Tumor neuroendokrin adalah tumor yang berkembang dari sel neuroendokrin, yaitu sel khusus yang memiliki karakteristik baik dari sel saraf (neuro) maupun sel endokrin (penghasil hormon). Sel-sel ini ditemukan di berbagai bagian tubuh, seperti saluran pencernaan, paru, pankreas dan kelenjar adrenal. Tumor Neuroendokrin memiliki sifat sebagai berikut:

Lokasi tumor neuroendokrin dapat timbul pada berbagai organ tubuh, seperti:

Gejala tumor neuroendokrin sangat bervariasi bergantung pada lokasi tumor dan apakah tumor tersebut aktif secara hormon (fungsional) atau bersifat tidak aktif menghasilkan hormon (non-fungsional). Contoh gejala tumor neuroendokrin adalah:

Gejala – gejala tersebut tidak bersifat khas sehingga adanya tumor neuroendokrin tidak dapat ditentukan dari pemeriksaan klinis.

Untuk tumor neuroendokrin yang bersifat fungsional (menghasilkan hormon), diagnosis tumor endokrin dapat menggunakan pemeriksaan darah atau urine untuk mengukur hormon atau penanda spesifik seperti chromogranin-A. Akan tetapi untuk tumor neuroendokrin yang tidak fungsional, diagnosis hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan Patologi Anatomi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan Imunohistokimia dari spesimen biopsi tumor atau bahan operasi tumor.  

Pemeriksaan Patologi Anatomi memainkan peran yang sangat penting dalam diagnosis dan penentuan karakteristik tumor neuroendokrin. Proses ini melibatkan analisis jaringan tumor yang didapatkan dari sampel biopsi atau bahan operasi dan selanjutnya dibuat potongan jaringan yang sangat tipis untuk diperiksa di bawah mikroskop. Setelah tahapan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk mengidentifikasi asal, jenis, dan tingkat keganasan tumor. Pemeriksaan Patologi Anatomi yang dilanjutkan dengan Imunohistokimia merupakan standard baku emas dalam menegakkan diagnosis tumor neuroendokrin.

Pemeriksaan Imunohistokimia yang umum dikerjakan untuk menegakkan diagnosis tumor neuroendokrin meliputi pemeriksaan Chromogranin-A, Synaptophysin dan CD56. Ketiga jenis pemeriksaan imunohistokimia di atas dapat membedakan dengan pasti apakah suatu tumor merupakan tumor neuroendokrin atau bukan. Pemeriksaan imunohistokimia lain dapat menentukan subtype tumor seperti insulinoma, gastrinoma pada pancreas, tumor karsinoid pada paru atau saluran cerna dan tumor Pheochromocytoma pada kelenjar adrenal.

Tumor neuroendokrin memiliki sifat khusus serta penanganan yang khusus sehingga harus dibedakan dari tumor lainnya. Diagnosis suatu tumor neuroendokrin merupakan hal yang sangat menentukan dalam penatalaksaan pasien. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan Patologi Anatomi dan Imunohistokimia untuk mendeteksi berbagai petanda neuroendokrin. Berbagai macam petanda yang dapat diperiksa untuk menegakkan diagnosis tumor neuroendokrin telah dijelaskan dalam artikel jurnal dengan judul “Neuroendocrine Biomarkers” yang dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Advances volume 5 nomer 6 bulan Desember 2024 dengan penulis Ester Melati Hasiana Pasaribu dan Willy Sandhika.

Link jurnal:

https://www.ijscia.com/neuroendocrine-biomarkers/