Penyakit kardiovaskular (PKV) adalah penyebab kematian utama di seluruh dunia dan menyebabkan beban secara finansial dan non finansial yang lebih besar daripada penyakit lainnya. Pada tahun 2010, penyakit kardiovaskular menyumbang 30% dari 52 juta kematian di seluruh dunia. Dan dalam dua dekade terakhir, beban penyakit kardiovaskular telah beralih dari negara maju ke negara berkembang, terutama di negara dengan penghasilan rendah dan menengah (LMICs) seperti Indonesia. Di negara maju, proporsi kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular menurun dari 48% pada tahun 1990 menjadi 43% pada tahun 2010, hal ini naik dari 18% menjadi 25% di negara-negara berkembang selama periode waktu yang sama. Beban PKV di negara berkembang mulai meningkat, sedangkan di negara maju justru sebaliknya. Dalam dua dekade terakhir, telah terjadi pergeseran nyata dalam distribusi kematian yang dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular (PKV) antara negara berkembang dan negara maju; di negara maju, persentase kematian yang disebabkan oleh PKV menurun. Di Indonesia, kematian akibat CVD telah meningkat secara substansial dan tetap meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Faktor risiko perilaku dan metabolik saat ini, termasuk hiperglikemia, obesitas, dislipidemia, hipertensi, dan merokok, meningkatkan risiko kematian PKV menurut beberapa penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan apakah peningkatan angka kematian dan kejadian CVD dapat dikaitkan dengan perubahan faktor risiko metabolik dan perilaku yang paling umum dari tahun 2000 hingga 2019 di 34 provinsi di Indonesia.
Data dari 34 provinsi dinanalisi terutama terkait insiden dan kematian PKV dan data tentang perubahan faktor risiko metabolik dan perilaku antara tahun 2000 dan 2019 di Indonesia diperoleh dari studi Global Burden (GBD) oleh The Institute of Health Metrics and Evaluation (IHME). Model statistik diterapkan untuk menghitung kematian yang disebabkan oleh perubahan faktor risiko menggunakan fraksi yang dapat diatribusikan populasi (PAF) dan angka kematian tahun dasar. Selanjutnya, dilakukan regresi multivariat pada Ringkasan Nilai Paparan faktor risiko yang terkait dengan peningkatan kematian, tingkat kejadian dalam analisis tahun lag. Perangkat lunak R digunakan untuk mengukur kesalahan standar heteroskedastisitas-konsisten dengan coeftest dan coefci. Kovariat ditambahkan ke model yang disesuaikan, termasuk Indeks Sosio-demografi, cakupan fasilitas perawatan kesehatan primer, dan PDB per kapita. Angka kematian standar usia untuk PKV dari tahun 2000 hingga 2019 di Indonesia, meningkat dari 356,05 menjadi 412,46 kematian per 100.000 penduduk di antara pria dan menurun dari 357,52 menjadi 354,07 kematian per 100.000 populasi di kalangan wanita, menghasilkan peningkatan 270.928 per 100.0000 penduduk kematian PKV. Pada periode yang sama, terjadi peningkatan paparan faktor risiko seperti obesitas sebesar +9%, merokok sebesar +1%, dislipidemia sebesar +1,3%, hiperglikemia sebesar +2%, dan hipertensi sebesar +1,2%. Selama rentang waktu ini, tambahan 14.517 pria dan 17.917 wanita meninggal karena PKV, yang disebabkan oleh paparan obesitas yang lebih tinggi. Penelitian ini menerapkan regresi multivariat dengan analisis provinsi-tetap dan tahun-tetap dan menemukan korelasi kuat antara hiperglikemia pada wanita (6; 95% CI 0 hingga 12, kematian per 1 poin peningkatan paparan hiperglikemia) dengan peningkatan tingkat kematian pada penyakit jantung iskemik. Penelitian ini juga melakukan analisis jeda satu tahun dan menemukan hubungan yang kuat antara kadar low density lipoprotein (LDL) yang tinggi pada pria dan wanita dan meningkatnya insiden penyakit jantung iskemik. Hubungan antara jeda 10 tahun LDL tinggi dan kejadian penyakit jantung iskemik lima kali lebih kuat daripada yang diamati untuk faktor risiko lain, terutama pada pria (5; 95% CI 2 hingga 8, kejadian per 1 poin peningkatan paparan LDL tinggi). Pada akhir artikel disimpulkan bahwa hiperglikemia pada wanita merupakan faktor risiko penting yang terkait dengan peningkatan angka kematian akibat Penyakit Jantung Iskemik (IHD) di Indonesia Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa adanya LDL tinggi pada pria dan wanita dikaitkan dengan peningkatan kejadian IHD yang bermanifestasi beberapa tahun setelah paparan faktor risiko. Selain itu, bagian kematian kardiovaskular tertinggi dikaitkan dengan obesitas. Temuan ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan harus mengendalikan LDL tinggi dan hiperglikemia 10 tahun sebelumnya, sebelum terjadinya IHD dan menggunakan terapi secara individual untuk mengatur risiko terkait.
Penulis:
Wigaviola Socha Purnamaasri Harmadha, Farizal Rizky Muharram, Renato Simoes Gaspar, Zahras Azimuth, Hanif Ardiansyah Sulistya, Fikri Firmansyah, Chaq El Chaq Zamzam Multazam, Muhammad Harits, Rendra Mahardhika Putra
Link Artikel:
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0294128





