Universitas Airlangga Official Website

Pahami Pentingnya Membangun Bisnis yang Eco Friendly

Jessica Halim, co-founder demibumi.id, pada pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kopma FEB UNAIR, Sabtu (27/8/2022). (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Bisnis yang eco friendly mungkin masih terbilang jarang utamanya di Indonesia. Di tengah berbagai inovasi bisnis yang memudahkan masyarakat, bisnis eco friendly terbilang kurang banyak dilirik para pelaku bisnis.

Padahal, bisnis eco friendly memiliki dampak yang sangat signifikan bagi lingkungan kita. Bisnis jenis ini menggunakan bahan-bahan daur ulang serta bahan lain yang berasal dari tumbuhan dan lebih ramah lingkungan. Hal ini dapat membantu mengurangi volume sampah dan mengubahnya menjadi produk yang bernilai ekonomis. 

“Dengan melihat kondisi TPA kita, membuang sampah pada tempatnya itu nggak cukup karena pada akhirnya kita pindahkan ke lahan yang lebih besar,” ujar Jessica Halim, co-founder demibumi.id, pada pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kopma FEB UNAIR yang bertajuk “Let’s Build an Eco Friendly Business,” Sabtu (27/8/2022). 

Pengolahan sampah dan wirausaha, lanjut Jessica, memiliki kaitan erat. “Sampah akan terus ada, tapi gimana caranya kita ngolah itu jadi solusi yang bukan hanya kita jual tapi kita sarankan ke orang-orang untuk melakukan ini (pengolahan sampah, red),” ungkapnya. 

Membangun bisnis jenis ini tentu bukanlah perkara yang mudah. Pasalnya, pola pikir (mindset) masyarakat untuk mulai menggunakan produk dari barang bekas masih sangat minim. Oleh karena itu, penting sekali bagi pelaku bisnis ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai manfaat produk ramah lingkungan. 

“Menyadarkan masyarakat lewat tindakan sekecil apapun. Konsumen itu memiliki kekuatan yang sangat kuat untuk mengubah produsen,” papar Jessica. 

Sebagai pendiri platform bisnis daring yang berfokus pada produk ramah lingkungan, Jessica menekankan bahwa budaya Indonesia yang sesungguhnya adalah budaya yang ramah lingkungan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia sudah sejak dahulu menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan sebelum akhirnya banyak masyarakat beralih menggunakan plastik. 

“Budaya Indonesia adalah budaya ramah lingkungan. Tapi, kita seringkali terkecoh sama budaya luar. Kita menganggap bahwa budaya luar itu lebih baik. Akhirnya budaya kita terkontaminasi dan kita meninggalkan budaya baik yang sudah kita lakukan dari zaman dulu,” tegas Jessica.

Hal inilah yang salah satunya berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Penggunaan kemasan plastik sekali pakai menyebabkan peningkatan volume sampah di TPA. Belum lagi, kandungan mikroplastik yang dapat mengkontaminasi lingkungan.

Pada akhir sesi, Jessica berpesan untuk menjadikan bisnis eco friendly sebagai gaya hidup yang berkelanjutan, bukan hanya sebagai tren semata. “Kalau misalnya kita meng-upcycle suatu produk, fungsinya harus bener juga. Jangan jadi kayak produk tren-trenan terus orang nggak tahu manfaatnya, nggak kepake. Itu salah,” pungkas Jessica.

 Penulis: Agnes Ikandani

Editor: Nuri Hermawan