Universitas Airlangga Official Website

Neuroproteksi Kurkumin sebagai Prevensi dan Remedi Neuropati Perifer yang disebabkan Kemoterapi

Ilustrasi kemoterapi (foto: dok istimewa)

Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya pertumbuhan masif sel yang tidak terkontrol di dalam tubuh. Kanker ini menjadi salah satu penyakit yang banyak merenggut nyawa manusia. Sampai saat ini terdapat beberapa pilihan terapi yang digunakan untuk terapi kanker. Salah satunya adalah kemoterapi dengan obat pembunuh sel kanker. Namun sayangnya terdapat efek samping yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup dari pasien penderita kanker. Salah satu efek samping yang paling terkenal yaitu adanya efek samping neuropati perifer. Neuropati perifer ini mengganggu persinyalan/transmisi rasa sentuhan, nyeri, panas dan dingin yang dirasakan manusia. Pasien yang mengalami efek samping ini biasanya mengeluhkan adanya sensitivitas rasa nyeri yang teramat hebat, baik allodynia yakni meningkatnya respon nyeri pada stimulus non-nyeri maupun hiperalgesia yakni menurunnya ambang nyeri. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien penderita kanker yang menjalani kemoterapi dan menyebabkan pasien menghentikan terapi sehingga pengobatan menjadi terhambat. 

Untuk dapat mengatasi masalah tersebut, beberapa penelitian telah dilakukan oleh peneliti di berbagai belahan dunia. Tujuannya adalah melakukan proteksi terhadap persyarafan perifer sehingga menghindarkan dampak kerusakan syaraf oleh agen kemoterapi. Salah satunya adalah penelitian oleh Aliya dkk., tahun 2024 yang mendemonstrasikan potensi kurkumin dalam mengurangi dampak neuropati perifer pasca administrasi agen kemoterapi yaitu oxaliplatin. Penelitian preklinik tersebut menunjukkan bahwa terapi oxaliplatin secara berulang memberikan efek neuropati perifer yang sangat masif pada hewan coba. Lebih lanjut, efek samping dari oxaliplatin ini tetap tidak membaik walaupun terapi oxaliplatin dihentikan. Hal ini mengindikasikan progresifitas kerusakan syaraf perifer dapat berlanjut pasca siklus kemoterapi dihentikan. Untuk itu, sangat diperlukannya strategi terapi inovatif dalam meminimalisir dampak paparan awal kemoterapi dan efek lanjutnya pada syaraf. Pada penelitian Aliya dkk, terapi kurkumin pasca siklus oxaliplatin pada hewan coba mampu memperbaiki efek samping neuropati perifer oxaliplatin yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya ambang nyeri dengan uji Von frey filament. Von frey filament adalah metode uji ambang nyeri dengan stimulus mekanik yang digunakan tidak hanya pada hewan coba eksperimental namun secara klinik pada manusia. Efek ini bahkan semakin baik walaupun periode pemberian kurkumin sudah dihentikan. Ada beberapa kemungkinan yang mendasari fenomena ini diantaranya peningkatan respon nyeri pasca siklus kemoterapi dapat terjadi dikarenakan aktivasi mikroglia dalam menjalankan respon inflamasi. mikroglia merupakan sel penyangga di lingkungan persyarafan yang memainkan peran sebagai sel imun dan dapat mempengaruhi persinyalan syaraf pada kondisi-kondisi tertentu. Dalam hal terjadi neuroinflamasi, sistem penghantaran nyeri baik mulai pada neuron sensori, dorsal root ganglia, spinal cord hingga otak, dapat mengalami sensitasi dan desensitasi yang dipengaruhi perubahan molekular pada sel syaraf. Karenanya, perbaikan ambang nyeri yang diinduksi kurkumin dapat dimungkinkan oleh efek kurkumin pada perubahan seluler dan molekuler pada sistem persyarafan termasuk spinal cord.

Aliya dkk menyelidiki lebih lanjut dengan mengidentifikasi jalur persinyalan molekuler yang bertanggungjawab pada efek samping oxaliplatin maupun efek terapi kurkumin. Pada kasus neuropati perifer, spinal cord merupakan bagian dari sistem persyarafan yang dikenal berperan penting dalam transmisi nyeri. Pada peneltian tersebut, ditemukan bahwa oxaliplatin menyebabkan disrupsi pada jalur melanocortin dan tansient receptor potential ankyrin 1 (Trpa1). Lebih lanjut, terapi kurkumin mampu memperbaiki penurunan regulasi melanokortin, tetapi tidak dengan Trpa1 di spinal cord pasca administrasi oxaliplatin. 

Penelitian oleh Aliya dkk., 2024 ini memberikan perspektif baru mengenai penanganan efek samping kemoterapi oxaliplatin. Korelasi antara perubahan efek neuropati perifer dan perubahan persinyalan yang terdapat pada penelitian ini memperkuat potensi penggunaan kurkumin dalam terapi neuropati perifer. Selain itu, investigasi jalur persinyalan membantu memberikan tambahan wawasan yang dapat memfasilitasi kemajuan strategi terapi berbasis target molekuler tertentu dalam kasus neuropati perifer akibat kemoterapi. Penelitian ini diharapkan mampu membantu menemukan solusi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien penderita kanker.

Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt

Berdasarkan publikasi Aliya et al, 2024 pada Research Results in Pharmacology Volume 10, Issue 3, halaman 53-59.