Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun dan inflamasi yang berpotensi menyerang seluruh bagian tubuh manusia. Meskipun penggunaan obat anti-rematik, tingkat artroplasti lutut total tetap tinggi. Komplikasi kritis seperti infeksi, dislokasi, dan kekambuhan setelah artroplasti lutut total juga dilaporkan tinggi dan oleh karena itu, manajemen yang tepat selama periode perioperatif sangat penting. Kami melaporkan manajemen perioperatif pasien dengan rheumatoid arthritis lanjut dan kontraktur lutut yang menjalani tenotomi.
Presentasi Kasus: Seorang laki-laki berusia 22 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya dengan keluhan utama nyeri pada selangkangan kanan dan kiri. Ia juga mengeluhkan imobilisasi dan kekakuan pada kedua lututnya. Dia telah didiagnosis dengan tuberkulosis tulang pada tahun 2014 dan menjalani penggantian lutut total kedua lutut pada tahun 2015 karena kekakuan dan ketidakmampuan untuk berjalan. Pemeriksaan radiografi menunjukkan erosi dan hilangnya ruang sendi pada sendi pinggul, jari tangan, dan kaki. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif vimentin citrullinated (anti-MCV), mengkonfirmasikan rheumatoid arthritis. Pasien menjalani operasi tenotomi dan diobati dengan metilprednisolon 4 mg peroral setiap hari, klorokuin 250 mg peroral setiap hari, dan natrium diklofenak peroral untuk mengurangi rasa sakit. Tenotomi dilakukan. Mempertimbangkan aktivitas penyakit, DMARD konvensional (klorokuin 250 mg peroral dan steroid dosis rendah, metilprednisolon 1x4mg peroral) diresepkan.
Kasus ini menyoroti kompleksitas manajemen perioperatif rheumatoid arthritis akhir dan kontraktur lutut yang menjalani tenotomi yang membutuhkan berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, tim kolaboratif interdisipliner sangat penting untuk dapat mencapai hasil yang optimal.
Penulis: Asri Insanur Rahma, Awalia
Sumber: Journal Bali Medical Journal; 11I/2





