TikTok merupakan salah satu media sosial yang populer di kalangan gen-z. Hingga saat ini TikTok sudah memiliki lebih dari 750 juta pengguna aktif yang terdaftar setiap bulannya, dan diharapkan mencapai 1 milliar pengguna aktif pada tahun 2025 (insiderintellignece,com, 2022). Sebagian besar pengguna TikTok adalah gen-z, yang mendominasi penciptaan konten video dan berinteraksi secara live. Selain digunakan untuk short video upload, TikTok juga memiliki fitur seperti media sosial lainnya yakni dapat menghubungkan antar individu, saling memberi komentar, memberi like, gift secara interaktif.
Selain digunakan untuk upload video TikTok banyak digunakan untuk kegiatan advocacy, membantu para user untuk mendapatkan pengetahuan baru, dan belajar hal baru. Jadi bida dikatakan bahwa TikTok dapat digunakan sebagai media belajar dengan konten yang menarik minat user antara lain dengan video dance, humor, dan tantangan.
Melihat prospektif tersebut, perpustakaan juga dapat memanfaatkan TikTok untuk menarik minat pengguna muda atau gen-z dengan mengemas konten perpustakaan melalui TikTok. TikTok menawarkan akses yang mudah ke materi peprustakaan dan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Menggunakan TikTok untuk mengupload video pembelajaran literasi informasi di perpustakaan dinilai sangat prospektif mengingat video yang di upload di TikTok memiliki durasi pendek, maksimal tiga menit. Video pendek namun sarat konten pembelajaran sangat tepat bagi gen-z, dimana generasi ini ingin informasi yang cepat, tepat, to the poin. Konsep video pendek sangat cocok untuk memuat materi literasi informasi perpustakaan dalam skala kecil tapi dalam jumlah banyak. Banyak video tersebut juga memungkinkan pengguna untuk memilih materi pembelajaran sesuai yang mereka inginkan dan sesuai kebutuhan.
Salah satu perpustakaan yang memanfaatkan TikTok adalah perpustakaan Universitas Airlangga, dengan akun https://www.tiktok.com/@unairlibrary?lang=en. TikTok peprustakaan UNAIR berisi instruksi self service penyediaan air mineral, dalam video tersebut ditunjukkan lokasi refrigerator dan metode pembayaran secara mandiri, video juga disertai dnegan caption yang menarik “Thirst? Don’t worry“. “Campus A, B, and C Libraries have provided Refrigerator Chillers filled with mineral water.” #fyp #unair #unairlibrary #fypã‚·”. Video dengan durasi 14 detik ini cukup jelas dan informatif. Pengguna juga langsung memahami bahwa jika membutuhkan minum mereka dapat membeli air minum kemasa secara mandiri di perpustakaan. Selanjutnya ada instruksi tentang jam buka perpustakaan, Â video berdurasi 10 detik ini disertai caption “Library Until Night.” a. Monday – Friday 07.30-22.00* b. Saturday 08.00-16.00 * campus A, B floor 1 * campus C floor 2 gasskeun.. #fyp #unair”. Perpustakaan UANIR juga mengenalkan perpustakaan melalui video dengan durasi 49 detik. Video tersebut disukai lebih dari 350 orang dengan menggunkaan caption “Do and Don’t” at UNAIR Library #unairlibrary #unair #perpustakaan #beatbox #fyp.” Pengenalan nomor klasifikasi di peprustakana juga dapat dilakukan dengan video pendek sepanjang 51 detik, namun pesan dan cara penyampaian dilakukan dengan sangat menarik.
Materi pembelajaran sepotong-sepotong atau chunking instruction diyakini sesuai dengan gen-z karena materi yang disampaikan cukup pendek, bahkan rata-rata kurang dari 60 detik. Para konten kreator fokus pada materi tanpa introduction dan closing, dan hanya memuat materi sesuai kebutuhan pengguna. Pengguna tidak perlu belajar dari awal hingga akhir. Hasil ini juga ditunjang dengan hasil penelin yang menyebutkan bahwa penggunaan short instruction memberikan hasil yang significan dibanding traditional instruction yang memiliki durasi panjang.
Full artikel dapat diakses melalui: Anna, N.E.V. and Ismail, N. (2023), “Chunking virtual literacy instruction on TikTok for Z generation”, Library Hi Tech News, Vol. ahead-of-print No. ahead-of-print. https://doi.org/10.1108/LHTN-12-2022-0135





