n

Universitas Airlangga Official Website

Pancasila, Harapan atau Kenyataan

pancasila
Aryo Seno Bagaskoro ketua Aliansi Pelajar Surabaya. (Foto: Ainul Fitriyah)

UNAIR NEWS – Kali ini Direktorat Pendidikan MKWU Universitas Airlangga menyambut Hari Sumpah Pemuda dengan mengadakan Pekan Ilmiah Kebangsaan dengan tema “Pancasila dalam Keseharian: Antara Harapan dan Kenyataan”. Acara pada Kamis (26/10) tersebut bertempat di gedung MKWU UNAIR.

Karena antusiasme mahasiswa UNAIR yang luar biasa, acara seminar dan dialog kebangsaan itu dilaksanakan di dua ruangan, yaitu Moh.Hatta dan Ir. Soekarno. Untuk mengawali kegiatan tersebut, para peserta disuguhi dengan tarian tradisional, tari merak, sebagai bentuk rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia.

Pekan ilmiah kebangsaan kali ini menghadirkan narasumber dari kalangan pelajar Surabaya, Aryo Seno Bagaskoro selaku ketua Aliansi Pelajar Surabaya. Termasuk mengundang dosen muda Ilmu Politik UNAIR Airlangga Pribadi Kusman, S.IP., M.Si.

Seno menjelaskan, Indonesia merupakan negara terunik yang mampu menyatukan berbagai macam perbedaan, baik suku, ras, adat, maupun visi setiap individu. Jadi, hanya ada satu alasan mengapa Indonesia dengan banyaknya varian tersebut masih bersatu hingga kini. Yakni, karena adanya Pancasila.

Menurut dia, Pancasila tidak berhenti hanya pada makna simboliknya, tapi dalam visi dan misi kuat yang telah dibangun bangsa Indonesia di dalamnya. “Tapi, saat saya menanyakan makna Pancasila kepada teman-teman pelajar, mereka ya hanya mengartikan Pancasila adalah bunyi sila pertama sampai kelima. Sampai situ saja,” imbuh Seno.

Pelajar kelas XI itu menuturkan, pelajar zaman sekarang lebih pada mabuk slogan. Pengaruh media sosial yang begitu besar membuat keberadaan pemuda ingin diakui dengan sering mengunggah status yang menyatakan bahwa seakan-akan dirinya nasionalis. Namun dalam praktiknya nihil.

Pada pemaparannya, pelajar SMAN 5 Surabaya tersebut mengutip pidato Soekarno “…kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya…”.

“Untuk dapat bernegara seribu windu lamanya, dibutuhkan kesadaran bangsanya tentang pentingnya nilai Pancasila untuk diterapkan dalam kenyataan, tidak sekadar harapan,” tuturnya.

Sementara itu, Airlangga menyampaikan bahwa Pancasila sebagai pandangan hidup manusia tidak perlu untuk dihafal, tapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Banyak orang yang menggembor-gemborkan kalimat NKRI harga mati, tapi dalam praktiknya, saat ada gotong royong, orang enggan untuk berkumpul,” katanya.

Di sisi lain, di ruang Moh.Hatta, seminar yang dimoderatori dosen Antropologi UNAIR Dr. Muhammad Adib, M.Si juga berlangsung lancar. Narasumber Drs. Bambang Budiono, M.Sosio. juga mengungkapkan bahwa kedudukan Pancasila di Indonesia bagaikan angka penyebut dalam pecahan pada ilmu matematika.

“Angka berapa pun, tidak akan dapat dijumlahkan bila penyebutnya tidak disamakan. Begitu pula Indonesia. Sebaik apa pun sebuah visi dan misi bangsa, kalau tidak disatukan, tidak bisa menjadi nyata. Dan, pemersatu itu adalah Pancasila,” jelas Bambang.

Pada akhir pemaparannya, kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, dia berpesan bahwa spirit Pancasila harus tetap dihidupkan. Tidak berhenti pada pertanyaan apakah ini harapan atau kenyataan.

“Mari kembali menghidupkan semangat Pancasila dalam hidup kita. Bila hal itu sudah dilakukan, menyosialisasikan Pancasila tidak perlu lagi. Cukup untuk dijalani dalam kehidupan. Itulah yang terpenting,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Feri Fenoria