
Surabaya, Merajut Kota Kreatif dari Kolaborasi Hingga Literasi
Sebagai individu yang tumbuh di tengah arus perubahan zaman, saya menyadari bahwa transformasi sebuah kota dari basis industri menuju kota kreatif yang berkelanjutan bukanlah proses

Sebagai individu yang tumbuh di tengah arus perubahan zaman, saya menyadari bahwa transformasi sebuah kota dari basis industri menuju kota kreatif yang berkelanjutan bukanlah proses

Dari kampus Universitas Airlangga (UNAIR), para akademisi berkumpul secara hybrid, bukan untuk berdebat teori semata, melainkan untuk mengurai tantangan global dan mencari solusi yang relevan.

Kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi kini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan kompetensi esensial yang menentukan keberhasilan di dunia profesional. Menyoroti pentingnya keahlian tersebut, Executive Learning Hub

Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, menjajaki kerja sama strategis dalam sebuah pertemuan hangat di Gedung Putih Sekolah Pascasarjana UNAIR,

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggandeng akademisi Universitas Airlangga (UNAIR) untuk mengkaji efektivitas kerja sama internasional di bidang lingkungan hidup. Pertemuan

Jawa Timur, provinsi dengan kekayaan alam yang melimpah, juga menyimpan tantangan besar berupa kerentanan terhadap bencana. Selama lima tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah

Buku Discover Disaster: The Chief Series, Khofifah Indar Parawansa karya jurnalis TIMES Indonesia, Lely Yuana, resmi diluncurkan pada 25 Agustus 2025 di Surabaya Suites Hotel.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kunci penting dalam transformasi kota menuju konsep smart city. Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat tantangan besar, terutama

Pancasila kerap dianggap hanya sebatas jargon politik, padahal sejatinya ia merupakan substansi ajaran luhur yang menjadi fondasi bangsa. Prof. Dr. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., Wakil