Produksi ASI yang tidak mencukupi mengancam tujuan Indonesia untuk memberikan ASI eksklusif pada tahun 2023. Keputusan awal untuk menghentikan pemberian Air Susu Ibu (ASI) disebabkan oleh karena produksi ASI yang tidak mencukupi bagi bayi. Persepsi kekurangan pasokan ASI adalah salah satu alasan utama penghentian pemberian ASI, dengan angka kejadian angka ketidak cukupan ASI berkisar antara 10% hingga 25%. Sebuah penelitian terhadap ibu yang baru melahirkan (primipara) dan sering melahirkan (multipara) yang menghentikan pemberian ASI dalam 6 bulan karena mereka merasa ASI tidak cukup.
Persentase bayi yang diberi ASI eksklusif adalah 90% di antara ibu multipara berusia 20-an dan 70% atau lebih tinggi di antara mereka yang berusia 40-an. Selain itu, tingkat pemberian ASI eksklusif lebih tinggi pada ibu multipara dibandingkan dengan ibu primipara pada berbagai usia, khususnya pada usia 1 minggu dan 1 bulan. Ibu multipara dapat menyusui di usia 40-an, tetapi ibu primipara sering mengalami kesulitan setelah usia 35 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya usia ibu tetapi juga jumlah anak harus dipertimbangkan dalam pengalaman menyusui untuk memberikan dukungan psikologis yang efektif bagi ibu menyusui.
Usia, jumlah kelahiran (paritas), dan jenis kelamin memengaruhi produksi ASI. Paritas yang lebih sering berhubungan dengan durasi menyusui bayi lebih lama. Upaya untuk mempertahankan produksi ASI meliputi memodifikasi ASI agar sesuai dengan kebutuhan bayi, memastikan pemberian ASI yang konsisten, dan memompa secara teratur. Memerah ASI adalah memompa atau mengeluarkan ASI baik dengan pompa elektrik maupun dengan tangan ibu, lalu memberikan ASI tersebut kepada bayi menggunakan cangkir, sendok, atau botol. Pola memompa ASI yang meniru hisapan bayi dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Pemberian ASI eksklusif dengan pompa elektrik lebih efektif dibandingkan dengan pemompaan manual untuk meningkatkan produksi ASI pada bayi dengan berat lahir rendah. Kemampuan pompa untuk memompa ASI bergantung pada jumlah dan kecepatan hisapan vakum. Salah satu upaya mengatasi ketidak cukupan produksi ASI adalah dengan intervensi pompa ganda. Intervensi pompa ganda adalah dengan cara berikut: 20 menit pertama memerah, dilanjutkan dengan 10 menit istirahat, kemudian memerah lagi selama 10 menit, 10 menit istirahat, dan 10 menit memerah. Siklus pompa ganda didasarkan pada perbandingan pasokan ASI dari pemerahan simultan kedua payudara dengan pemerahan berurutan.
Penelitian kami mengevaluasi dampak intervensi pompa ASI ganda terhadap produksi ASI berdasarkan usia ibu dan paritas, ibu primipara dan multipara berusia 20 hingga ≥30 tahun. Pompa ganda dilakukan pada kedua payudara 8 kali sehari selama 6 hari. Penelitian ini dilakukan di Samarida, Kalimantan Timur, dengan sebanyak 30 ibu menyusui yang ikut penelitian. Didapatkan hasil peningkatan produksi ASI setelah intervensi pompa ganda pada mereka yang berusia 20 hingga ≥ 30 tahun, primipara, dan multipara dibandingkan sebelum intervensi.
Produksi ASI optimal terjadi pada ibu berusia antara 20 – 30 tahun, dengan lebih dari 50% mencapai komposisi ASI yang sangat baik. ASI eksklusif menunjukkan angka 90% pada ibu multipara berusia 20-an dan lebih dari 70% pada ibu berusia 40-an. Sebagian besar ibu mulai memompa ASI enam minggu setelah melahirkan. Kesimpulan, intervensi pompa ganda dapat meningkatkan produksi ASI yang memadai pada ibu berusia 20 – ≥30 tahun, baik primipara maupun multipara. Produksi ASI yang efektif dapat mencegah penumpukan inhibitor umpan balik polipeptida sehingga tidak ada hambatan terhadap umpan balik laktasi, dan ini bergantung pada isapan bayi, stimulasi pelepasan oksitosin, frekuensi, dan durasi pemompaan, tetapi pemompaan yang lebih sering tanpa menyusui langsung dapat menyebabkan durasi produksi ASI yang lebih pendek.
Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Disarikan dari artikel dengan judul: “Effect of Dual Power Pumping on Breast Milk Production Among Mothers by Age and Parity” yang diterbitkan bulan September 2025 di Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences (2025) 21(SUPP10):40-44. doi:10.47836/mjmhs.21.s10.9 Link: https://medic.upm.edu.my/our_journal/volume_21_2025/mjmhs_vol21_supp_10_november_2025-90274





