan, Rabu (16/08/2023).
Konsepsi Penjajahan Indonesia
Sejarah merupakan sebuah ilmu yang memiliki ruang dan waktu. Pertanyaan seperti “kapan” dan “di mana” dalam sejarah harus tertulis secara spesifik. Misalnya ketika membahas konsepsi lama penjajahan di Indonesia. Apakah terhitung sejak VOC berdiri atau sejak orang-orang Eropa datang ke Nusantara hingga kedatangan Jepang menjadi 350 tahun. Karena sejarah memiliki fungsi, yaitu sejarah sebagai cerita, sejarah sebagai pendidikan dan sejarah sebagai ilmu kritis.
“Tidak semua waktu dikuasai oleh Belanda. Inilah yang menyebabkan ada yang berpendapat secara kritis kalau Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun. Tapi karena ada kebutuhan-kebutuhan tertentu, misalnya nasionalisme. Sejarah pedagogi atau pendidikan menjadi yang menjadi kebutuhan nasionalisme harus ada peristiwa pengikatnya,” terang Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari S S M A yang merupakan staff pengajar di Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAIR.
Sejarah Sebagai Pendidikan dan Ilmu Kritis
Dalam perjalanannya, sejarah juga memuat nilai-nilai dalam pendidikan, misalnya dalam konsepsi penjajahan Indonesia. Di Dalam peristiwa tersebut, peserta didik dapat mengambil banyak nilai, misalnya nilai kepahlawanan, kejujuran, gotong royong dan lain sebagainya. Berbeda ketika sejarah sebagai ilmu kritis maka hasilnya juga berbeda karena apa yang kajian sejarawan akan terpublikasi apa adanya (sesuai fakta yang ada) kepada masyarakat sehingga menimbulkan pendapat lain di masyarakat.
“Karena apa, sejarah itu kan kadang-kadang tidak bisa lepas dari nilai lain. Misalnya nilai kepahlawanan. Maka jika berbeda dari nilai tersebut akan menimbulkan kehebohan di masyarakat,” ungkapnya.
Tradisi Lisan Sebagai Sumber Sejarah
Ikhsan juga menjelaskan bahwa kajian sejarah pasca kemerdekaan agak sulit dilakukan karena terbatasnya ketersediaan sumber primer tertulis. Selain itu, para pelaku sejarah dalam periode itu juga sudah mulai jarang.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sejarawan atau mereka yang mengkaji sejarah periode tersebut. Tradisi lisan (oral) menjadi salah satu hal penting dalam mengkaji sejarah karena kegemaran masyarakat Indonesia yang hobi menyampaikan pesan secara lisan.
“Kita tahu kalau di Indonesia itu tradisi oral atau lisan, kalau di Surabaya namanya Cangkruk. Kita bisa tahan 7 hari 7 malam ngobrol begini, tapi kalau menulis beda lagi. Sehingga dokumentasi di masyarakat kita kebanyakan lebih cenderung ke folklor”
Pentingnya Kajian Peristiwa Masa Lalu
Menurut Ikhsan, sebagai sejarawan, lanjutnya, fenomena sejarah akan terus berulang sehingga peristiwa-peristiwa masa lalu perlu dikaji. Agar kita bisa belajar dampak positif dan negatif dari peristiwa-peristiwa tersebut. Peristiwa masa lalu juga berguna sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di masa depan.
Sehingga peristiwa sejarah dapat digunakan sebagai prediksi karena permasalahan-permasalahan yang terjadi saat ini harus diteliti dari sejarah.
“Misalnya Surabaya dalam masa kolonial pernah menjadi kota dengan pembangunan yang kuat. Nah, untuk menata sebuah kota kita harus menangkap sebuah cerita terlebih dahulu, hal ini yang dilakukan dalam riset sejarah apakah kemudian dipakai untuk sekarang? Maka untuk menata Kota Surabaya, hal-hal tersebut bisa dipakai untuk pengambilan kebijakan,” paparnya Ikhsan.
Penulis: Ini Tanjung Tani
Editor: Khefti Al Mawalia





