Universitas Airlangga Official Website

Pahami Tren Bisnis Lewat Webinar Digital Entrepreneurship

Reza Nafi Rizqi Musyaffa sedang mengenalkan alat pelihat trend (Foto: Tangkapan Layar)

UNAIR NEWS – Dalam menghadapi era bisnis yang serba cepat dan kreatif, mahasiswa dituntut untuk mampu memadukan strategi bisnis modern. Hal inilah yang menjadi fokus kegiatan Digital Entrepreneurship Webinar bertajuk Harmonizing Design and Business: Show Up Your Business with Your Design. Kegiatan tersebut terselenggara oleh Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Airlangga (UNAIR), pada Minggu (2/11/2025) melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Reza Nafi Rizqi Musyaffa, wirausahawan muda sekaligus mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dalam sesi pemaparannya, Afa, sapaannya, menekankan pentingnya memahami perubahan pola bisnis modern yang kini beralih dari sistem konvensional menuju digitalisasi penuh. 

Ia menjelaskan bahwa bisnis digital merupakan model usaha yang menjadikan teknologi sebagai dasar utama kegiatan operasional. Mulai dari proses produksi, promosi, hingga distribusi produk. Salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh pelaku bisnis adalah perbedaan antara produk evergreen dan produk trending.

Produk evergreen adalah produk yang sifatnya tahan lama dan selalu ramai di pasaran. Seperti kebutuhan pokok atau produk dengan nilai utilitas tinggi. Sementara produk trending bersifat sementara dan hanya populer pada periode tertentu, sangat bergantung pada tren sosial atau budaya yang sedang berlangsung. “Kita tidak bisa mengontrol kapan sebuah tren muncul atau berakhir. Tetapi kita bisa mengontrol nilai dan diferensiasi produk yang kita tawarkan agar tetap relevan,” ujarnya.

Untuk memahami tren pasar, Afa memperkenalkan Google Trends, alat digital yang membantu pebisnis menganalisis tingkat pencarian suatu topik atau produk di berbagai wilayah dan periode waktu. Melalui data yang ada, pelaku usaha dapat mengetahui minat konsumen dan menyesuaikan strategi penjualannya.

Selanjutnya, Afa menjelaskan pentingnya penerapan STP (Segmenting, Targeting, dan Positioning) dalam strategi pemasaran digital. Segmenting dilakukan untuk membagi pasar ke dalam kelompok yang lebih spesifik berdasarkan demografi, perilaku, atau minat. “Dengan segmentasi yang tepat, pelaku usaha dapat memahami kebutuhan serta karakteristik konsumen secara lebih mendalam. Sehingga strategi pemasaran dapat disusun secara efektif,” jelasnya

Sementara itu, targeting membantu pelaku usaha menentukan kelompok pelanggan utama yang paling potensial untuk dijangkau, sedangkan positioning berperan dalam membangun citra dan keunikan produk di benak konsumen. “Dengan memahami ketiga elemen tersebut, pelaku bisnis dapat lebih fokus dalam mengembangkan strategi promosi yang tepat sasaran dan menciptakan nilai yang membedakan produknya dari pesaing,” tuturnya. 

Afa kemudian menyoroti konsep marketing funnel, ia menjelaskan bahwa proses ini tidak terjadi secara instan. Melainkan melalui serangkaian langkah yang saling berkesinambungan. Tahapan pertama adalah awareness, yakni mengenalkan produk kepada publik melalui konten yang menarik dan relevan. Setelah itu, masuk ke tahap consideration, di mana calon konsumen mulai mempertimbangkan untuk membeli produk yang ditawarkan.

Tahap berikutnya adalah activation, yaitu mendorong konsumen untuk melakukan pembelian pertama. Setelah berhasil menarik pembeli, pelaku usaha perlu menjaga loyalty dengan membangun hubungan baik agar konsumen kembali membeli di masa mendatang. Tahap terakhir adalah advocacy, ketika pelanggan yang puas secara sukarela merekomendasikan produk kepada orang lain. 

Penulis: Rizma Elyza

Editor: Yulia Rohmawati