UNAIR NEWS – Puluhan mahasiswa dan masyarakat umum memadati Bima Suci Theater, Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C pada Jumat (28/11/2025). Mereka menghadiri Exhibitions and Talkshow “Invisible Threat of Microplastics”, kolaborasi antara Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) dan SDGs Center Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Ecoton Foundation serta Greenpeace Indonesia. Acara ini mengungkap bahaya mikroplastik yang kian mengancam kesehatan manusia.
Krisis Mikroplastik yang Mengancam
Ketua LPMB UNAIR, Prof Herry Purnobasuki Drs MSi PhD, menegaskan bahwa persoalan mikroplastik telah memasuki fase krisis. Sebagai pemantik awal, ia menyoroti fenomena air minum dalam kemasan yang kini tidak lagi jelas kandungan mineralnya. “Air yang kita minum kebanyakan dalam kemasan plastik. Dulu disebut air mineral dalam kemasan karena mengandung mineral. Sekarang namanya air minum dalam kemasan, maka patut dipertanyakan kandungannya,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Karenanya, ia mendorong kebiasaan membawa tumbler dan alat makan pribadi sebagai langkah sederhana pengurangan plastik. “Kami dari lembaga penelitian masyarakat berkelanjutan berupaya untuk turut serta berperan aktif dalam menyampaikan dan menanggulangi bahaya mikroplastik bagi kehidupan,” tegasnya.
Temuan Berbagai Jenis Mikroplastik
Pendiri Ecoton Foundation, Prigi Arisandi, turut mengungkap temuan mencengangkan. “Mikroplastik kini tidak hanya ditemukan di air dan tanah, tetapi juga di udara dan air hujan, termasuk di Surabaya yang akibat pembakaran sampah plastik,” jelas alumnus FST UNAIR itu.
Ia menyebut mikroplastik hadir dalam berbagai jenis seperti fiber, fragmen, pellet, film, hingga foam. “Yang lebih memprihatinkan adalah jenis microbeads, bahan tersebut terdapat dalam sabun, lulur, dan pasta gigi yang kita pakai sehari-hari,” tambah Prigi. Penelitian yang telah dilakukan Ecoton bahkan menemukan mikroplastik dalam urin pekerja sampah perempuan. Termasuk kandungan BPA yang biasa ditemukan pada botol plastik dan kaleng makanan.
Sebabkan Gangguan Kognitif
Senada dengan itu, Afifah Rahmi Andini, peneliti Greenpeace Indonesia, memaparkan hasil riset bersama sejumlah fakultas kedokteran. Dari 67 partisipan di Jabodetabek, mikroplastik terdeteksi dalam darah, urin, dan feses manusia, dengan PET sebagai polimer yang paling banyak ditemukan. “Subjek dengan konsumsi tinggi memiliki risiko 36 kali lebih besar mengalami gangguan kognitif,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa mikroplastik masuk melalui mulut, kulit, hingga peredaran darah manusia.
Afifah juga menyampaikan rekomendasi tegas. Ia menekankan perlunya percepatan larangan plastik sekali pakai, transisi ke kemasan guna ulang, serta penetapan standar pengujian mikroplastik. “Kita negara tropis, plastik cepat terurai menjadi mikroplastik, tetapi mitigasi kita justru tertinggal,” ujarnya.
Pihaknya menekankan perlunya tanggung jawab produsen dan mendorong industri untuk mengurangi plastik sekali pakai, transparan terkait material produk, serta berinvestasi dalam teknologi penyaringan. “Masyarakat juga harus mengurangi penggunaan plastik, mulai memilah sampah, dan meningkatkan kesadaran atas bahaya yang ditimbulkannya,” tutup Afifah.
Penulis: Panca Ezza Aisal Saputra
Editor: Yulia Rohmawati





