UNAIR NEWS – Huriyah Dhawy Febrianti merupakan Alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR). Dhawy, panggilan akrabnya merupakan penyandang disabilitas netra total. Perempuan kelahiran Surabaya, 12 Februari 2002 tersebut terlahir prematur di usia kehamilan enam bulan dua minggu.
Dhawy dibesarkan oleh sosok ibunda, Irene Rachman, yang terus mengajarkan tentang arti perjuangan, cinta kasih, kedisiplinan, hingga kepercayaan diri. Dhawy pun tumbuh menjadi perempuan tangguh yang mampu menginspirasi dengan segudang prestasi.
Di usia kandungan yang baru menyentuh angka enam bulan dua hari, Dhawy harus dilahirkan ke dunia. Ketika itu, ia terserang virus rubella yang membuat indra penglihatannya tidak mampu berfungsi dengan sempurna. Ia menyadari hal tersebut ketika dirinya kerap menabrak benda di depannya saat berjalan. Akhirnya, Dhawy kecil menyadari jika dirinya memang berbeda.
“Orang bisa tau terang-gelap, saya bahkan tidak tau. Orang punya warna favorit, saya tidak karena saya memang tidak punya visual memory sama sekali,” ujarnya.
Perundungan oleh Sesama Disabilitas
Dhawy kecil adalah sosok anak yang jarang bersosialisasi. Sejak kecil, perundungan bukanlah hal aneh baginya. Tidak hanya dilakukan oleh orang-orang normal, bahkan perundungan juga dilakukan oleh anak-anak sesama disabilitas kepadanya. Perbedaan yang cukup kontras dari berbagai aspek menjadi alasannya terus dirundung.
Akan tetapi, Dhawy menyadari jika dukungan keluarga menjadi salah satu bahan bakar semangatnya. Sang ibunda, walaupun harus berjuang seorang diri merawatnya, tidak pernah mengecilkan mimpi besar Dhawy. Dukungan itu pulalah yang akhirnya membuat Dhawy lambat laun mampu menerima dirinya sendiri dan berkarya.
Ia selalu mengingat ketika ibunda kerap membacakan berbagai cerita. Ibunda pun tidak mengizinkan Dhawy untuk menonton serial kartun yang biasanya dinikmati oleh anak sepantarannya. Dia justru dibiasakan untuk menonton berita serta diarahkan untuk mendengarkan naik turunnya intonasi si pewarta berita. Walau tidak paham apa yang dibicarakan, hal itulah yang membuat pengetahuan Dhawy akhirnya lebih luas daripada kawan sepermainannya yang lain.
“Banyak yang bilang aku dewasa sebelum waktunya. Jadi aku tidak bersosialisasi dengan siapapun saat kecil, hanya dengan keluarga saja, terutama mamah. Karena mamah fokusnya mengasah intelligent aku,” kisahnya
Ia pun bercerita jika ia mempelajari bahasa Inggris lantaran mengikuti kursus bernyanyi. Di sana, Dhawy harus mengikuti ujian yang berstandar internasional. Akhirnya, ia mencoba belajar bahasa asing tersebut dan kerap mempraktekannya dalam bernyanyi maupun pada percakapannya. Nyatanya, tidak semua orang menyukai. Dhawy kerap mendapatkan hinaan karena dianggap sombong saat mencoba belajar berbahasa inggris.
“Kadang-kadang saya mikir kalau mereka ini nge-bully karena ada permasalahan internal sendiri yang mereka tidak bisa jawab. Akhirnya mereka meluapkan emosi negatifnya dengan cara seperti itu,” katanya.
Menjadi Sosok yang Mandiri
Sebelum lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Humaniora dari UNAIR, Dhawy juga sempat menimba ilmu di beberapa sekolah. Antara lain, SMAN 8 Surabaya, SMBLBA-YPAB Surabaya, dan SDLBA-YPAB Surabaya. Selain itu, ia juga mendalami dunia tarik suara yang ia latih di Melodia Surabaya sejak tahun 2008.
Dhawy juga sempat menjelaskan bagaimana ia belajar. Selain menggunakan huruf braille, ia juga memanfaatkan teknologi lainnya, salah satunya screen reader. Ia menceritakan ketika dirinya membeli sebuah buku baru, maka ia harus memindai buku tersebut sehingga mampu dideteksi oleh aplikasi screen reader. Hal itu pula yang digunakan ketika ia menggunakan media sosial.
“Selama ini aku lakuin itu sendiri. Aku berusaha untuk bisa sendiri, seperti connecting kabel, ngeliat printer sudah nyala atau belum untuk dipakai nge-scan itu harus aku lakuin sendiri. Dirumah aku gak ada asisten,” tambahnya.
Memilih Bahasa dan Sastra Indonesia
Kesukaannya dalam belajar tersebut jugalah yang akhirnya mendorong Dhawy untuk melanjutkan studi di pendidikan tinggi. UNAIR menjadi pilihannya. Bahkan, UNAIR telah menjadi kampus idamannya sejak di bangku sekolah dasar. sejak kecil pulalah kesukaannya dalam menulis mulai terpatri. Ketika SMA pun Dhawy sudah mampu menerbitkan buku puisi. Kegemarannya tersebutlah yang mengantarkan kepada Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR.
Selama berkuliah, ia merasa bersyukur karena ditempatkan di dalam komunikas pendidikan yang sangat suportif. Baik dari teman, dosen, civitas, hingga fasilitas penunjang yang diberikan. Ia bahkan tidak menemukan kesulitan berarti, justru dia mendapatkan pengalaman tersendiri dan mampu menjelajah banyak hal.
“Misalnya aku lagi dilantai atas dan gak ada temen-temen disekitarku, aku biasanya chat di grup angkatan, dan mereka gercep (gerak cepat, Red) bantuin aku. Aku kadang malah merasa nggak enak sama mereka,” ceritanya.
Ia juga menyatakan kegembiraannya dengan fasilitas khusus disabilitas yang disediakan oleh perpustakaan UNAIR. Bagi Dhawy, ruangan tersebut membuatnya semakin tenang dan nyaman untuk belajar dan mengakses berbagai sumber yang dibutuhkannya. Selain itu, perpustakaan UNAIR juga menyediakan komputer dengan fasilitas screen reader yang sangat membantunya dalam mengerjakan banyak hal.
“Jadi suatu hari aku lupa bawa laptop atau laptopku lagi error, aku tetap bisa kesana dan ngerjain tugas. Enak banget kok disana, Alhamdulillah,” pungkasnya.
Tiga Novel dalam Satu Tahun
Berkat dukungan dari berbagai pihak, Dhawy berhasil menerbitkan tiga buah novel dalam kurun waktu satu tahun. Motivasi itu ia dapatkan di awal tahun 2021, sebuah penerbit buku bernama LobRinz mengadakan kegiatan parade menulis novel. Di sana, para peserta diharuskan menulis satu chapter atau satu bab dalam satu hari, artinya 30 bab dalam satu bulan. Dhawy pun menerima tantangan tersebut
Tantangan tersebut akhirnya melahirkan novel pertamanya, yaitu Keterpurukan Kedua. Dari situlah novel-novel berikutnya bermunculan. Sebut saja novel berjudul Creative Life, Creative Project untuk karya keduanya, dan Real Child vs Childish untuk karya ketiganya. Semuanya ia lakoni dalam kurun waktu satu tahun.
“Ketika aku menggambarkan sosok ayah yang heroik di novel itu agak susah karena aku tidak punya role model sosok figur ayah. Mamah sama papah aku pisah sejak aku umur dua tahun,” ujarnya.
Ia menyadari, dengan keterbatasan yang dimiliki, tentunya Dhawy harus mampu menunjukan sisi lain dari dirinya. Dhawy bangga ketika orang lain justru menilainya sebagai sosok yang positif. Dengan prestasi yang dimiliki, utamanya perihal kepenulisan, ia berpesan untuk siapapun perlu untuk terus bergerak dengan kondisi apapun. Baginya, apabila terus meratapi kondisi diri dan tidak berusaha mengembangkan potensi, di situlah kegagalan terjadi.
Penulis: Afrizal Naufal Ghani
Editor: Nuri Hermawan





