Gagal jantung adalah salah satu penyakit kronis paling berat yang diderita jutaan orang di seluruh dunia. Menurut data global, lebih dari 64 juta orang hidup dengan gagal jantung, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang besar. Jumlah penderita yang semakin bertambah dari tahun ke tahun menjadikan penyakit gagal jantung menjadi salah satu beban kesehatan negara. Dengan penyebab yang multifaktorial dan berjalan secara kronis, kondisi menyebabkan jantung tidak lagi mampu memompa darah secara optimal, sehingga tubuh kekurangan suplai oksigen. Kurangnya oksigen sebagai bahan bakar utama atau metabolisme di seluruh tubuh menjadikan tubuh sering kali seperti mudah lelah, sesak napas, kaki bengkak, hingga sering keluar masuk rumah sakit. Menurut data global, lebih dari 64 juta orang hidup dengan gagal jantung, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang besar.
Di Indonesia sendiri, laporan Riskesdas 2018 mencatat prevalensi gagal jantung sekitar 1,5 persen. Angka ini tampak kecil, tetapi bila dikonversi berarti puluhan ribu orang Indonesia mengalami kondisi ini. Bebannya tidak hanya pada pasien dan keluarga, tetapi juga pada biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mencari terapi baru yang lebih efektif dari obat standar seperti beta-blocker, ACE inhibitor, atau ARB. Pilihan terapi yang ada saat ini mungkin sering dianggap masih kurang memuaskan, sehingga inovasi dan alterntif obat baru sangat diperlukan untuk mengurangi beban ini. Salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah Vericiguat, obat oral yang bekerja dengan cara menstimulasi enzim bernama soluble guanylate cyclase (sGC). Enzim ini berperan dalam menjaga kelenturan pembuluh darah dan mengoptimalkan fungsi jantung. Secara teori, Vericiguat dapat mengurangi risiko kekambuhan dan memperbaiki kualitas hidup pasien gagal jantung.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah Vericiguat benar-benar efektif? Analisis ini menggabungkan data dari empat uji klinis besar dengan total lebih dari 3.500 pasien gagal jantung. Hasilnya cukup mengecewakan:
- Tidak ada penurunan yang bermakna dalam angka kematian akibat penyakit jantung.
- Tidak ada perbedaan signifikan dalam jumlah pasien yang harus kembali dirawat di rumah sakit.
- Dari sisi keamanan, Vericiguat dinilai aman, dengan efek samping ringan seperti pusing atau tekanan darah rendah yang tidak lebih buruk dibandingkan plasebo.
Hasil temuan ini, menunjukan meski obat ini aman digunakan, bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa Vericiguat belum memberikan manfaat besar dalam mengurangi risiko kematian maupun angka rawat inap pada pasien gagal jantung.
Bagi penderita gagal jantung, hasil penelitian ini bisa terasa mengecewakan. Namun, bukan berarti penelitian tentang Vericiguat berhenti di sini. Ada kemungkinan obat ini akan lebih bermanfaat bila dipadukan dengan terapi lain atau diberikan pada kelompok pasien tertentu. Dunia medis masih membutuhkan uji klinis dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk benar-benar memahami potensi obat ini.
Harapan yang masih terbuka
Meski Vericiguat belum terbukti sebagai “game changer”, kehadirannya tetap memberi harapan. Setiap penelitian baru membawa kita selangkah lebih dekat pada tujuan utama: memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung. Untuk saat ini, pasien tetap disarankan menjalani terapi standar yang sudah terbukti efektif, sambil menantikan hasil riset lanjutan mengenai obat-obatan inovatif seperti Vericiguat.
Penulis: Cennikon Pakpahan, dr.
Reference
Darmadi D, Ahmad H, Pakpahan C, Surja SS. Efficacy of Vericiguat in patients with heart failure: A systematic review and meta- analysis of randomized controlled trials. RMJ. 2025; 50(3): 825-830. doi:10.5455/rmj.20241215082320





