UNAIR NEWS – Pada 2014 lalu, Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Prof. Retna Apsari, Dr. M.Si., diberi tanggung jawab untuk ikut menggerakkan Fakultas Vokasi. Waktu itu, dia dipercaya mengemban jabatan sebagai Wakil Dekan III di fakultas yang baru terbentuk pada tanggal 4 Juni 2014. Tak sampai di sana, pada pengukuhan jajaran pimpinan Dekanat 2015-2020, akademisi dari departemen Fisika tersebut kembali disuguhi amanat. Kali ini, sebagai Wakil Dekan I.
Selama ini, Retna Apsari banyak melakukan penelitian di bidang biooptika dan aplikasi laser, yang diyakini memiliki banyak manfaat. Tidak hanya untuk aplikasi industri dan diagnosis, namun juga, sebagai media terapi yang aplikatif dan bermanfaat kongkret bagi tubuh.
Optika merupakan salah satu kajian analisis penjalaran cahaya atau foton ketika melewati sebuah medium. Kajian optika memiliki keunggulan yaitu sangat teliti karena mampu membedakan jejak lintasan optik sebesar satu kali panjang gelombang yang digunakan, non invasive, non destructive, dan non ionisasi. Keunggulan optika bermain di wilayah ketelitian pada dimensi nano dan dewasa ini telah merambah pada dimensi femto, membuat optika niscaya di kembangkan untuk mengeksplorasi sifat dan struktur sebuah material, termasuk biomaterial.
Optika dan khususnya bio-optika yang dikenal dengan istilah fotonika merupakan salah satu bidang kajian yang sangat unik sebab diperlukan kerjasama terintegrasi antara bidang teoretik yang fundamental (fisika dan matematika), komputasi dan aplikasi (optik, teknologi informasi, elektro-optik), sistem cerdas dan optical imaging. Mengingat luas dan kompleksnya masalah di bidang ini, kerja sama antara berbagai bidang adalah suatu keniscayaan. Integrasi antara bidang kajian Retna dengan Fakultas Vokasi akan mengakselerasi implementasi penelitian kepada stakeholder. Untuk mengakselerasi implelentasi diperlukan laser sebagai sumber cahaya.
Laser bisa difungsikan untuk melakukan pengobatan kanker yang bersifat non ionisasi, dan non “destruktif” serta minim efek samping. Sebab, sinar ini dapat memindai sel kanker secara selektif dan lebih tepat dengan beberapa mekanisme interaksi yang ada yaitu fototermal, fotokimia, fotoablasi, produksi plasma dan photodistruption.
Laser juga bisa digunakan untuk menggerus caries pada gigi. Dapat pula dipakai untuk terapi termal yang diaplikasikan pada bidang fisioterapi sebagai salah satu media biostimulasi. Bahkan, sinar ini berpotensi diaplikasikan di bidang peternakan, misalnya, memanfaatkan teknik stimulasi dengan penyinaran laser, yang dapat mengakselesari penggemukan sapi dan hewan ternak lainnya. Prinsipnya, ilmu pengetahuan di bidang laser sangat luas dan masih terus berkembang.
Tentu saja, untuk menjadi unggul, dibutuhkan banyak tahapan. Termasuk, mengambil langkah untuk bermitra dengan industri dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Dengan demikian, asa untuk menjadi kampus yang berlevel dunia pun dapat diraih dengan lebih mudah. Beberapa mitra luar negeri yang telah ada beberapa diantaranya adalah Prof. Dr. Ahmad Harith, Prof. Dr. Sulaiman W. Harun, dan Dr. Hamzah Arof dari Photonics Research Center Universiti Malaya; Prof. Hiroyuki Ichikawa dari Lab. Optical Engineering, Faculty of Electrical dan Electronic Engineering, Ehime University Matsuyama Jepang; Prof. Dr. Khosrow Mottaghi dari Aachen University Jerman, Prof. Dr. Eko dari Faculty of Biomedical Engineering Universiti Teknologi Malaysia, Prof. Dr. Marsin Sanagi dari Institut Ibnu Sina Universiti Teknologi Malaysia; Prof. Dr. Noriah Bidin dari Laer Center Universiti Teknologi Malaysia.
Sementara itu, Fakultas Vokasi memiliki tiga departemen, yakni, bisnis, teknik, dan kesehatan. Retna mengutarakan, semua disiplin ilmu di fakultas ini dapat bersinergi karena Fakultas Vokasi merupakan paket keilmuan lengkap. Sinergitas disiplin keilmuan Fakultas Vokasi dengan basis penelitian Retna Apsari akan mempercepat implenentasi hasil penelitian untuk sampai pada stakeholder. Di sisi lain, masing-masing lulusan tiap departemen mempunyai peluang sama besar di dunia kerja. Para jebolan fakultas ini dipastikan dapat berkarir dengan baik. Dengan branding UNAIR yang sudah bagus, kualitas mereka pun lebih terjaga.
“Para lulusan Fakultas Vokasi di masing-masing departemen (Bisnis, Teknik, dan Kesehatan) memiliki peluang besar masuk ke dunia kerja. Mereka dicetak sebagai tenaga terampil, kreatif, dan Visioner untuk Indonesia tercinta,” kata Prof Retna.
Dalam melakukan sejumlah penelitian, Retna mengaku banyak dibantu oleh para mahasiswanya. Khususnya, mereka yang berasal dari Departemen Teknik (D3 Otomasi Sistem Instrumentasi). Sebab, sejumlah penelitian Retna terkorelasi dengan disiplin ilmu tersebut. Aplikasinya juga dpat bekerjasama dengan D4 Radiologi, D3 dan D4 Fisioterapi, D3 dan D4 Battra, D3 Hiperkes, D3 Kesehatan Ternak.
Sebagai seorang Guru Besar, kiprah Retna di bidang penelitian tidak perlu diragukan. Tercatat dalam rentang 1993 hingga 2015, terdapat 33 penelitian unggulan yang dilakukannya. Semua dapat dirasakan manfaatnya di masyarakat. Pada 2015, misalnya, Retna menghasilkan penelitian Terapi Fotodinamik Laser Merah Untuk Percepatan Apoptosis Sel Kanker Dengan Variasi Eksogen Fotosensitizer.
Sedangkan di tahun sebelumnya, dia menorehkan penelitian tentang Rancang Bangun Sistem Diagnosis dan Terapi Terpadu Kanker Kulit Ekonomis Non-Invasive Berbasis Nanolaser Speckle Imaging serta Foto dinamik Laser Infra Merah Untuk Inaktivasi Sel Kanker Invitro Dengan Eksogen Fotosensitiser. Eksplorasi kajian modulasi optik berbasis fase yang dikembangkan Apsari dan tim telah menghasilkan beberapa hal, diantaranya adalah sistem deteksi dan karakterisasi material berbasis metode interferometri dan Optical Imaging.
Retna juga berkali-kali mengikuti konferensi internasional. Antara lain, dalam gelaran The Fifth International Conference and Workshops on Basic and Applied Sciences – ICOWOBAS 2015 on October 16th – 17th, 2015 dan 10th International Symposium on Modern Optics and Its Applications, Indonesian Optical Society (INOS) – Physics of Magnetism and Photonics Group ITB, 2015.
Penulis: Rio F. Rachman
Editor: Defrina Sukma Satiti





