Universitas Airlangga Official Website

Pentingnya Deteksi Dini Gejala Autisme

Sesi diskusi peserta bersama Sunny Mariana Samosir dr M Ked Klin SpA (Foto: Istimewa)
Sesi diskusi peserta bersama Sunny Mariana Samosir dr M Ked Klin SpA (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dari tahun ke tahun angka kejadian autisme semakin meningkat. Akan tetapi, rata-rata anak dengan autisme baru terdiagnosis di usia 4 tahun. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sunny Mariana Samosir dr M Ked Klin SpA dalam sesi 1 webinar yang membahas Deteksi Dini Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme. Webinar kolaborasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) dengan Teman Autis itu dilaksanakan pada Sabtu (28/6/2025) secara daring melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk orang tua hingga guru.

Sunny Mariana Samosir dr M Ked Klin SpA menyebutkan bahwa diagnosis autisme penting dilakukan lebih dini. Sebab tahun-tahun pertama kehidupan adalah periode kritis perkembangan otak anak. dr Sunny menjelaskan bahwa pada tahap itu terjadi proses pembentukan saraf otak yang puncaknya terjadi pada usia 3 tahun. 

“Sehingga jika kita tidak mendeteksi lebih awal, kita akan melewatkan kesempatan emas untuk melakukan intervensi lebih dini agar bisa mendapatkan hasil luaran yang lebih baik. Namun, apabila kita mendiagnosisnya sudah telat dan tidak dilakukan intervensi sejak dini maka nanti hasilnya tidak begitu maksimal,” terangnya.

dr Sunny menjelaskan bahwa terdapat beberapa alasan anak dengan gangguan spektrum autisme terlambat didiagnosis. Pertama, keluarga tidak memiliki kesempatan untuk datang ke unit pelayanan kesehatan. Hal itu bisa disebabkan salah satunya karena faktor ekonomi. 

Penyebab lain, sambungnya, dapat berasal dari orang tua yang kerap menyangkal gejala autisme pada anak. Orang tua atau pengasuh juga sering menolak untuk mengakui ketika diberikan arahan ketika tahu anak mereka mengalami gangguan autisme. Salah satu contohnya adalah orang tua yang menormalisasikan gejala anak yang telat berbicara. 

“Biasanya anak autis datang ke dokter dengan keluhan anak yang belum bisa berbicara di usia tiga tahun,” ujarnya.

Tak hanya itu, gejala autis yang tidak terlihat jelas di usia muda juga bisa menyebabkan dokter tidak dapat mengidentifikasi dengan tepat. dr Sunny juga menyebut bahwa kurangnya informasi berbasis bukti tentang gangguan spektrum autisme juga turut menyebabkan tertundanya diagnosis autisme.

dr Sunny menyebut gejala awal dapat berupa gangguan komunikasi pada anak. Normalnya anak di usia 6 bulan anak akan mulai babbling mengucap “ba ba ba” atau “ma ma ma” dan di usia 1 tahun harus sudah bisa berbicara “mama”, “papa”, atau mengucap satu kata berarti.

“Apabila anak tidak melalui tahapan tersebut maka perlu diamati, jangan-jangan anak masuk ke dalam spektrum autisme,” ucap dr Sunny.

Kedua, adanya hambatan perilaku non verbal yang ditunjukkan oleh gestur mereka. Umumnya anak dengan autisme tidak menunjuk. Akan tetapi mereka lebih sering menarik tangan orang tuanya.

“Gestur yang lain, umumnya anak-anak usia satu tahun sudah bisa menyatakan keinginan dengan mengangguk atau menoleh. Tetapi, anak autis akan kesulitan untuk menunjukkan gesturnya. Termasuk kesulitan dalam menunjukkan ekspresi wajah dan meniru orang lain,” ujar dr Sunny.

Ketiga, adanya hambatan sosial emosional timbal balik. Misalnya anak dipanggil namun tidak memberikan respon, diajak bercanda tetapi responnya datar, dan tidak menunjukkan ketertarikan. dr Sunny menyebut jika anak menunjukkan dua gejala tersebut maka sudah dapat dijadikan pertanda dan orang tua harus waspada.

Penulis: Septy Dwi Bahari Putri

Editor: Khefti Al Mawalia