Universitas Airlangga Official Website

Pakar Epidemiologi UNAIR: Nyamuk Wolbachia Aman dan Efektif untuk Tekan Angka Penularan Virus DBD

Ilustrasi Nyamuk Wolbachia. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)

UNAIR NEWS – Teknologi nyamuk Wolbachia mulai dikenal oleh masyarakat sejak penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali marak di Indonesia. Namun, masih banyak masyarakat yang tak setuju dengan teknologi ini.

Ketidaksetujuan ini terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nyamuk Wolbachia. Padahal, teknologi nyamuk Wolbachia merupakan teknologi yang aman dan efektif untuk mengurangi penularan virus DBD. Hal itulah yang disampaikan oleh Dr Atik Choirul Hidajah dr MKes, pakar epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR).

“Pengertian ‘nyamuk berteknologi Wolbachia’ ini sebenarnya muncul karena adanya bakteri Wolbachia yang secara alamiah sudah hidup di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, kemudian bakteri itu dimanfaatkan untuk melawan virus DBD yang masuk ke dalam nyamuk,” ungkap Dr Atik kepada UNAIR NEWS pada Minggu (18/2/2024).

Dr Atik menerangkan bakteri Wolbachia merupakan bakteri alami yang biasa hidup pada beberapa jenis serangga. Bakteri Wolbachia hanya dapat hidup pada serangga, tidak dapat hidup pada manusia atau vertebrata lain.

“Kekhawatiran akan adanya bakteri Wolbachia yang dapat menyerang manusia itu tidak terbukti. Bakteri ini juga alamiah, bukan transgenik atau bakteri buatan yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh serangga tertentu,” paparnya.

Bakteri Wolbachia, sambung Dr Atik, dapat termanfaatkan untuk mengendalikan penyakit DBD. Penyakit DBD dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti sendiri merupakan salah satu serangga yang memiliki bakteri Wolbachia di dalam tubuhnya.

“Kalau di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti itu ada bakteri Wolbachia, kemudian nyamuk itu terinfeksi virus DBD. Maka akan terjadi kompetisi antara bakteri Wolbachia dengan virus DBD. Dengan adanya bakteri Wolbachia, virus DBD dalam nyamuk tidak akan mendapat makanan yang cukup,” tutur Ketua Prodi Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR tersebut.

Replikasi virus DBD, lanjutnya, akan terhambat karena tidak mendapat makanan yang cukup, sehingga potensi dari nyamuk Aedes aegypti untuk menularkan virus DBD kepada manusia yang sehat itu juga akan terhambat. Daya tularnya menjadi lebih rendah.

Nyamuk Aedes aegypti jantan yang memiliki bakteri Wolbachia di dalam tubuhnya. Apabila kawin dengan nyamuk Aedes aegypti betina yang tidak memiliki bakteri Wolbachia di dalam tubuhnya maka telurnya tidak akan bisa menetas. Sebaliknya, apabila nyamuk jantannya tidak memiliki bakteri Wolbachia, tetapi nyamuk betinanya memiliki bakteri Wolbachia maka ada telur yang menetas dan ada telur yang tidak bisa menetas.

“Kalau nyamuk jantan dan nyamuk betina ini sama-sama memiliki bakteri Wolbachia di dalam tubuhnya, maka seluruh telurnya akan menetas dan telur-telur tersebut mengandung bakteri Wolbachia,” jelas Dr Atik.

Keberadaan Aedes aegypti ber-Wolbachia di suatu wilayah, ucap Dr Atik, akan mengurangi penularan lokal infeksi di wilayah tersebut. Pengurangan penularan lokal infeksi DBD ini terjadi baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau. 

“Jadi musim tidak berpengaruh terhadap pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di suatu wilayah. Tetapi, dampak positif yang besar tentu saja terjadi pada masa penularan DBD tinggi dan ketika musim penghujan,” imbuhnya.

Pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Indonesia sendiri telah mulai sejak tahun 2013 yang terinisiasi oleh Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2011 di Indonesia, kemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia sangat tinggi karena mengurangi penularan penyakit DBD secara signifikan.

“Teknologi nyamuk ber-Wolbachia sangat mungkin terterapkan di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk dengan angka kejadian DBD tinggi. Pelepasan nyamuk ber-Wolbachia bersifat satu kali penerapan (one shot), bertahan jangka panjang. Selain itu dapat berintegrasi dengan program pengendalian yang telah ada yaitu PSN 3M Plus,” terang Dr Atik.

Satu kali penerapan yang menjadi karakteristik metode replacement mendukung situasi Indonesia sebagai negara berkembang yang memiliki wilayah yang sangat luas dengan keberadaan area endemis dengue hampir di semua provinsi.

Selain nyamuk ber-Wolbachia, rekayasa lingkungan lain yang dapat terterapkan untuk mengurangi penularan virus DBD adalah pemberantasan sarang nyamuk, pelepasan ikan-ikan pemakan jentik di tempat penampungan air, penaburan ABATE, dan rekayasa-rekayasa lain. 

“Teknologi nyamuk ber-Wolbachia juga sangat mungkin untuk kita terapkan di Surabaya, tetapi masyarakat harus mengerti bagaimana prosesnya. Sehingga nyamuk ber-Wolbachia ini dapat menekan angka replikasi virus dan menghambat penyebaran virus DBD. Hoax terkait nyamuk ber-Wolbachia yang mengatakan ini teknologi transgenik itu harus hilang agar masyarakat siap dengan teknologi ini,” tambah Dr Atik.

Menurut Dr Atik, penolakan dari masyarakat akan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di wilayah mereka terjadi karena adanya pemahaman yang keliru terhadap nyamuk ber-Wolbachia. Tugas akademisi, sambungnya, yaitu mengedukasi masyarakat terkait pemahaman yang keliru tersebut.

“Maka dari itu, kami dari Program Studi Magister Epidemiologi kemarin mengundang peneliti-peneliti dari Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada untuk sharing, berdiskusi, dan mengedukasi masyarakat,” tukasnya. (*)

Penulis : Dewi Yugi Arti

Editor : Nuri Hermawan