UNAIR NEWS – Nely Suwidyanti merupakan penyandang disabilitas cerebral palsy. Nely, panggilan akrabnya, merupakan alumnus Program Sarjana Statistika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dan Program Magister Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga (UNAIR).
Dengan keteguhan, semangat, serta dukungan dari lingkungan sekitar, ia mampu menuntaskan S2 dalam waktu satu setengah tahun dengan nilai yang memuaskan. Semangat belajarnya tidak pernah luntur, seusai menuntaskan jenjang magister, Nely juga sedang mempersiapkan pendidikan lanjutannya di jenjang doktor Ilmu Sosial FISIP UNAIR. Cita-citanya sebagai seorang dosen yang mampu memberikan inspirasi, menjadi pelecut semangatnya untuk terus belajar.
Terlahir Prematur Kembar Tiga
Nely merupakan wanita yang dilahirkan dari pasangan ayah yang berprofesi sebagai prajurit TNI-AL dan ibu yang berprofesi seorang guru. Ia terlahir prematur di usia kandungan 5 bulan 10 hari pada tanggal 22 Maret 1996. Ketika itu, sang ibunda memang sedang hamil dengan kondisi kembar tiga, Nely salah satunya. Akan tetapi, dari ketiga saudara kembar, hanya Nely yang mampu bertahan.
“Penyebab cerebral palsy ini karena kekurangan oksigen. Karena kan kita ini bertiga ya di dalam kandungan. Tetapi kedua kembaran saya ini meninggal, jadi hanya tersisa saya sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan jika cerebral palsy sebenarnya sudah bisa terdeteksi ketika di kandungan, namun baru akan terlihat efeknya ketika dalam masa tumbuh kembang. Anak yang terserang cerebral palsy biasanya akan mengalami proses pertumbuhan yang sangat lambat. Sebagai contoh, Nely baru bisa mengangkat kepala di usia tiga tahun, padahal secara normal, bayi umur tiga bulan seharusnya sudah bisa melakukan hal tersebut.
Menurutnya, hingga saat ini, cerebral palsy memang belum bisa disembuhkan secara total, akan tetapi, upaya pengurangan dampak yang dihasilkan serta meingkatkan kemandirian penyintas cerebral palsy dapat dilakukan. Salah satu yang ia rasakan ialah ketidakmampuannya untuk mengendalikan motorik secara sempurna.
“Saya ini bisa berjalan, cuman tidak bisa berhenti. Jadi saya akan berhenti kalau ada yang menahan. Kalau tidak ada yang menahan, saya bisa jalan terus dan ngga peduli di depan itu ada apa,” terangnya.
Tidak Pernah Berlajar Di SLB
Akan tetapi, dengan keterbatasan yang dimiliki, Nely justru tidak pernah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Ia tetap menempuh pendidikan di sekolah umum. Tercatat, ia juga merupakan alumnus dari SMAN 10 Surabaya, SMP Hangtuah 2 Surabaya, dan SDN Kedurus IV/431 Surabaya. Ia bercerita bahwa dulu dirinya juga pernah ingin dimasukan ke SLB, akan tetapi sang guru di SLB tersebut memberikan saran agar Nely disekolahkan di sekolah umum agar kemampuannya bisa berkembang.
“Saya itu ingin sekolah karena melihat film Pertualangan Sherina. Kayaknya di film itu, sekolah itu asik, nyanyi-nyanyi gitu, kan,” kelakarnya.
Akan tetapi, walaupun Nely memiliki potensi, sebagai seorang difabel, ocehan orang lain yang merujuk pada perundungan kerap ia alami. Tidak hanya di masa kecil, bahkan ketika sudah lulus sarjana hingga berpendidikan magister pun ocehan itu masih dialami. Ia bercerita bahwa tidak jarang dirinya mendengar olok-olokan bahwa Nely bisa berkuliah karena belas kasian dosen saja, bukan karena prestasi dan kegigihannya.
“Saya berprinsip, semakin saya di-bully, saya harus semakin membuktikan kalau saya itu bisa. Yang penting kalau kita punya tujuan, omongan orang lain tidak perlu di dengerin,” tambahnya.
Bersahabat dengan Relawan AIL
Dengan semangatnya dalam belajar itulah yang akhirnya menuntunnya untuk tetap lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi, yaitu berkuliah. Selain itu, dukungan orang tua yang terus memberikanya dorongan tanpa pernah mengecilkan juga menjadi lecutan utamanya. Sejak SMA, Nely memang sudah suka dengan pelajaran eksakta, termasuk hitung-hitungan. Hal itu pula lah yang menginspirasinya untuk masuk ke jurusan statistika UNAIR.
Nely menuturkan dalam prosesnya berkuliah, sejak semester 6, dia selalu di bantu oleh relawan dari Airlangga Inclusive Learning (AIL). AIL merupakan salah satu tempat yang dibentuk oleh UNAIR untuk memfasilitasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (MBK) yang ada di UNAIR.
Terang Nely, relawan AIL yang membantunya bahkan sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Ia selalu dibantu ketika kesulitan, khusunya perihal kebutuhan perkuliahan.
“Kadang kan dosen itu kalau ngomong cepet ya, dan saya itu ngga bisa nulis atau ngetik cepet. Biasanya, saya minta tolong ke relawan untuk membantu saya nulis, atau memfotokan materi catatan dosen,” jelasnya.
Berada di Lingkungan yang Baik
Setelah menuntaskan pembelajaran sarjana statistika pada tahun 2021, ia melanjutkan studi magister di program studi Kebijakan Publik FISIP UNAIR. Bagi Nely, ia merasa sangat dihargai sebagai seorang difabel. Hal itu tidak hanya ia rasakan dari teman sesama mahasiswa, perasaan yang sama pun dia dapatkan dari dosen pengajar yang begitu perhatian dan membimbing. “Kalau saya belum masuk kelas, di grup itu sudah ramai. Pada nanyain mbak Nely kemana kok belum masuk kelas,” katanya.
Pada momen S2, ia terus memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya dari lingkungan sekitar. Dan untuk beberapa momen, dengan keterbatasan yang ia miliki, dosen dan teman-temannya pun dapat memahami hal tersebut, salah satunya perihal deadline tugas. Nely memang tidak bisa mengetik atau menulis dengan cepat, sehingga ia membutuhkan waktu lebih lama untuk menuntaskan sebuah tugas.
Menurutnya, dalam melakukan suatu kegiatan, tidak hanya perlu semangat juang, melainkan juga lingkungan yang baik. Karena dengan lingkungan tersebutlah berbagai energi positif akan memancar untuk kita.
Kedepan, ia berharap untuk bisa menginspirasi serta memperjuangkan hak-hak kaum difabel untuk bisa mendapatkan hak yang setara serta fasilitas yang memadai. Menurutnya, ada banyak yang belum seberuntung ia. Oleh karena itu, anugerah yang ia miliki menjadi tanggung jawabnya pula untuk memberikan yang terbaik, khususnya perjuangan kaum difabel.
“Anak berkebutuhan khusus itu tidak bisa kita samaratakan dengan anak regular lainnya. Pasti kita memiliki keterbatasan yang harus kita berikan kelonggaran. Kasus setiap anak difabel itu beda-beda, sehingga penanganannya pun berbeda,” pesannya.
Penulis: Afrizal Naufal Ghani
Editor: Nuri Hermawan





