Patch transdermal adalah sistem penghantaran obat non-invasif yang memungkinkan zat aktif memasuki aliran darah melalui kulit. Efektivitas Patch bergantung pada kemampuan obat untuk dilepaskan dari matriksnya dan menembus lapisan terluar kulit, stratum korneum. Patch transdermal umumnya dikategorikan menjadi dua jenis: sistem reservoir dan sistem matriks. Patch tipe matriks merupakan sistem yang banyak digunakan. Keunggulan sistem ini adalah bentuk sediaannya yang tipis dan mudah diaplikasikan. Sistem matriks biasanya terdiri dari lapisan perekat, matriks obat-polimer, dan lapisan pendukung. Dalam desain ini, obat terdistribusi secara merata dalam campuran polimer hidrofilik dan hidrofobik. Pemilihan polimer dalam patch tipe matriks terutama didasarkan pada optimalisasi pemuatan obat dengan eksipien lain, serta sifat fisikokimia, kompatibilitas, kendali pelepasan obat, dan stabilitasnya.
Sebagai polimer hidofob digunakan etil selulosa (EC) N22, sedang polimer hidrofil digunakan kombinasi hidroksipropil metilselulosa (HPMC)E-15 dan karboksimetil kitosan (CMC). Etil selulosa (EC) N-22 merupakan polimer hidrofobik yang memiliki sifat biokompatibel, polimer ini berperan mencegah pelepasan obat dari sediaan. Hidroksipropil metilselulosa (HPMC) E15 merupakan turunan polimer selulosa yang banyak digunakan dalam formulasi pelepasan obat terkontrol. Polimer ini bersifat hidrofilik dan mudah terhidrasi, sehingga mempercepat pelepasan obat. Sementara itu, karboksimetil kitosan (CMC) merupakan turunan kitosan yang larut dalam air, memiliki biokompatibilitas yang baik, biodegradabel, toksisitas rendah, dan fleksibilitas tinggi. CMC juga memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menjerat senyawa aktif dibandingkan kitosan. Oleh karena itu, EC, HPMC E15, dan CMC berpotensi digunakan sebagai pembawa dalam formulasi patch natrium diklofenak tipe matriks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan pelepasan patch natrium diklofenak tipe matriks pada berbagai konsentrasi polimer karboksimetil kitosan (CMC), HPMC E15, dan EC N22 dengan perbandingan polimer karboksimetil kitosan (CMC), HPMC E15, dan EC N22 (F1 = 1:3:1,5; F2 = 2:2:1,5; F3 = 3:1:1,5).
Patch natrium diklofenak dibuat dengan teknik penguapan pelarut. Evaluasi yang dilakukan meliputi: pengamatan organoleptik, uji keseragaman berat, uji ketebalan, moisture content, kadar obat, uji homogenitas, morfologi permukaan, dan uji pelepasani. Pengamatan organoleptis patch dilakukan secara visual meliputi warna, bau, elastisitas, dan konsistensi permukaan sediaan. Uji keseragaman berat dilakukan dengan menimbang sedian patch. Uji ketebalan dilakukan menggunakan alat Digital Thickness dengan membagi empat bagian area yang akan diukur. Ketebalan setiap sisi sampel diukur, dan dihitung nilai rata-ratanya. Moisture Content dilakukan dengan menimbang patch dan disimpan dalam desikator yang berisi silika gel pada suhu ruang hingga mencapai berat konstan. Konsentrasi obat ditentukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 272,2 nm. Syarat kadar obat sediaaan patch adalah 85% dan 115%. Berdasarkan hasil penelitian kadar natrium diklofenak dalam sediaan patch Adalah F1 91,68 ±3,02 %; F2 89,95 ± 0,56 % dan F3 90,15 ± 0,76%. Uji Homogenitas dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan bahwa kadar obat pada seluruh area patch homogen agar didapatkan efek terapi yang baik. Uji homogenitas dilakukan dengan memotong sediaan patch menjadi tiga bagian, melarutkannya dalam 25 mL larutan buffer fosfat salin (pH 7,4 ± 0,05). Didapatkan hasil homogenitas kadar F1 91,01 ± 3,17%; F2 91,39 ± 0,43% dan F3 91,10 ± 0,91%. Morfologi permukaan patch diperiksa menggunakan Scanning Elektron Mikroscope (SEM) untuk memberikan visualisasi detail karakteristik permukaan. Sedangkan nilai MC dari masing-masing formula patch berturut-turut untuk F1, F2 dan F3 adalah 5,69 ± 0,19%; 6,28 ± 0,33% dan 6,34 ± 0,36%. Berdasarkan uji pelepasan natrium diklofenak dari formula F1, F2, dan F3, polimer CMC berpengaruh terhadap pelepasan natrium diklofenak dari sediaan patch. Peningkatan jumlah CMC berbanding lurus dengan persentase kumulatif pelepasan natrium diklofenak mengikuti orde nol dengan memplot % kumulatif yang dilepaskan terhadap waktu, yang berarti bahwa kecepatan pelepasan obat konstan selama periode waktu tertentu tanpa dipengaruhi oleh konsentrasi obat. Peningkatan konsentrasi CMC dapat meningkatkan kecepatan pelepasan natrium diklofenak dari sediaan patch Fluks F1, F2 dan F3 berturut turut adalah 0,0255± 0,002 ; 0,0351± 0,009 dan 0,0466 ± 0,003 μg/cm²/menit. Peningkatan nilai fluks dapat terjadi karena konsentrasi CMC yang tinggi yang dapat meningkatkan nilai MC. Semakin tinggi nilai MC, semakin tinggi jumlah obat yang dilepaskan dari sediaan.. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi polimer CMC, HPMC E15, dan EC N22 dapat memengaruhi morfologi permukaan, keberadaan polimer CMC dapat meningkatkan % MC. Formula F3, dengan perbandingan polimer CMC, HPMC E15, dan EC N22 (3:1:1,5), memberikan nilai fluks pelepasan tertinggi dengan karakteristik fisik patch yang baik sehingga terpilih sebagai formula optimal.
Article Title:
Characterization of Matrix Type Diclofenac Sodium Patch as a Transdermal Delivery
System: Effect of Polymer Concentration
Journal:
Tropical Journal of Natural Product Research 2025; 9(10): 5133 – 5137.





