UNAIR NEWS – Banyak orang mengira bahwa sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan. Namun, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr dr Budi Santoso SpOG (K) menyatakan, bahwa PCOS termasuk kumpulan gejala yang terjadi pada usia reproduksi seorang wanita dalam Program Dokter UNAIR TV, Jumat (10/6/2022).
PCOS memiliki beberapa gejala, lanjut Dr Budi. Pertama, adanya gangguan siklus menstruasi, seperti jarang haid atau siklus bisa mundur selama dua minggu atau lebih dan bahkan amenore, tidak pernah haid sama sekali. Kedua, secara fisik muncul gejala hiperandrogen, termasuk banyak jerawat, sedikit kumis, rambut di daerah dagu, kaki, dan tangan.
“Kalau ketiga, pemeriksaan melalui USG, idealnya USG yang transvaginal akan didapatkan dari ovarium dikelilingi oleh sel telur kecil atau resting folikel. Jadi folikelnya tidak berkembang, yang seharusnya pada perempuan itu setiap bulan ada folikel dominan dari 20 yang tumbuh, tetapi hanya ada satu yang menjadi folikel dominan,” ujar Dr Budi
Menurut Ahli Bidang Ginekologi dan Onkologi tersebut, Peningkatan PCOS bersamaan dibarengi dengan diabetes melitus tipe 2, karena masalah ini terjadi akibat dari gaya hidup yang jarang bergerak. Dengan mengonsumsi makanan yang banyak, maka resistensi insulin menjadi hiperinsulinemia, yang merangsang sel theca di ovarium, untuk menghasilkan androgen.
Siapa yang Paling Berisiko?
Obesitas menjadi faktor berisiko terjadinya PCOS, terang Dr Budi, kemudian genetik dan gangguan neuroendokrin juga mempengaruhi. Apabila saudara kandung perempuan pernah mengalami PCOS, maka sesama saudara perempuannya pasti terkena.
“Sekarang sebenarnya angka usia PCOS pada dewasa itu lebih rendah dibandingkan dengan usia adultion PCOS lebih tinggi, karena gaya hidup anak sekarang jarang bergerak, main gadget sambil ngemil, tidak banyak olahraga, karbohidratnya tinggi,” tegasnya.
Staf medis di Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr Soetomo juga menjawab peluang penderita PCOS memiliki keturunan. Apabila membahas infertilitas, maka faktornya banyak, meliputi ada tidaknya ovulasi, normal atau sering dalam batasnya setiap bulan terjadi ovulasi.
Kalau haid seorang wanita hanya tiga bulan sekali (oligo ovulasi), hal itu menyebabkan keterlambatan kehamilan. Berbeda dengan faktor PCOS, tuba fallopinya normal, rahimnya normal, tidak ada polip atau miom, kemungkinan mendapatkan keturunan.
Penulis: Balqis Primasari
Editor: Nuri Hermawan





