Universitas Airlangga Official Website

Pentingnya Sociopreneurship pada Ekonomi Islam Berbasis Digital

Suasana Seminar Offline di Aula Fadjar. (Foto: Istimewa)
Suasana Seminar Offline di Aula Fadjar. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan seminar bisnis islam pada 15/7/2023 secara hybrid di Aula Fadjar dan zoom meeting. Kegiatan ini bertajuk tema “Penguatan Ekosistem Digital dan Halal Food Chain Demi Mewujudkan Indonesia sebagai Pusat Ekonomi Islam Dunia”. 

Seminar ini mengundang dua pemateri hebat yaitu Ichlasul Amal Rangga Winata SEI MSEI selaku alumnus ekonomi islam UNAIR dan CEO Bayibunda.id dan dr Gamal M Biomed selaku founder malang cerdas. 

Jalankan Bisnis Berdasarkan Minat

Ichlasul Amal mengatakan ketika melakukan bisnis berdasarkan minat maka saat menjalaninya akan terasa nyaman dan tidak ada tekanan. Bisnis memiliki 3 syarat yaitu bisnis itu besar, profit, dan berkelanjutan. Menurutnya, dalam menjalankan bisnis juga harus memiliki orang yang generalis dan spesialis. Sehingga bisnis dapat tertangani dan berjalan sesuai porsinya.

“Kalau saya melihat potensi. Saya orang generalis bukan spesialis. Maka ketika saya membuka bisnis saya harus gandeng orang yang spesialis. Apa yang tidak mereka pegang itulah yang saya handle. Dan yang penting kita juga harus tau diri kita ini termasuk generalis atau spesialis untuk menjalankan bisnis itu,” kata inovator kesehatan itu.

Sociopreneur dalam Bisnis

Berkembangnya media sosial menjadi strategi bisnis yang menjanjikan. Setiap konten bisa disaksikan oleh jutaan orang di indonesia. Berbagai kegiatan sosial terus digaungkan untuk memberikan kesejahteraan masyarakat, termasuk usaha sociopreneurship. 

Sementara itu, dr Gamal Albinsaid M Biomed menuturkan sociopreneur bukanlah lahir dari masalah, tapi hasil pemikiran dari seorang ambisius. Dari proses empati dan eksplorasi menjadi inspirasi untuk dapat diadopsi. Ide tersebut memanglah tantangan dengan mahalnya eksekusi yang harus dilakukan. Jadi buatlah bisnis yang tidak hanya untuk menarik perhatian, tapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain.

“Jangan impress people, but Impact people to survive. Jadilah orang yang tetap low profile dengan high impact,” tutur wirausaha sosial itu.

Kesadaran Sosial Lebih Tinggi dengan Bisnis yang Etis

Menjadi seorang pebisnis dengan kesadaran sosial tinggi tentu harus tangguh menghadapi dilema yang terjadi. Banyak yang tidak dapat bertahan karena tak adanya konsistensi menjalankan bisnis yang berkelanjutan. Bahkan sebagian besar kembali terjun ke dalam dunia bisnis konvensional. Dampak luas sosial akan lebih terasa dengan besarnya perusahaan tersebut.

“Semakin besar perusahaan semakin banyak yang kamu dapat bantu. Yang membedakan kamu seorang sociopreneurship adalah kesadaran dampak sosial yang tinggi,” jelasnya.

Bagaimana Sociopreneurship Bekerja

Sociopreneurship dapat berjalan melalui beberapa skema yang dilakukan untuk memutar usahanya. Beberapa badan usaha sosial dapat berjalan tak hanya mengandalkan donasi semata. Mereka memiliki pendapatan mandiri lewat usaha sampingan yang berjalan dengan dampak yang berkelanjutan.

“Tak hanya itu, sistem fee for service dengan menggunakan jasa usaha misalkan dari anak jalanan maupun subsidi bagi low cost client juga merupakan wujud usaha berbasis sosial,” paparnya.

Dalam memulai bisnis tentu saja kita dapat mencari modal usaha seperti dari dana pribadi, kompetisi bisnis, maupun crowdfunding. Perlu diperhatikan juga beberapa faktor agar bisnis rintisan dapat terus berjalan.

“Banyak usaha startup rintisan karena ternyata mereka no market, kehabisan uang, dan timenya gak tepat,” ujarnya.

Dalam akhir penyampaian materinya, dr Gamal mengatakan bisnis sosial harus memiliki misi dan solusi.

“Bekerjalah dalam sunyi dan muncul dalam keberhasilan.”

Penulis: Monika Astria Br Gultom

Editor:Khefti Al Mawalia