Universitas Airlangga Official Website

Mentoring Lipres, Ajak Mahasiswa Bangun Identitas Lewat Public Speaking

Pemateri, Ilham Baskoro, sewaktu berbagi tips kepada mahasiswa FIB untuk menguasai public speaking. (Foto: Dok. Pribadi).
Pemateri, Ilham Baskoro, sewaktu berbagi tips kepada mahasiswa FIB untuk menguasai public speaking. (Foto: Dok. Pribadi).

UNAIR NEWS Kemampuan berbicara di depan umum bukanlah sekadar menyampaikan kata-kata semata, melainkan juga memperkenalkan ide dan gagasan dalam membentuk identitas diri yang kuat. Melalui program mentoring, Badan Semi Otonom (BSO) Lingkar Prestasi (Lipres) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak mahasiswa untuk mengasah soft skills bertemakan Speak Up, Level Up! Public Speaking with Life Balance. 

Berlangsung pada Minggu (11/5/2025) melalui Zoom Meeting, program mentoring itu berhasil menjadi ruang belajar mahasiswa FIB untuk latihan public speaking. Ketua Divisi Human Resources and Development (HRD), Gefira Nur Fatimah, dalam sambutannya, berharap agar mahasiswa mampu mengimplementasikan salah satu keterampilan dalam mendukung pengembangan diri secara akademik maupun organisasi. 

Pada kesempatan tersebut, mahasiswa mendapat pembekalan materi bersama Ilham Baskoro. Ia didapuk sebagai pemateri yang juga dikenal sebagai Duta FIB sekaligus mahasiswa fast-track pada S2 Magister Kajian Sastra dan Budaya. Baskoro, sapaan akrabnya, membuka sesi dengan mengajak mahasiswa memahami satu hal mendasar dalam public speaking

“Suara kamu adalah identitas kamu,” tuturnya. 

Menurut Baskoro, ketika seseorang mampu berbicara, aktif menyampaikan gagasan, dan merespons audiens dengan baik, menjadi cara paling mudah untuk dikenal maupun diingat banyak orang. “Kalau cuma diam, siapa yang akan tahu keilmuan dan kapasitas kita? Public speaking bukan hanya milik mereka yang ekstrovert. Yang introvert pun bisa belajar,” ungkapnya.

Tidak hanya persoalan teknis. Baskoro juga menguraikan tiga kunci utama agar komunikasi berjalan efektif. Menurutnya, seseorang harus memahami isi pesan yang disampaikan untuk audiens, mengenali tujuan atau alasan di baliknya, dan menyesuaikan cakapan dengan mitra tutur. Ia pun membagikan cerita dari rekam jejaknya sewaktu menghadiri forum internasional, yang mana ia harus berbicara di depan umum hingga kerap beradaptasi dengan bahasa serta konteks budaya yang berbeda.

Selama pemaparan materi, Baskoro membekali mahasiswa dengan berbagai tips praktis untuk terampil di depan publik, seperti cara menyusun struktur pembicaraan, presentasi yang menarik, serta menghindari kebiasaan filler seperti “aaa” atau “eee”. Adapun salah satu strategi yang ia tekankan adalah memperpanjang pelafalan kata dan memperlambat kecepatan bicara agar pesan dapat diterima dengan baik.

“Tidak perlu banyak membaca naskah, kita bisa gunakan poin-poin karena kadang kita butuh improvisasi. Jadi jangan terlalu kaku. Latihan dan jam terbang itu penting, tapi kesiapan menghadapi situasi mendadak juga tidak kalah krusial,” tambah Baskoro. 

Pada akhir, mahasiswa diajak untuk melakukan simulasi perkenalan diri dalam tiga kalimat. Latihan itu tidak hanya melatih keberanian, tetapi juga kejelasan pesan dalam waktu singkat. Baskoro mengingatkan bahwa public speaking bukanlah sekadar teknik, tetapi juga proses membangun koneksi, kepercayaan diri, hingga peluang karir. 

Dengan berani bersuara, sambungnya, mahasiswa bisa mengambil peran lebih besar dalam ruang-ruang akademik, organisasi, hingga dunia profesional. “Kunci percaya diri berbicara itu latihan intonasi, gestur, dan timing. Jangan lupa terus observasi dan refleksi,” tutupnya. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia