Estimasi usia gigi memegang peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk bidang forensik, kedokteran gigi anak, dan ortodonsia. Dalam bidang odontologi forensik, penentuan usia gigi sangat penting karena tingkat akurasinya yang tinggi dan kemudahan penggunaannya dalam memprediksi usia seseorang. Evaluasi tumbuh kembang gigi memberikan metode yang dapat diandalkan untuk memperkirakan usia kronologis seseorang. Selain itu, penentuan usia gigi memiliki signifikansi khusus dalam investigasi forensik karena memudahkan kategorisasi korban berdasarkan usia sehingga dapat mempersempit parameter pencarian korban.
Demirjian memperkenalkan metode skoring untuk estimasi usia gigi berdasarkan perkembangan gigi yang diamati melalui radiografi panoramik. Metode ini telah diteliti pada berbagai populasi yang berbeda serta menunjukkan tingkat ketepatan yang dapat diandalkan untuk memperkirakan usia seseorang. Namun, penting untuk menyesuaikan metode ini dengan populasi yang beragam untuk memastikan hasil yang akurat, karena skor maturasi gigi dapat bervariasi antar populasi. Demirjian mengembangkan metode untuk memperkirakan usia gigi dengan mengevaluasi tujuh gigi permanen tertentu pada rahang bawah kiri. Ketika gigi hilang pada rahang bawah kiri, gigi yang sesuai pada rahang bawah kanan digunakan sebagai penggantinya. Dibandingkan dengan radiografi intraoral, metode Demirjian menggunakan radiografi panoramik sebagai modalitas pencitraan yang disukai karena kepraktisannya, terutama untuk pasien anak-anak. Selain itu, radiografi panoramik menawarkan keuntungan paparan radiasi yang lebih rendah dan distorsi minimal, biasanya berkisar antara 3% hingga 10% pada rahang bawah kiri. Dampak distorsi ini dianggap tidak signifikan karena penilaian terutama mengandalkan bentuk gigi daripada ukurannya.
Demirjian menekankan pentingnya menyesuaikan metode estimasi usia gigi dengan populasi yang beragam untuk mencapai hasil yang akurat. Sebuah studi khusus menginvestigasi anak-anak dari Republik Makedonia Utara dan mengungkapkan overestimasi yang signifikan dari usia gigi dibandingkan dengan usia kronologis menggunakan skor kematangan. Selain itu, validitas metode Demirjian telah dievaluasi pada populasi lain, termasuk anak-anak Rumania dan sampel orang hidup Spanyol. Studi-studi ini menekankan pentingnya mengakui bahwa skor kematangan dapat berbeda dari usia kronologis dalam populasi yang berbeda, menunjukkan nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah. Akibatnya, metode alternatif mungkin lebih cocok untuk estimasi usia dalam populasi tertentu.
Surabaya terkenal dengan populasi yang beragam, termasuk komunitas Tionghoa. Dalam mempelajari perkembangan gigi, penting untuk mempertimbangkan dan menyelidiki variasi antar populasi yang berbeda. Faktor genetik secara dominan mempengaruhi variasi ini, yang menekankan pentingnya menggunakan sampel yang beragam untuk memahami pola perkembangan gigi secara komprehensif. Penelitian ini memiliki manfaat potensial dalam odontologi forensik dan mengisi kesenjangan penelitian yang signifikan dalam populasi Tionghoa.
Subjek dalam studi ini terdiri dari individu keturunan Tionghoa murni (Mongoloid) dan telah tinggal di Surabaya setidaknya selama dua generasi. Kriteria inklusi yang ketat ini penting untuk mempertimbangkan variasi yang potensial dalam pertumbuhan dan perkembangan yang diamati di antara populasi yang berbeda. Misalnya, telah didokumentasikan bahwa waktu erupsi gigi bervariasi antara individu keturunan Eropa dan Amerika Eropa (Caucasian) dibandingkan dengan individu keturunan Amerika Negro (Negroid) dan Amerika India (Mongoloid). Studi ini bertujuan untuk meminimalkan faktor pengacau dengan memilih populasi Tionghoa yang homogen dan memberikan wawasan terfokus tentang pertumbuhan dan perkembangan gigi dalam konteks Surabaya.
Temuan studi ini menunjukkan underestimasi usia secara keseluruhan dalam kelompok usia tertentu, berkisar dari -0,920 hingga -0,003 tahun. Terutama, overestimasi diamati khususnya dalam rentang usia 11,00 hingga 12,99 tahun, meskipun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Hasil ini juga mengungkapkan pola yang khas dalam menerapkan metode Demirjian, menunjukkan kecenderungan overestimasi usia pada pria dan underestimasi usia pada wanita. Perbedaan ini dapat diatribusikan kepada pengaruh yang signifikan dari jenis kelamin dalam proses pertumbuhan dan perkembangan secara keseluruhan, khususnya dalam hal erupsi gigi. Penelitian luas secara konsisten mendukung gagasan bahwa perempuan umumnya mengalami erupsi gigi lebih awal daripada laki-laki. Oleh karena itu, temuan kami menunjukkan bahwa faktor hormonal mungkin tidak secara signifikan memengaruhi hasil yang diperoleh dari metode Demirjian. Temuan ini kontras dengan penelitian sebelumnya yang mengusulkan hubungan antara perkembangan gigi dan lonjakan pertumbuhan, yang umumnya lebih terlihat pada laki-laki daripada pada perempuan. Interaksi rumit antara jenis kelamin dan faktor hormonal dalam perkembangan gigi menekankan pentingnya mempertimbangkan jenis kelamin sebagai variabel signifikan dalam studi yang menyelidiki pola erupsi gigi dan proses yang terkait.
Studi ini juga menyoroti variasi signifikan antara usia gigi dan usia kronologis dalam kelompok usia tertentu. Di antara kelompok-kelompok ini, kohort berusia 13 tahun menunjukkan kesalahan rata-rata absolut (MAE) tertinggi dengan nilai 1,82 tahun. Perbedaan yang diamati dalam usia gigi mengindikasikan percepatan kematangan gigi dalam kelompok usia tertentu ini. Percepatan ini dapat diatribusikan pada lonjakan pertumbuhan yang mengakibatkan peningkatan yang signifikan dalam usia gigi selama periode tertentu. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan mengalami lonjakan pertumbuhan ini lebih awal daripada laki-laki. Pada perempuan, lonjakan pertumbuhan pra-pubertas umumnya terjadi antara usia 10 dan 12 tahun, sedangkan pada laki-laki terjadi antara usia 12 dan 14 tahun. Selama periode ini, terdapat korelasi yang erat antara usia gigi dan perkembangan kerangka pada anak-anak berusia 12-14 tahun dari kedua jenis kelamin.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan
Diambil dari artikel jurnal berjudul: Unveiling dental age patterns in a Chinese population: A study in Surabaya using the Demirjian method
Artikel dapat diakses pada: https://doi.org/10.30574/wjarr.2023.19.1.1352





