UNAIR NEWS – Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan besar di lingkungan masyarakat. Sisa dapur seperti kulit buah sering kali langsung dibuang dan berakhir di tempat pembuangan akhir, padahal limbah tersebut masih bisa dimanfaatkan kembali. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menimbulkan bau tidak sedap, menghasilkan gas metana, dan dapat mencemari lingkungan.
Salah satu inovasi pengolahan limbah organik yang mudah diterapkan adalah pembuatan eco enzyme. Eco enzyme adalah cairan hasil fermentasi selama 3 bulan dari limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang dicampur dengan gula dan air. Eco enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand sebagai solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga yang murah, mudah, dan ramah lingkungan. Cairan eco enzyme ini berwarna cokelat dengan aroma asam segar, dan memiliki banyak manfaat, di antaranya sebagai pembersih alami, pupuk cair, antiseptik untuk luka, hingga pengusir hama.
Menurut wawancara dengan Ibu Wiwik, (2025). “Dulu pernah di rumah saya itu kemasukan tikus, lalu tikus itu masuk ke dapur, karena didalam dapur ada Eco Enzyme dalam botol, meskipun tertutup, tikus itu tidak tahan dengan baunya, lalu tikus itu melubangi pintu saya dan kabur, sejak saat itu tidak ada tikus dirumah saya”.
Sebagai upaya sederhana namun berdampak besar, kelompok BBK 7 Unair Kalijudan 3 mengadakan program kerja pembuatan eco enzyme dari kulit buah. Program ini bertujuan untuk mengedukasi dan memberikan contoh langsung ke masyarakat untuk mengolah sampah organik menjadi produk ramah lingkungan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Program kerja ini telah dilaksanakan pada 28 Januari 2026 di Balai Kelurahan Kalijudan dengan melibatkan DLH Kota Surabaya, Pokja Kota Surabaya, dan warga RW 3 sebagai peserta.
Program kerja mengenai eco enzyme ini dilakukan dengan cara sosialisasi terkait pengenalan eco enzyme, tujuan dan manfaat dari eco enzyme, cara pembuatan eco enzyme disertai edukasi mengenai sampah organik. Setelah dilakukannya edukasi, kelompok BBK 7 Unair juga melakukan demonstrasi cara pembuatan eco enzyme dan disaksikan langsung oleh warga RW 3 Kalijudan. Selain itu, kelompok BBK 7 Unair juga membuat Banner yang terdapat Barcode Youtube didalamnya yang berisi video cara membuat eco enzyme sebagai media panduan dan diletakkan di kelurahan kalijudan supaya tidak hanya warga RW 3 saja yang dapat mengakses, tetapi seluruh warga kalijudan.
Tujuan dilakukannya pembuatan Eco Enzyme yaitu untuk mengurangi sampah organik, yang mana sampah organik ini merupakan salah satu penyebab dari global warming itu sendiri. Maka dari itu, pembuatan Eco Enzyme selain memiliki banyak manfaat dan dapat mengurangi limbah organik, pembuatan Eco Enzyme juga dapat menyelamatkan bumi dari dampak global warming.
Berikut mengenai cara pembuatan eco enzyme dari kulit buah:
Bahan dan Alat
- kulit buah segar (3kg)
- gula merah / gula aren (1kg)
- air bersih (10L)
- galon bekas
- pisau dan talenan
- timbangan
Rasio paten antara kulit buah : gula merah : air adalah 3 : 1 : 10
Langkah-Langkah Pembuatan Eco Enzyme
- Isi galon dengan air bersih sebanyak 10 Liter
- Masukkan gula sebanyak 1kg lalu aduk hingga larut
- Bersihkan kulit buah dan potong menjadi bagian yang agak kecil
- Timbang kulit buah sebanyak 3kg lalu masukkan ke dalam galon yang telah berisi air dan gula
- Sisakan ruang kosong dalam galon sekitar 30% untuk proses fermentasi
- Tutup rapat dan simpan di tempat yang teduh
- Buka tutup galon setiap hari di minggu pertama untuk mengeluarkan gas
- Fermentasi berlangsung selama 3 bulan
- Setelah 3 bulan, saring cairan dan eco enzyme siap digunakan
Program kerja ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Penulis: Nadya Faza Suryani





