Penyakit kulit merupakan penyakit yang sering dijumai dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia, penyakit kulit masih menjadi masalah yang serius, begitu pula di Indonesia. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010, penyakit kulit menduduki peringkat ketiga dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-Indonesia. Pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit se-Indonesia, penyakit kulit menduduki peringkat ketiga dari 10 penyakit terbanyak. Sebagian besar penyakit kulit dapat dilakukan diagnosis secara klinis dengan mengamati bentuk lesi serta penyebaran lesi pada kulit, akan tetapi tidak semua penyakit kulit memberikan gejala klinis yang khas, sehingga diperlukan pemeriksaan histopatologi dari bahan biopsi kulit.
Biopsi kulit dikerjakan dengan cara mengambil sedikit jaringan kulit untuk diperiksa secara mikroskopis. Pemeriksaan ini tergolong tindakan invasif minimal tanpa meninggalkan bekas permanen pada kulit. Biopsi kulit adalah alat penting dalam penentuan diagnostik penyakit kulit. Korelasi antara gambaran klinis dan histologis yang didapatkan dari bahan biopsi kulit sangat dibutuhkan dalam penentuan diagnosis mengingat spektrum dari hasil pemeriksaan mikroskopis masing-masing penyakit kulit sangat bervariasi, sedangkan gejala klinis yang dapat terlihat sangat terbatas.
Pemeriksaan biopsi kulit diperlukan untuk diagnosis pasti penyakit neoplastik baik tumor jinak maupun tumor ganas kulit, serta penyakit non-neoplastik seperti inflamasi dan penyakit bawaan. Pada penyakit neoplastik, pemeriksaan biopsi kulit diperlukan untuk diagnosis pasti adanya keganasan (kanker kulit). Dengan pemeriksaan mikroskopis dapat dilakukan diagnosis pasti apakah suatu tumor kulit termasuk tumor jinak atau tumor ganas serta dapat menentukan jenis tumor. Pemeriksaan klinis saja tanpa biopsi kulit, tidak dapat menentukan jenis tumor kulit.
Untuk penyakit non-neoplastik, pemeriksaan mikroskopis bahan biopsi kulit diperlukan untuk menunjang diagnosis penyakit kulit. Penyakit non-neoplastik yang memerlukan pemeriksaan mikroskopis meliputi penyakit inflamasi kulit maupun non-inflamasi. Penyakit inflamasi pada kulit dapat disebabkan oleh infeksi seperti infeski virus, bakteri, jamur maupun parasite serta penyakit non-infeksi.
Asnar, Sandhika dan Listyawan telah mengumpulkan data biopsi kulit di RSU Dr Soetomo Surabaya dan mendapatkan 1.368 kasus biopsi kulit selama 5 tahun, mulai tanggal 1 Juli 2014 s/d 31 Juli 2019. Dari jumlah tersebut 15% biopsi dilakukan pada penyakit neoplastik dan 85% biopsi dari penyakit non-neoplastik. Proporsi jenis kelamin biopsi kulit hampir sama jumlahnya antara pria dan wanita. Pada penyakit non-neoplastik didapatkan 1.073 kasus biopsi kulit dengan penyakit terbanyak adalah kelompok eritropapulo-skuamous dermatosis, vesicobullous dermatosis, penyakit infeksi dan penyakit vasculitis, sedangkan pada penyakit neoplastik didapatkan 201 kasus biopsi kulit dengan diagnosis basal cell carcinoma, karsinoma sel skuamous, melanoma maligna, cutaneous lymphoma serta tumor jinak kulit.
Penyakit kelompok eritropapuloskuamous dermatosis terdapat 405 kasus biopsi. Kelompok penyakit ini ditandai dengan bercak kemerahan yang dapat rata dengan kulit atau bercak yang menonjol pada kulit dan disertai dengan kulit bersisik. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: psoriasis vulgaris, seborrheic dermatitis serta drug eruption. Penyakit-penyakit golongan ini dapat memberikan gambaran yang serupa secara klinis dan mikroskopis. Oleh karena itu untuk diagnosis pasti diperlukan korelasi antara pemeriksaan klinis dan pemeriksaan mikroskopis dari bahan biopsi kulit.
Penyakit kelompok vesicobullous mendapatkan 182 kasus biopsi kulit. Golongan penyakit ini ditandai oleh bintil-bintil berisi cairan yang tersebar di seluruh tubuh. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: Pemfigus vulgaris, bullous pemfigoid dan dermatitis herpetiformis. Penyebab penyakit golongan vesikobulous sebagian besar merupakan reaksi autoimun yakni adanya respon imun tubuh sendiri terhadap komponen jaringan kulit.
Pada kelompok penyakit jaringan ikat terdapat 100 kasus biopsi kulit. Kelompok ini meliputi Lupus erythematosus dan skleroderma yang keduanya merupakan penyakit autoimun dan menyerang berbagai organ tubuh secara sistemik. Komplikasi yang sering membawa kematian dari kedua penyakit tersebut adalah gagal ginjal dan infeksi. Kedua penyakit tersebut menyerang seluruh organ tubuh dengan manifestasi pada kulit sehingga pemeriksaan histopatologi dari bahan biopsi jaringan kulit dapatg mengungkap diagnosis penyakit tersebut.
Kasus biopsi kulit pada penyakit infeksi mendapatkan 247 kasus meliputi kasus infeksi lepra (morbus Hansen), tuberculosis kutis, infeksi jamur serta infeksi virus seperti verruca vulgaris, condyloma akuminata dan molluscum contagiosum. Pada infeksi bakteri maupun infeksi jamur, pengecatan histokimia pada jaringan biopsi kulit dapat mengidentifikasi adanya bakteri atau jamur penyebab infeksi pada jaringan kulit sedangkan pada infeksi virus, pemeriksaan histopatologi dari bahna biopsi kulit dapat mengungkap reaksi jaringan akibat infeksi virus tersebut sehingga dapat dilakukan identifasi adanya infeksi virus.
Biopsi kulit pada kelainan pigmentasi meliputi 73 kasus yang terdiri dari kasus hipopigmentasi (kulit dengan bercak berwarna putih) serta kasus hiperpigmentasi (kulit dengan bercak atau tonjolan yang berwarna coklat kehitaman). Pada penyakit hiperpigmentasi perlu diwaspadai adanya gejala tumor ganas melanoma maligna yang dapat memberikan gejala yang serupa dengan tahi lalat biasa yang disebut nevus. Dalam kasus dimana terdapat kecurigaan melanoma maligna, perlu dilakukan biopsi kulit untuk memastikan bahwa tidak terdapat tumor ganas.
Biopsi kulit pada penyakit neoplastik (tumor) meliputi 90 kasus tumor ganas dan 111 kasus tumor jinak. Tumor ganas pada kulit dapat berupa tumor ganas yang berasal dari jaringan kulit (tumor primer) ataupun tumor ganas dari organ lain yang menyebar ke jaringan kulit (tumor sekunder). Tumor ganas primer pada kulit yang paling banyak didapatkan pada penelitian ini adalah basal cell carcinoma sebanyak 42 kasus diikuti dengan karsinoma sel skuamous sebanyak 12 kasus. Gejala awal tumor kulit seringkali tidak spesifik seperti luka atau bercak kehitaman sehingga luput dari perhatian penderita. Pemeriksaan histopatologi dari bahan biopsi kulit dapat mengidentifikasi adanya tumor ganas kulit pada tahap dini.
Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan biopsi kulit merupakan tindakan yang penting untuk menegakkan diagnosis penyakit kulit secara pasti. Pengobatan penyakit kulit yang tepat sangat bergantung pada diagnosis yang akurat. Diagnosis kanker kulit dengan pemeriksaan histopatologi dari bahan biopsi kulit akan dapat mengidentifikasi adanya kanker kulit pada tahap dini sehingga dapat dilakukan terapi untuk kesembuhan penderita. Adanya kanker kulit yang terdeteksi pada stadium lanjut sering menghasilkan cacat permanen akibat operasi bahkan kematian akibat penyebaran sel kanker.
Penulis: Willy Sandhika
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel jurnal dengan judul: Profile of Skin Biopsy Patients in Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia dengan penulis R. A. Astrid Putri Wandhita Asnar, Willy Sandhika dan M. Yulianto Listiawan dan telah diterbitkan dalam jurnal Folia Medica Indonesiana, volume 58 nomer 1 bulan Maret 2022, halaman 1- 9.
Link artikel jurnal:Â http://dx.doi.org/10.20473/fmi.v58i1.16811





