Universitas Airlangga Official Website

Napak Tilas Perjuangan Alumnus UNAIR Saat Tangani Krisis Covid-19

Muhammad Arifin membuat lomba dengan pasien Covid-19
Muhammad Arifin membuat lomba dengan pasien Covid-19 (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Kolonel Laut (K) Muhammad Arifin, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1993, menjadi salah satu figur kunci di garda terdepan kesehatan militer ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Konsistensi dan ketegasan sikapnya mengantarkannya memimpin sejumlah penugasan strategis di masa krisis tersebut.

Pada awal pandemi tahun 2020, saat itu Arifin menjabat sebagai Komandan Batalyon Kesehatan 1 Marinir. Ia menjelaskan bahwa satuan batalyonnya menjadi salah satu yang memiliki Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sesuai standar institusi kesehatan militer di lingkungan TNI. Kondisi tersebut membuat batalyonnya ditunjuk sebagai garda terdepan dalam penanganan awal kedatangan WNI dari daerah terpapar.

Berangkat dari itu, ia bersama tim berangkat ke Pulau Natuna untuk melaksanakan tugas karantina WNI bagi yang kembali dari Wuhan. “Itu kita yang pertama kali, situasinya sangat mencekam. Artinya kita menerima orang yang dari Wuhan dengan status yang belum diketahui. Itulah tantangan yang luar biasa pertama kali satgas penanganan karantina di Natuna,” tambahnya. 

Usai bertugas di Natuna, Arifin kembali bergerak menuju Pulau Sebaru, pulau paling ujung di Kepulauan Seribu. Di lokasi itu, ia juga melakukan karantina anak buah kapal pesiar World Dream dari Jepang sebanyak 68 orang 1 positif dan Kapal Diamond Princess dari Filipina.

Muhammad Arifin alumnus FKG UNAIR saat jadi Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet
Muhammad Arifin alumnus FKG UNAIR saat jadi Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet (Foto: Dok. Narasumber)

Lebih lanjut, pria asal Karanganyar tersebut mengatakan bahwa pengalamannya menangani wabah corona di Natuna dan Sebaru membuatnya ditunjuk menjadi Komandan Lapangan Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Pada masa itu, RSDC  menjadi rumah sakit terbesar di dunia yang menerima pasien dengan jumlah ribuan.

“Banyak pesan dan kesan yang saya dapat karena ribuan pasien datang dengan kondisi terpapar COVID-19. Sebagai komandan lapangan saya berusaha menyatu dengan mereka. Saya mengadakan beberapa kegiatan agar pasien tidak takut,” ujarnya.

Sebagai komandan lapangan, Arifin menyebut tim tersebut dengan sebutan Tim Cobra yang terkenal dengan jargon “Pantang Pulang sebelum Corona Tumbang’. Tim tersebut berhadapan dengan tingginya jumlah pasien hingga antrean panjang di IGD. Ia memastikan proses penanganan berjalan cepat dan tetap memperhatikan kondisi psikologis pasien

Dalam situasi penuh tekanan tersebut, Arifin pernah terkonfirmasi positif COVID-19. Namun, ia tetap mendampingi pasien di area red zone tanpa menggunakan APD lengkap. “Kami membuat lomba antar-tower untuk mengurangi kecemasan mereka. Jumlah pasien saat itu mencapai 12.000 orang, satu tower bisa berisi sekitar 3.000 pasien. Termasuk saat Hari Ibu, kami manfaatkan momen itu untuk memberi hiburan,” jelasnya.

Kini, setelah menyelesaikan tugasnya di RSDC Wisma Atlet dan resmi ditutup, Arifin kembali ke kesatuan militer dan menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Marinir Cilandak.

Penulis: Adinda Octavia Setiowati

Editor: Yulia Rohmawati