Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pemerintah terus mendorong agar proses persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan karena lebih aman dan diawasi tenaga profesional. Namun, di tengah upaya tersebut, pernikahan usia dini masih terjadi, dan banyak remaja putri yang mengalami kehamilan di usia sangat muda. Lalu, apa faktor yang membuat para remaja ibu ini memilih melahirkan di fasilitas kesehatan? Ternyata, jawabannya banyak bertumpu pada satu hal penting: pendidikan.
Studi berbasis data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang melibatkan 609 ibu remaja menunjukkan kenyataan yang cukup memprihatinkan: hanya 49,7% remaja ibu melahirkan di fasilitas kesehatan. Artinya, separuh lainnya melahirkan di rumah atau di tempat yang kurang aman.
Temuan menarik muncul ketika melihat hubungan antara pendidikan dan pilihan tempat melahirkan. Remaja ibu yang hanya berpendidikan sekolah dasar memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan di fasilitas kesehatan dibandingkan mereka yang tidak sekolah. Peluang itu meningkat drastis pada remaja yang lulus SMP, dan makin tinggi pada mereka yang menamatkan SMA. Secara sederhana, semakin tinggi pendidikan seorang remaja, semakin besar peluang ia memilih melahirkan di fasilitas kesehatan.
Mengapa pendidikan begitu menentukan? Pertama, pendidikan membuat remaja putri lebih memahami risiko kehamilan dan pentingnya pertolongan medis saat bersalin. Mereka lebih percaya pada tenaga kesehatan, lebih mampu mengenali tanda bahaya, dan lebih siap mengambil keputusan penting untuk keselamatan diri dan bayinya. Kedua, pendidikan meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan mengambil keputusan, bahkan ketika menghadapi tekanan budaya atau keluarga yang cenderung mendorong persalinan di rumah. Ketiga, pendidikan berkaitan erat dengan akses ekonomi; semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang untuk bekerja dan memiliki kemandirian finansial, sehingga biaya persalinan bukan hambatan utama.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa remaja ibu yang tinggal di kota lebih banyak melahirkan di fasilitas kesehatan dibandingkan yang tinggal di desa. Akses yang lebih mudah, transportasi yang lebih baik, serta keberadaan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap membuat remaja di kota lebih nyaman untuk bersalin di institusi kesehatan. Sementara di daerah pedesaan, jarak, biaya transportasi, dan keterbatasan tenaga kesehatan sering menjadi penghalang.
Faktor lain yang turut mendukung adalah kepemilikan asuransi kesehatan dan kunjungan antenatal care (ANC). Remaja ibu yang rutin memeriksakan kehamilan enam kali atau lebih, serta mereka yang memiliki jaminan kesehatan, lebih terbiasa berinteraksi dengan tenaga medis dan lebih terinformasi tentang pentingnya persalinan di fasilitas kesehatan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa remaja ibu yang bekerja lebih mungkin memilih bersalin di fasilitas kesehatan. Kemandirian ekonomi membuat mereka mampu mengatasi hambatan biaya. Selain itu, remaja yang baru pertama kali hamil (primipara) lebih cenderung memilih layanan kesehatan karena kekhawatiran akan risiko persalinan pertama.
Temuan-temuan tersebut memberi pesan kuat bagi pembuat kebijakan: peningkatan pendidikan bagi remaja perempuan adalah investasi yang berdampak langsung pada kesehatan ibu dan bayi. Upaya mencegah pernikahan dini, memperluas akses sekolah berkualitas di daerah terpencil, menyediakan beasiswa bagi anak perempuan, serta memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum dapat menjadi langkah penting.
Selain itu, edukasi kesehatan untuk keluarga dan komunitas juga diperlukan. Banyak keputusan terkait tempat melahirkan tidak hanya ditentukan oleh ibu, tetapi juga dipengaruhi suami, orang tua, dan budaya setempat. Dengan meningkatkan pemahaman seluruh anggota keluarga, remaja ibu akan lebih didukung untuk melahirkan secara aman.
Pada akhirnya, hasil studi ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya penentu masa depan ekonomi seseorang, tetapi juga penentu keselamatan seorang ibu muda dan bayinya. Semakin lama seorang remaja perempuan bersekolah, semakin besar peluang ia menjalani persalinan yang aman—dan itu berarti peluang hidup yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Penulis : Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat – Universitas Airlangga
Sumber : Wulandari, R.D., Laksono, A.D., Astuti, Y., 2025, The education role on institutional delivery among teenage mothers in Indonesia: A national wide survey, Clinical Epidemiology and Global Health, Volume 32, 101970
DOIÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â : https://doi.org/10.1016/j.cegh.2025.101970





