UNAIR NEWS – Bina Abdi Desa serta 4 mahasiswa perwakilan D3 Pengobatan Tradisional meramu obat herbal bersama warga Dusun Kedung Dendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (17/8).
Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (PENGMAS BEM FEB Unair.red) hadir kembali dengan program kerja tahunannya yaitu Bina Abdi Desa 2018.
Bila kita sedang sakit umumnya kita mengkonsumsi obat generik ataupun langsung tidur, opsi untuk meramu obat herbal tidaklah sering. Meramu obat herbal memiliki banyak khasiat pula yang tidak kalah dengan obat generik. Selain menghemat biaya, bahan untuk obat herbal ini juga berasal dari bahan dapur yang biasanya dijumpai, seperti jahe, temulawak, daun sirih, kencur dan lain sebagainya.
Berdasarkan survei yang diadakan oleh para panitia pada bulan Mei dan Juli lalu,dengan responden 50 warga Dusun Brangkal dan Kedung Dendeng, mayoritas warga Desa Jipurapah memiliki riwayat penyakit asam urat, kolesterol tinggi, tifus, serta pegal dan linu. Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut, para warga beralih pada obat-obat yang ada, terbatas oleh variant dan kuantitas. Berobat ke puskesmas terdekat bukan pula hal yang mudah karena yang terdekat terletak di Kecamatan Ploso, yang rata-rata membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapainya dari Dusun Brangkal dan 2.5 jam dari Dusun Kedung Dendeng.
“Memang karena kendala akses dan finansial untuk berobat disini susah, maka dari itu kita berusaha nemberi tahu alternatif lain yang lebih bisa mereka dapatkan.” ujar Firda Taufany selaku Koordinator Bidang Kesehatan.
Untuk meningkatkan kualitas dari sosialisasi ini, Bina Abdi Desa bekerja sama dengan mahasiswa D3 Jurusan Pengobatan Tradisional (Batra) sebagai pemateri dari kegiatan tersebut. Sosialisasi tersebut dihadiri oleh mayoritas ibu rumah tangga yang antusias dengan diadakannya kegiatan belajar pembuatan obat herbal. Dalam sosialisasi tersebut, para hadirin juga dibagikan katalog yang dibuat oleh para mahasiswa berisi macam-macam tanaman obat dan cara pembuatannya.
“Alhamdulillah ada sosialisasi seperti ini, karena ya sebelumnya belum pernah dilakukan juga dan katalog yang diberi ini bermanfaat juga,” ujar Bu Yasmining warga RT 2
Dengan diadakan sosialisasi ini diharapkan para warga serta para panitia Bina Abdi Desa untuk dapat melihat obat herbal sebagai alternatif pengobatan yang lebih baik dan lebih digunakan di masa depan.
Kemudian, (18/8) Mahasiswa D3 Pengobatan Tradisional (Batra) memberikan cek kesehatan gratis yang dikenal dengan Akupuntur dari jarum yang ditusuk pada bagiam tubuh yang menderita sakit.
Pengobatan akupuntur mendapatkan respon positif dari masyarakat, sehingga atunsias warga membeludak. Masyarakat berbondong – bondong mendatangi tempat pengobatan walaupun harus meninggalkan pekerjaan ke sawah untuk memanen cabai.
“Alhamdulillah, setelah mendapatkan pengobatan ini, sedikit mengalami perubahan walaupun tidak permanen. Rasa nyeri, pegal linu, sedikit menetralisir dari sebelumnya. Tusukan jarum pun tidak melukai tubuh,” imbuhnya.
Dengan harapan masyarakat Jipurapah untuk pengobatan ini terus berjangka panjang tidak hanya setiap mahasiswa Universitas Airlangga datang tiap tahunnya. Karena pekerjaan yang dialami harus membanting tulang demi sesuap nasi. (*)
Penulis : Rolista Dwi Oktavia
Editor: Binti Q. Masruroh





