UNAIR NEWS – Inovasi produk organik dari BIOME berupa Biomefertilizer dapat menjadi sebuah terobosan baru bagi para petani Desa Durikedungjero untuk bisa menekan penggunaan pupuk kimia dan sebuah cara guna menghemat pengeluaran pembelian pupuk kimia. Dengan kolaborasi antara Mahasiswa BBK 5 UNAIR di Desa Durikedungjero dengan BIOME, kegiatan bertajuk Sosialisasi Pupuk Organik untuk Tani Sehat dapat terlaksana dengan lancar.
Kegiatan ini terselenggara pada Minggu (26/1/2025), di Balai Desa Durikedungjero, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Sosialisasi ini menyasar kelompok tani yang ada di Desa Durikedungjero. Sambutan oleh Septi Wahyu Krisdianto selaku Kepala Desa Durikedungjero menjadi pembuka kegiatan. Selanjutnya yakni penyampaian materi terkait Biomefertilizer oleh Prof Drs Agus Supriyanto MKes perwakilan BIOME.
Septi menekankan, “Jangan sampai kegiatan sosialisasi POTS ini berhenti hanya sampai BBK selesai terlaksana. Namun, harus ada keberlanjutan ke depannya sehingga inovasi dari Mahasiswa UNAIR dan BIOME dapat bermanfaat bagi para petani yang ada di Desa Durikedungjero.”
Sosialisasi POTS
Sosialisasi POTS (Pupuk Organik untuk Tani Sehat) merupakan sosialisasi mengenai penggunaan dan keunggulan pupuk organik Biomefertilizer. Produk ini merupakan inovasi berupa pupuk yang pihak UNAIR kembangkan. Sosialisasi POTS oleh Prof Drs Agus Supriyanto MKes terlaksana secara daring via aplikasi Zoom, fasilitas dari BBK 5 UNAIR Desa Durikedungjero. Ia merupakan salah satu dari peneliti BIOME yang terlibat dalam pengembangan pupuk organik tersebut.

Prof Agus menyampaikan bahwa Biomefertilizier memberikan manfaat pada tanaman sehingga meningkatkan hasil panen secara siginifikan. Selain itu, juga membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga menjadi hemat biaya, serta tentunya ramah lingkungan. Akan adanya pelatihan untuk kelompok tani dalam menggunakan serta memperbanyak jumlah pupuk Biomefertilizer sebagai langkah keberlanjutan atas sosialisasi POTS kali ini, seperti yang sudah terjadi di wilayah Kedungpring, Lamongan,” jelasnya.
Cara Sederhana
Prof Agus juga menjelaskan cara untuk memperbanyak Biomefertilizer hanya dengan bahan- bahan yang sederhana. Produk Biomefertilizer ini dapat diperbanyak sebesar 10 kali lipat. Dengan komposisi 1 Liter Biomefertilizer dicampur dengan 10 L air bersih dan ditambahkan cukup 1 gelas Molase (tetes tebu murni 100 persen). Lalu dihomogenkan dan didiamkan selama 3 hari. Setelah 3 hari, perbanyakan Biomefertilizer dapat langsung diaplikasikan.
Sosialisasi ini mendapatkan respons yang positif dari kelompok tani Desa Durikedungjero. Salah satu anggota kelompok tani, Supri mengatakan, “Kami melihat inovasi Biomefertilizer ini sebagai produk yang mudah untuk diaplikasikan dan hemat biaya.” Kepala Desa juga menambahkan bahwa besar harapan untuk bisa berkolaborasi dengan pihak BIOME. “Melihat antusias petani kami dengan produk Biomefertilizier ini, kiranya kapan kami bisa melakukan kerjasama dengan BIOME untuk pemberdayaan petani kedepannya dengan menggunakan produk tersebut,” imbuhnya.
Besarnya antusiasme kelompok tani Desa Durikedungjero terhadap produk pupuk BIOME harapannya memberikan dampak positif kedepannya. Melalui sosialisasi ini pula, mahasiswa BBK 5 UNAIR berharap agar dapat meningkatkan kesadaran warga terutama kelompok tani Desa Durikedungjero agar menggunakan pupuk dari bahan alami yang mendukung pertanian berkelanjutan.
Penulis: Tim BBK 5 UNAIR di Desa Durikedungjero
Editor: Yulia Rohmawati





