Universitas Airlangga Official Website

Mikroplastik di Udara Indonesia: Ancaman Tak Terlihat yang Mulai Terungkap

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Selama bertahun-tahun, mikroplastik lebih sering dikaitkan dengan pencemaran laut. Kita mendengar berita tentang ikan yang menelan serpihan plastik atau pantai yang dipenuhi sampah plastik. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah lautan kita juga menghirupnya di udara setiap hari.

Mikroplastik udara adalah partikel plastik berukuran sangat kecil (sekitar 500–2000 µm) yang bisa melayang di atmosfer dan terbawa angin. Serpihan kecil ini dapat berasal dari: degradasi sampah plastik, aktivitas industri, ban kendaraan, serat pakaian sintetis yang dilepaskan saat mencuci atau mengeringkan pakaian. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini mudah masuk ke dalam sistem pernapasan manusia.

Sejauh mana penelitian mikroplastik udara di Indonesia?

Dibandingkan dengan negara lain, riset tentang mikroplastik udara di Indonesia masih sangat terbatas. Sebuah telaah literatur yang dilakukan dari 2019 hingga 2024 menemukan hanya 15 penelitian yang secara khusus meneliti keberadaan mikroplastik di udara Indonesia.

Namun, seluruh penelitian tersebut sepakat pada satu hal: mikroplastik memang ada di udara Indonesia.

Bentuk dan jenis mikroplastik yang ditemukan

Hasil kajian menunjukkan bahwa: serat (fiber) dan fragmen (fragment) adalah jenis mikroplastik yang paling sering ditemukan.

Ukurannya bervariasi dari sangat kecil hingga mendekati debu halus. Polimer yang paling umum adalah: PET (polyethylene terephthalate), biasanya berasal dari pakaian atau botol plastik, PE (polyethylene), polyester.

Temuan ini menunjukkan bahwa sumber utama kemungkinan berasal dari aktivitas manusia sehari-hari, seperti penggunaan pakaian sintetis, kegiatan laundry, hingga lalu lintas perkotaan.

Bagaimana dampaknya bagi kesehatan?

Ukuran mikroplastik yang sangat kecil membuatnya mirip dengan partikel polutan (PM2.5 atau PM10). Akibatnya: mudah terhirup, dapat masuk ke saluran pernapasan bagian dalam, berpotensi menyebabkan peradangan, dan berkontribusi pada penyakit tidak menular seperti asma, penyakit paru kronis, hingga gangguan kardiovaskular.

Beberapa riset internasional juga menunjukkan bahwa mikroplastik dapat membawa bahan kimia berbahaya atau mikroorganisme yang menempel di permukaannya.

Karena belum ada standar atau ambang batas aman mikroplastik udara, terutama untuk paparan jangka panjang, Indonesia perlu: meningkatkan jumlah penelitian tentang mikroplastik udara dan mengembangkan metode pemantauan yang seragam agar data antar wilayah dapat dibandingkan. menetapkan nilai ambang batas untuk konsentrasi mikroplastik, baik di ruang luar maupun di dalam ruangan, mengurangi sumber mikroplastik, termasuk penggunaan plastik sekali pakai dan pelepasan serat pakaian sintetis.

Meskipun belum sepopuler isu mikroplastik di laut, bukti ilmiah menunjukkan bahwa mikroplastik di udara Indonesia sudah nyata dan dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Dengan semakin banyak penelitian dan upaya pengendalian, kita dapat lebih memahami serta mengurangi paparan polutan tak kasat mata ini.

Penulis: Kusuma S. Lestari

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-method-occurrence-health-risk-and-prevention-of-airborne-micr/fingerprints/