Universitas Airlangga Official Website

Pekan Pertama ACEC, UNAIR Datangkan CEO Baba Rafi

CEO Kebab Turki Baba Rafi Hendy Setiono (Kiri) Saat Mengisi Airlangga Collaborative Entrepreneur Camp (ACEC) Pekan Pertama di UNAIR pada Senin (7/8/2023) (Foto: SS Youtube)

UNAIR NEWS Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi salah satu tuan rumah pelaksana Wirausaha Merdeka dengan programnya yang bernama Airlangga Collaborative Entrepreneur Camp (ACEC). Setelah sebelumnya sempat meluncurkan ACEC, tepat pada Senin (7/8/2023) pekan pertama ACEC telah berlangsung. 

Pekan ini, ACEC UNAIR mengundang Hendy Setiono, CEO dari Kebab Turki Baba Rafi yang kini telah memperluas usahanya hingga ke mancanegara. Ia berbagi cerita tentang perjalanannya membangun usaha dan tips yang bisa jadi inspirasi bagi peserta.

Menurutnya, bisnis yang baik adalah bisnis yang dijalankan. Rumus kesuksesan sebuah bisnis bagi seorang entrepreneur dari Hendy adalah triple A.

“Kalau mau sukses itu katanya triple A. A yang pertama Action, A yang kedua Action lagi, dan A yang paling penting yaitu Action juga,” sebutnya.

Memulai dengan Langkah Kecil

Dalam memulai bisnis, Hendy menyarankan untuk memulainya dengan langkah kecil. Entrepreneur bisa mencoba menjual produk orang lain sebelum memutuskan untuk membuka mereknya sendiri. 

Hal yang sama berlaku juga untuk modal. Ia tidak menyarankan untuk memulai dengan modal yang besar tanpa menimbang risiko yang bisa saja terjadi.

“Memulai bisnis itu tidak harus dengan sesuatu yang besar, mulailah dari apa yang kita punya. Mulailah dari sesuatu yang kecil, yang penting kita memulainya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hendy juga mengharuskan entrepreneur untuk mencintai apa yang mereka mulai. Artinya, bisnis yang entrepreneur jalankan adalah bisnis yang memang mereka sukai sehingga ia dapat menikmati dalam menjalankan bisnisnya.

Riset Pasar dan Target

Kedua, penting bagi entrepreneur untuk melakukan observasi mengenai pasar, target, dan kompetitor. Bagi Hendy, langkah observasi ini menjadi jembatan untuk mengetahui hal yang konsumen inginkan, pihak yang jadi sasaran, dan kelebihan kompetitor lainnya.

“Kita harus bisa menerjemahkan apa yang konsumen inginkan. Sebelum berbisnis, teman-teman harus terlebih dahulu memilih siapa target market yang tepat,” jelas Hendy.

Pemilihan target tersebut akan menjadi penentu dalam menentukan harga, produk yang mereka inginkan, bahkan strategi pemasarannya. Untuk strategi pemasaran, Hendy memperbolehkan untuk belajar dari kompetitor yang lebih besar.

Menyuguhkan Hal yang Berbeda

Selain riset pasar dan target, Hendy kemudian menjelaskan pentingnya observasi terhadap kompetitor. Pada fase ini, entrepreneur akan melihat produk yang kompetitor sajikan dan dapat menciptakan poin pembeda dengan kompetitor tersebut.

“Teman-teman cukup cari uniqueness atau apa sih yang berbeda. Satu saja dan jadikan itu sebagai add value, pembeda dari yang lain,” ujarnya.

Selain poin-poin di atas, di akhir Hendy juga menerangkan pentingnya membangun tim dan terus belajar. Belajar yang berkelanjutan bukan hanya berlaku untuk karyawan atau pemimpin dari sebuah usaha saja, melainkan berlaku untuk seluruh tim. (*)

Penulis : Muhammad Badrul Anwar

Editor : Nuri Hermawan