Residual Cancer Burden (RCB) adalah cara penilaian patologis untuk mengukur seberapa banyak kanker payudara yang masih tersisa setelah pasien setelah menjalani kemoterapi neoadjuvan (kemoterapi sebelum operasi) pada kanker payudara. Penilaian RCB dilakukan untuk menjawab pertanyaan: “Setelah kemoterapi, masih berapa banyak kanker yang tersisa di payudara dan kelenjar getah bening?” Penilaian RCB dilakukan pada spesimen bahan operasi pengangkatan payudara (mastektomi) yang dikirimkan ke Laboratorium Patologi Anatomi. Pada spesimen jaringan mastektomi akan dievaluasi apakah kemoterapi yang diberikan sebelum operasi dapat memberikan respons yang baik atau respons yang minimal. Penilaian RCB dapat memberikan gambaran yang lebih rinci dalam hal: memprediksi kekambuhan, memperkirakan harapan hidup dan membantu keputusan terapi lanjutan
RCB dinilai oleh dokter spesialis Patologi Anatomi dari jaringan hasil operasi dengan menilai: ukuran area bekas tumor di payudara, persentase sel kanker yang masih hidup di area tersebut, jumlah kelenjar getah bening yang masih mengandung sel kanker dan ukuran metastasis di kelenjar getah bening. Data-data ini kemudian dimasukkan ke dalam kalkulator RCB (yang dikembangkan oleh MD Anderson Cancer Center) untuk mendapatkan skor numerik. Hasil akhir penilaian RCB dibagi menjadi 4 kategori:
- RCB-0: Tidak ada sisa sel kanker
- RCB-1: Sisa sel kanker sangat minimal
- RCB-2: Sisa sel kanker dalam jumlah sedang
- RCB-3: Masih didapatkan sisa sel kanker dalam jumlah banyak
Semakin tinggi RCB, semakin besar sisa kanker dan semakin tinggi risiko kekambuhan.
Fishella Aprista Rahmanti dan Willy Sandhika telah melakukan penelitian untuk mencari apakah terdapat gambaran mikroskopis tertentu pada jaringan kanker yang berhubungan dengan hasil penilaian RCB. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan melakukan analisis pada 68 pasien kanker payudara yang telah menjalani kemoterapi neoadjuvan. Para peneliti mengevaluasi apakah beberapa faktor yang sering digunakan dalam praktik sehari-hari berhubungan dengan nilai RCB, yaitu:
- Derajat keganasan / derajad diferensiasi (grade) sel kanker
- Jenis histopatologi kanker payudara
- Subtipe molekuler kanker payudara (luminal A, luminal B, HER2-enriched, dan triple negative)
- Indeks proliferasi Ki-67 yakni penanda seberapa cepat sel kanker membelah diri
Hasil dari penelitian menunjukkan Tidak ada hubungan bermakna secara statistik antara keempat faktor tersebut dengan tingkat RCB. Dengan kata lain, kanker dengan grade tinggi, subtipe tertentu, atau Ki-67 yang sangat tinggi tidak selalu berhubugan dengan tingkat penilaian RCB setelah kemoterapi. Sebagian besar pasien berada pada kategori RCB-2 dan RCB-3, menandakan masih adanya sisa kanker dalam jumlah sedang hingga luas, terlepas dari karakteristik awal tumor.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa biologi kanker jauh lebih kompleks daripada yang bisa dijelaskan oleh satu atau dua penanda saja. Respons terhadap kemoterapi kemungkinan dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti:
- Jenis dan kombinasi obat kemoterapi yang digunakan
- Respons sistem imun terhadap tumor
- Perubahan biologis kanker selama pengobatan
- Faktor mikro-lingkungan tumor
Studi di atas menegaskan satu hal penting yakni penilaian RCB adalah alat prognostik yang sangat berharga untuk menilai respons kemoterapi pada Kanker Payudara. Penilaian ini tidak dapat digantikan dengan hasil penilaian Patologi Anatomi maupun Patologi Molekuler pada umumnya.
Artikel Ilmiah Populer diambil dari artikel dengan judul:
Pathological and Molecular Parameters Show No Significant Association with Residual Cancer Burden In Breast Carcinoma, dengan penulis: Fishella Aprista Rahmanti, Willy Sandhika dan Lusiani Tjandra, yang telah terbit pada: Folia Medica Indonesiana, volume 61, nomer 2 tanggal 26 Desember 2025.
Link jurnal: https://scholarly.unair.ac.id/fk-fmi/vol61/iss2/7/





