UNAIR NEWS – Prediksi mengenai resesi di Amerika Serikat (AS) semakin menguat, seiring dengan tanda-tanda perlambatan ekonomi yang mulai terlihat. Artikel terbaru di Detik Finance menyoroti potensi AS jatuh ke jurang resesi, yang tentunya akan memberikan dampak signifikan pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Mengingat hubungan ekonomi yang erat antara AS dan Indonesia, resesi di AS bisa membawa tantangan besar bagi perekonomian nasional.
Dampak Lokal
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Muhamad Said Fathurrohman SE MSc MA mengungkapkan bahwa resesi tersebut mungkin tidak akan memiliki dampak global yang signifikan, seperti krisis finansial global sebelumnya atau pandemi COVID-19. Prediksi resesi ini lebih terkait dengan faktor-faktor seperti inflasi dan pelemahan ekonomi setelah pemulihan dari pandemi.
“Resesi ini lebih relatif lokal, tidak ada driver atau faktor penyebab resesi Amerika yang bersifat global,” ungkapnya .
Lebih lanjut, Said menjelaskan bahwa pengalaman resesi keuangan global sebelumnya memberikan pelajaran bahwa dampaknya terhadap Indonesia cenderung mild, tidak terlalu besar.
“Pada saat itu, resesi cukup besar dan melibatkan banyak negara, namun dampaknya ke Indonesia relatif tidak terlalu besar. Sementara resesi yang sekarang lebih relatif lokal,” tuturnya.

Pengaruh Ekspor
Said juga menyoroti bahwa kemungkinan besar dampak resesi Amerika Serikat terhadap Indonesia hanya akan terlihat melalui penurunan ekspor Indonesia ke Amerika dan nilai tukar rupiah. Amerika Serikat merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia setelah Cina.
“Ekspor Indonesia ke Amerika mencakup sekitar 10 persen, yakni kurang dari 2 persen terhadap PDB Indonesia,” jelasnya.
Penanganan Bank Sentral
Dengan demikian, penurunan ekspor tidak akan signifikan menurunkan pertumbuhan ekonomi tidak lebih dari 1 persen. Dampak terhadap nilai tukar rupiah juga bisa dikelola dengan kebijakan moneter yang tepat, terutama jika Bank Sentral Amerika menurunkan suku bunga untuk memitigasi resesi. Hal Ini bisa memberi kesempatan bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga, yang bisa membantu perekonomian Indonesia dengan mendorong permintaan domestik untuk mengimbangi penurunan ekspor.
“Langkah diversifikasi pasar ekspor juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika. Cina, Jepang, dan India adalah pasar potensial yang bisa menjadi alternatif bagi ekspor Indonesia,” tambahnya.
Penulis: Rosali Elvira Nurdiansyarani
Editor: Feri Fenoria
Baca Juga:





