UNAIR NEWS – Obat antimalaria yang berasal dari tumbuhan telah terbukti efektifitasnya selama berabad-abad. Penemuan obat antimalaria baru dari produk tumbuhan alami telah banyak diteliti untuk mengatasi resistensi obat yang mengancam pengendalian malaria. Pengembangan obat malaria baru yang bersumber dari tumbuhan telah banyak dilakukan.
Hal tersebut yang telah dilakukan oleh Prof Dr Lucia Tri Suwanti, drh MP dalam risetnya. Pada proses riset yang dilakukan Prof Lucia menjelaskan bahwa tujuan dari penelitian yang dilakukan untuk membuat kompilasi spesies tanaman yang telah diteliti sebagai obat antimalaria, mekanisme aksi molekuler dan ligan, dari penelitian yang telah dipublikasikan di Pubmed NCBI, Google Scholar, dan Researchgate.
“Beberapa tanaman yang telah diteliti sebagai obat antimalaria antara lain Aloe spp, Allium sativum, Alstonia Scholaris, Morinda citrifolia, Andrographis paniculate, Carica papaya, Momordica charantia, Tinospora crispa, Moringa oleifera, Physalis angulate, Nigella sativa, Cocos nucifera, Piperaceae,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa mekanisme aksi molekuler Aloe spp, Allium sativum, Alstonia Scholaris, Morinda citrifolia, Andrographis paniculata, Carica papaya, Momordica charantia, Moringa oleifera, Physalis angulate, Nigella sativa, Cocos nucifera, Piper spp. Semua itu sebagai penghambat pembentukan asam nukleus hemozoat , sintesis protein, stres oksidatif, dan oksida nitrat, mempengaruhi proses pensinyalan transkripsi dan transduksi.
Ligan yang terlibat dalam proses tersebut, sambungnya, adalah protease, plasmepsin, hemozoin, strain 3d7 dan rkl-9 dari Plasmodium falciparum, glikogen sintase kinase-3β (GSK3β), Plasmodium falciparum Calcium-Dependent Protein Kinase-2 (PfCDPK-2), Plasmodium falciparum dihydrofolate -timidilat sintase (pfDHFR-TS).
“Namun, mekanisme kerja Tinospora crispa masih belum jelas,” pungkasnya.
Penulis: Nuri Hermawan





