n

Universitas Airlangga Official Website

Pemuda Harus Peduli dan Bertindak

Khofifah menjadi pemateri
Khofifah Indar Parawansa saat memberikan paparan dalam seminar nasional di Aula AMERTA Gedung Manajemen UNAIR Kampus C. (Foto: Helmy Rafsanjani)

NEWS UNAIR – Peran serta anak muda dalam mewujudkan suatu perubahan sangat besar. Pemuda harus ikut andil dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial masyarakat. Petikan Bung Karno yang berbunyi ”Beri aku 10 pemuda, maka akan aku guncangkan dunia” bukan jargon semata. Itu mengisyarakatkan bahwa pemuda menjadi ujung tombak perubahan.

Airlangga Urban Social Community Airlangga (AUSCA) Urban Social Community Award merupakan serangkaian acara di bawah naungan Kementerian Pengabdian Masyarakat, BEM KM Universitas Airlangga (UNAIR).

Hadir dalam awarding Khofifah Indar Parawansa yang menyampaikan apreasiasi atas terselenggaranya AUSCA urban sosial community. Dia mengungkapkan, program semacam itu bisa menjadi role model atas kepedulian BEM UNAIR dalam membentuk perpustakaan di tingkat dusun.

”Ini bagian dari terminologi kid jaman now yang menjadi roh gerakan pemuda dalam melakukan gerakan sosial. Melalui acara tersebut, BEM UNAIR melakukan dengan pendekan dalam menurukan gini rasio,” ucap Khofifah yang juga alumnus UNAIR.

Menurut dia, kesenjangan sosial dijawab BEM UNAIR dengan program-program yang nyata. Kepedulian dalam meningkatkan minat baca di Kampung Jolosutro, Blitar, menjadi bukti nyata peran anak muda.

”Masyarakat nanti bisa memaksimalkan perpustakaan untuk bisa membuka wawasannya. Anak-anak bisa menambah pengetahuannya. Kehadiran perpustakaan akan di tengah masyakat semoga bisa memberikan kesadaran bakal penting membaca,” tutur Khofifah.

Menanggapi hal tersebut, Anang Fajrul selaku ketua BEM UNAIR menyampaikan hal yang serupa. Pemuda maupun mahasiswa harus ikut serta menyelesaikan persoalan-persoalan sosial, terutama melalui bidang-bidang pengabdian masyarakat.

”Apalagi dengan berbagai latar belakang ilmu yang dimiliki, mahasiswa bisa berkolaborasi untuk menjawab persoalan di masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Anang, banyak komunitas atau individu yang selama ini berkecimpung di dunia pengabdian yang mampu membawa pengaruh bagi masyarakat. Hal itu patut diapresiasi sehingga ke depan, semangat berbagi, terutama mahasiswa, terhadap persoalan di masyarakat bisa terbangun.

Khofifah menambahkan, KH Wahid Hasyim pernah menjadi anggota BPUPKI termuda, yakni berusia 30 tahun. Energi usia muda mereka dihabiskan untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Catatan sejarah telah memberikan pelajaran bagi kita untuk mengisi masa muda dengan energi yang positif, terutama turut membangun kemajuan bangsa dan negara, melalui solusi atas permasalahan terdekat.

”BEM UNAIR, misalnya, yang telah mewujudkannya melalui acara semacam ini bisa menjadi teladan yang patut diapresiasi. Terutama atas kepedulian melihat persoalan di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Feri Fenoria