UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tuan rumah Seminar Kebangsaan MPR Goes to Campus bertajuk Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim. Seminar ini berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Universitas Airlangga pada Rabu (19/03/2025).
Acara ini menghadirkan Wakil Ketua MPR RI, Dr Eddy Soeparno SH MH bersama Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development UNAIR, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi sebagai pemateri. Rektor UNAIR, Prof Dr Mohammad Nasih MT Ak CA juga turut hadir untuk memberikan sambutan.
Tertinggal dalam Transisi Energi
Dalam paparannya, Eddy menekankan urgensi transisi energi dari fosil ke energi terbarukan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah mempunyai komitmen untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060. Ini sesuai dengan ratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016.
Namun, realisasi bauran energi terbarukan masih jauh dari target. Hingga akhir 2024, bauran energi terbarukan baru mencapai 14%, sedangkan target awal pada 2025 adalah 23%. Oleh karena itu, pemerintah bersama DPR telah menyesuaikan target menjadi 17 hingga 19% pada tahun ini. “Jika kita tidak mempercepat transisi energi, maka kita akan semakin tertinggal dibanding negara lain yang sudah lebih dulu beralih ke energi bersih,” ujar Eddy.
Ketergantungan pada Impor
Eddy juga menjelaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam ketahanan energi. Meskipun memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin, ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil masih tinggi. “Setiap hari, kita mengimpor 1 juta barel minyak mentah dengan nilai sekitar 70 juta dolar AS. Jika dikalikan 365 hari, angkanya sangat besar dan berdampak pada defisit anggaran negara,” ungkapnya.
Melihat kondisi ini, Eddy menegaskan bahwa ketahanan energi menjadi isu strategis yang harus segera pemerintah tangani untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. “Ketahanan energi adalah kunci bagi kemandirian bangsa. Jika kita terus bergantung pada impor, maka kita akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap gejolak global,” tegasnya.
Strategi
Lebih lanjut, Eddy memaparkan strategi konkret dalam mempercepat transisi energi. Salah satu langkah utama adalah elektrifikasi sektor transportasi dan industri. Kendaraan listrik, baik pribadi maupun transportasi umum, harus pemerintah perbanyak agar konsumsi bahan bakar fosil mengurang secara signifikan. Selain itu, memperluas elektrifikasi di rumah tangga juga perlu, dengan mengganti LPG tiga kilogram dengan kompor induksi serta memperluas jaringan gas rumah tangga. “Kita harus mendorong adopsi kendaraan listrik dan energi bersih agar Indonesia bisa mencapai target bauran energi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah juga terus berupaya meningkatan kualitas bahan bakar dengan memperkenalkan Pertalite Green yang mengandung campuran biofuel 10%. Ke depan, penggunaan biofuel dalam sektor penerbangan juga akan terus pemerintah tingkatkan melalui Sustainable Aviation Fuel. Eddy menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar opsi, tetapi sebuah keharusan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan menjaga ketahanan energi nasional.
Penulis: Ameyliarti Bunga Lestari
Editor: Edwin Fatahuddin





