UNAIR NEWS – Semua hal serasa mustahil awalnya bila tidak dicoba atau dilakukan. Prinsip itulah yang selalu menjadi pedoman dalam perjalanan karir Ni Putu Intan Sawitri Wirayani, S.Farm., Apt. Alumnus yang akrab disapa Intan itu merupakan jebolan Fakultas Farmasi UNAIR angkatan 2009.
Meski sudah menjadi alumni, tekad Intan dalam membawa nama baik almamater terus dilakukan. Salah satunya dengan raihan Juara I dan Favorit Lomba Siaran Radio yang diselenggarakan oleh Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia pada beberapa waktu lalu. Dari raihan itu, ia pun mendapat tiket untuk langsung menjadi Sobat Siar (SS) tetap (panggilan bagi penyiar Radio PPI Dunia, red).
Disaring menjadi delapan besar, Intan mulanya mengirimkan rekaman suara selama tiga menit. Setelah itu, barulah ada ketentuan untuk mengirimkan rekaman suara kedua dengan durasi dua menit dan dengan tema yang sudah ditentukan serta wajib disertai backsound. Tidak berhenti di sana, menjadi tiga besar ternyata memiliki tantangannya sendiri.
“Untuk final, saya beserta dua rekan yang lain harus siaran secara live di mana kesempatan itu dapat didengar oleh siapapun di belahan dunia manapun entah itu pagi, siang, sore, dan malam,” jelasnya. “Untuk juri, ada public speaking & broadcasting trainer serta penyiar radio kondang dari Bandung dan Surabaya yang sedang berkuliah di luar negeri,” imbuh putri dari Ketua Program Studi S2 Ilmu Linguistik UNAIR itu..
Intan yang sering diminta ataupun ditunjuk menjadi MC sejak kuliah, meyakini bahwa apa yang ia dapatkan sekarang adalah hasil dari ‘believing is seeing’ atau prinsip bahwa ucapan adalah doa. Sebelumnya, saat berkesempatan menjadi MC event persiapan keberangkatan para penerima beasiswa, beberapa kawan datang padanya hanya untuk memastikan apakah ia adalah seorang penyiar radio.
“Doakan saja ya, sebentar lagi Intan jadi penyiar Radio PPI Dunia, biar dimanapun teman-teman bisa dengar suara Intan,” jawabnya santai. “Siapa sangka, Tuhan menyatakan ucapan saya tersebut dua bulan kemudian,” tambahnya.
Hal yang sama terkait dengan believing is seeing sudah seperti motto hidupnya, adalah saat Intan menjadi Juara II Mahasiswa Berprestasi UNAIR 2012 lalu. Uniknya, Intan sudah menempel tulisan di dinding kamar bahwa ia akan menjadi mawapres jauh sebelum ia tahu apa itu mawapres, mungkin saat PPKMB. Baru-baru ini, Intan berhasil mendapatkan beasiswa LPDP untuk berkuliah di Wageningen University, Belanda.
“Tidak perlu ditanya, pencapaian ini pun sudah ada di bucket lists saya beberapa tahun ke belakang, walaupun prosesnya mungkin tidak semulus itu, jelas ada jatah gagal yang harus dihabiskan terlebih dahulu,” paparnya.
Selagi menunggu masa kuliah, Intan aktif dalam social projects seperti membuat taman baca, mengajar anak jalanan, menginisiasi kegiatan berbagi, hingga menjadi relawan di Kelas Inspirasi Surabaya. Selain itu, Intan juga terlibat dalam proyek mencari data penelitian dan menerjemahkan artikel ke bahasa Inggris.
“Sekarang untuk mengisi waktu sebelum berangkat S2 ke Belanda, saya bergiat di komunitas kelas inspirasi. Hal ini menjadi sebuah kegiatan ke sekolah dasar pinggiran untuk memberi motivasi agar mereka punya pandangan ke depan mau jadi apa,” pungkasnya.
Penulis: Rolista Dwi Otaviani
Editor: Nuri Hermawan





