UNAIR NEWS – Direktorat Kemahasiswaan beserta Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO, -red) memberikan pembinaan dan pembekalan kepada mahasiswa baru penerima bantuan pendidikan Bidikmisi jalur SNMPTN dan SBMPTN.
Acara yang dikemas dengan motivasi dan pembekalan itu, diselenggarakan di Aula Soetandyo Gedung C FISIP pada Sabtu (4/11). Pelaksanaan kegiatan pembinaan itu dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, dimulai pukul 06.30 WIB yang diikuti oleh mahasiswa penerima bidikmisi dari FIB, FPK, FKH, FK, FKG, FKp, dan FISIP. Sedangkan, gelombang kedua diikuti oleh mahasiswa penerima bidikmisi dari FST, FKM, Fpsi, FEB, dan FF yang dilaksanakan pukul 11.30.
Dalam acara tersebut, mahasiswa penerima bidikmisi diberikan penjelasan seputar masalah yang sering dihadapi oleh mahasiswa baru bidikmisi dan solusinya. Paparan itu disampaikan oleh staf Direktorat Kemahasiswaan Wahyu Kartiko. Menurut Wahyu, masalah yang sering dihadapi oleh mahasiswa baru bidikmisi antara lain rekening tidak aktif, rekening hilang, dan buku tabungan serta kartu ATM yang hilang.
“Saya ingatkan agar mahasiswa baru mengabaikan tawaran untuk mengikuti program asuransi. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, banyak mahasiswa yang mengikuti program tersebut hanya diambil saldonya saja tanpa ada timbal balik dari pihak asuransi,” terang Wahyu.
Selain itu, dalam acara tersebut mahasiswa juga mendapatkan motivasi dari salah satu dosen UNAIR Taufan Bramantoro drg., M.Kes. Dalam motivasinya, Taufan mengajak agar mahasiswa baru mengingat saat-saat pertama masuk UNAIR.
“Ingatlah semangat yang membara saat awal masuk. Ingatlah tujuan awal anda kesini serta orang tua anda yang selalu mendoakan disaat anda kehilangan semangat untuk berkuliah,” paparnya.
Dosen FKG UNAIR itu juga menambahkan, jika mahasiswa hanya kuliah lalu pulang belajar itu merupakan suatu hal yang salah. Di samping itu, tambahnya, jika mahasiswa terlalu fokus dengan organisasi dan melupakan kuliah juga salah.
“Antara kuliah dan organisasi harus bisa seimbang dan maksimal karena selain kemampuan hard skill, kemampuan soft skill juga sangat diperlukan jika sudah lulus kuliah nanti,” tegasnya.
Selanjutnya, Taufan juga menegaskan bahwa kehidupan di kampus itu sangat berbeda dengan kehidupan di sekolah. Di sekolah, menurutnya, siswa masih disuapi dan masih diperhatikan oleh guru jika tidak masuk. Sedangkan di dunia perkuliahan, menurutnya, mahasiswa masuk ataupun tidak masuk tidak ada yang memperhatikan, karena dosen juga merupakan orang yang profesional.
“Syukuri apa adanya dan jalani dengan semangat karena tidak ada yang tahu skenario dari Tuhan. Jika yang kita hadapi sekarang bukan hal yang terbaik bagi kita, kita tidak mungkin akan menjalaninya sekarang,” tegasnya.
Diujung pembicaraannya, Taufan berpesan kepada mahasiswa agar ketika mempunyai suatu masalah, tidak mencari siapa yang salah melainkan mencari solusi.
Penulis : M. Najib Rahman (Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Angkatan 2017)
Editor : Nuri Hermawan





