UNAIR NEWS – Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pengabdian masyarakat tentang Penguatan Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Lingkungan melalui Pemahaman Bahaya Mikroplastik terhadap Biota. Acara yang melibatkan siswa-siswi sekolah menengah tersebut terlaksana pada Kamis (12/6/2025), di Gedung Pertamina, lantai tiga R. 304, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Kampus MERR-C.
Prof Dr Ir Agoes Soegianto DEA, dosen Teknik Lingkungan, FST UNAIR menyampaikan materi seputar bahaya mikroplastik, selaras dengan kepakarannya yakni ekotoksikologi. Ia mengatakan bahwa ia sering melakukan penelitian tentang mikroplastik. Menurutnya mikroplastik adalah suatu hal yang menarik untuk diteliti. “Mikroplastik itu menarik. Meski kecil, dampaknya signifikan walaupun dampak pastinya masih harus diteliti,” ungkapnya.
Dampak Mikroplastik
Ia menyoroti tentang Indonesia yang menjadi negara kedua penyumbang polusi plastik paling banyak di dunia. “Indonesia menjadi negara kedua penyumbang polusi plastik terbanyak dan semua lingkungan perairan tidak ada yang bebas dari mikroplastik. Bahkan di sumber mata air dan udara terdapat mikroplastik karena sangat kecil,” jelasnya.

Selain itu, ia juga membahas mengenai penelitian tentang populasi mikroplastik di Laut Jawa. “Setelah dianalisis, populasi dari mikroplastik mengalahkan populasi plankton yang ada di sana. Hal tersebut sangat mungkin menyebabkan ikan salah memakan mikroplastik karena mirip dengan plankton,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa jika ikan memakan mikroplastik yang ada di laut, hal tersebut dapat menyebabkan luka pada sistem pencernaan ikan. Selain itu, mikroplastik yang terbawa ke tubuh ikan juga berpotensi membawa racun dan menumpuk pada rantai makanan.
Mikroplastik juga dapat membawa bahan bahan lingkungan disekitarnya mulai dari logam berat hingga bakteri. “Mikroplastik memang akumulator berbagai bahan tercemar seperti logam berat, dan juga bakteri. Bahan tersebut dapat masuk ke tubuh manusia saat memakan ikan yang mengandung mikroplastik,” tuturnya.
Namun, ia mengatakan bahwa mikroplastik memang lama kelamaan akan membawa dampak. Akan tetapi, masih belum ada penelitian yang mengatakan dengan pasti bahwa mikroplastik itu berdampak nyata. “Belum ada penelitian yang menyatakan bahwa mikroplastik berdampak nyata pada manusia, hal ini karena 80 persen mikroplastik yang masuk akan ikut dikeluarkan,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa cara menanggulangi mikroplastik adalah pengelolaan sampah yang baik dari hulu ke hilir. “Pengelolaan sampah yang baik dari hulu ke hilir perlu adanya dukungan dari pemerintah,” ucapnya.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





