n

Universitas Airlangga Official Website

Muhammad Reza Ingin Buktikan pada Orang Tua

Mawapres
Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo bersama Muhammad Reza. (Foto: Sefya Hayu)

UNAIR NEWS – Jawara ajang pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 2017  Muhammad Reza A sempat dilanda kegalauan selama berhari-hari usai mengikuti proses seleksi. Ia berharap dapat mengulang keberhasilannya lolos di tingkat universitas, dan berjuang hingga ke level nasional.

Impian Reza akhirnya terwujud. Pria kelahiran Blitar 29 Maret 1996 akan mewakili FK UNAIR berlaga dalam ajang PILMAPRES tingkat universitas yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Kemenangan PILMAPRES tahun ini adalah kemenangan ke dua baginya. Kemenangan pertama adalah jawara PILMAPRES tingkat universitas untuk kategori semester III tahun 2016.

“Sesuai dengan ketentuan DIKTI pada waktu itu, akhirnya yang berangkat berlaga ke tingkat nasional adalah pemenang PILMAPRES UNAIR yang semester V,” ungkapnya.

Sejak semester II, Reza aktif mengikuti berbagai kompetisi karya tulis ilmiah, baik di level nasional maupun internasional. Dengan pengalaman yang dimiliki, Reza sering diundang menjadi pemateri di berbagai acara pelatihan karya tulis ilmiah.

“Awal semester saya giat ikut lomba. Hampir setiap minggu berangkat lomba, lama-lama capek sendiri,” tuturnya.

Reza adalah mahasiswa semester V program pendidikan S1 kedokteran FK UNAIR dengan segudang prestasi. Beberapa prestasi diantaranya pernah memenangkan Best Article pada ajang The 14th Indonesia International (bio) Medical Student Congress, juara I lomba karya tulis ilmiah sebanyak lima kali, dan mengantongi sertifikat Training of Trainer (TOT)  Profesional and Research Exchange Training in Taiwan.

Berpeluang mengikuti berbagai kompetisi di dalam dan luar negeri adalah hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kesempatan ini adalah bagian dari fasilitas beasiswa yang diperolehnya. Melalui beasiswa itu, Reza dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengejar banyak pengalaman.

Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak SMA, walaupun impiannya sempat terhalau oleh restu kedua orang tua.

“Kuliah kedokteran kan terkenal mahal, bapak  dan ibu sempat melarang saya. karena faktor keuangan,” paparnya.

Faktor keuangan sempat membuat orang tua Reza ciut nyali. Mustahil rasanya bisa membiayai kuliah si anak mbarep, sementara penghasilan orang tua sebagai sopir truk dan peternak ayam petelor terbilang pas-pasan.

Keinginan berkuliah di fakultas kedokteran juga sempat mendapat cibiran dari keluarga besarnya di Desa Kunir Kecamatan Wonodadi, Blitar. Namun itu semua tak membuatnya menyerah. Reza tetap gigih mempertahankan mimpinya dan berupaya mencari jalan keluar. Alhasil, Reza berhasil mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan minyak asal Thailand.

“Saya bersyukur karena dengan beasiswa ini dapat meringankan beban orang tua,” ungkapnya.

Setelah berhasil mendapat beasiswa dan berulang kali menang di berbagai ajang perlombaan, hati orang tua berangsur-angsur luluh.

“Bapak ibu sudah tidak lagi skeptis seperti dulu, sekarang mereka sudah bisa menerima dan bangga,” imbuhnya.

Reza memendam keinginan suatu saat nanti bisa mengajak kedua orang tuanya datang ke Surabaya. “Saya ingin sekali waktu bisa mengajak bapak ibu datang ke Surabaya. Saya ingin perlihatkan kampus tempat saya menimba ilmu. Kemenangan ini untuk mereka,” pungkas Reza.

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor  : Nuri Hermawan