Universitas Airlangga Official Website

Penyebab Kematian Ibu Pascapersalinan Di Provinsi Papua Berdasarkan Sdki 2020

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Di Provinsi Papua, angka kematian ibu adalah 289 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2017 dan meningkat menjadi 565 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan peningkatan angka kematian ibu yang signifikan dalam tiga tahun. Kematian ibu ini dapat terjadi karena  faktor penyebab langsung dan tidak langsung.

Penyeban langsung kematian terutama disebabkan oleh komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Sekitar 75% kematian ibu secara langsung berkaitan dengan perdarahan, infeksi, hipertensi, komplikasi kehamilan, persalinan lambat dan aborsi yang tidak aman. Penyebab kematian ibu secara tidak langsung seperti usia ibu dan paritas dan kondisi yang sudah ada sebelumnya atau penyakit penyerta yang diperburuk selama kehamilan. Di Indonesia, prevalensi kematian ibu yang tinggi dan tertunda merupakan kontributor tidak langsung terhadap kematian ibu.

Penyebab tidak langsung yang lain dikenal dengan sebutan Tiga Keterlambatan yang meliputi keterlambatan pengenalan tanda-tanda bahaya kehamilan, keterlambatan pengambilan keputusan terkait rujukan ke fasilitas kesehatan yang tepat, dan keterlambatan akses ke perawatan yang tepat setelah tiba di pusat kesehatan. Pengambilan keputusan di tingkat keluarga sering kali menyebabkan keterlambatan rujukan, yang menyoroti perlunya memperkuat faktor penentu yang memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan dan pengenalan komplikasi pascapersalinan. Perluasan infrastruktur transportasi sangat penting untuk mengurangi keterlambatan rujukan dan memfasilitasi akses cepat ke layanan kesehatan. Lebih lanjut, proses administrasi yang panjang, pusat rujukan yang tidak memadai, staf medis yang tidak memadai, kurangnya kesiapan pra-fasilitas, dan terbatasnya persediaan darah menyebabkan keterlambatan perawatan, yang membutuhkan reformasi pemerintah daerah untuk mendukung penurunan angka kematian ibu di Provinsi Papua.

Determinan sosial yang berkaitan dengan lingkungan perumahan, terutama lingkungan pedesaan dan perkotaan, mencerminkan disparitas kesehatan pada populasi tertentu. Variasi kepadatan penduduk, struktur demografi, pola gaya hidup, pekerjaan, persepsi kesehatan, standar hidup, dan sanitasi berkontribusi terhadap perbedaan morbiditas dan mortalitas antara wilayah pedesaan dan perkotaan.

Determinan sosial lainnya adalah kemampuan berbahasa Indonesia. Kefasihan bahasa yang terbatas seringkali mencerminkan isolasi sosial, terutama di antara penduduk daerah terpencil dengan akses terbatas terhadap pendidikan dan teknologi, seperti masyarakat pedesaan di Papua. Dalam konteks ini, kapasitas linguistik tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan komunikasi tetapi juga merupakan penentu penting literasi kesehatan, yang membantu perempuan memahami instruksi medis, sistem kesehatan, dan memanfaatkan layanan pencegahan.

Di Indonesia, banyak orang bilingual, menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu mereka sementara menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Determinan ekonomi, termasuk status/indeks kekayaan, memengaruhi sumber daya keuangan rumah tangga dan, akibatnya, pemanfaatan layanan kesehatan. Rumah tangga dengan status sosial ekonomi rendah harus berupaya lebih keras untuk mengakses layanan kesehatan dibandingkan dengan rumah tangga yang lebih kaya.

Faktor-faktor terkait kesehatan juga mencakup bidan, tenaga profesional yang berkomitmen pada layanan kesehatan ibu, yang keterampilan dan keahliannya diperoleh melalui pelatihan formal dan perizinan yang diatur, yang diperlukan untuk memastikan praktik pelayanan kesehatan yang aman.Selain itu, secara umum, tempat persalinan tetap menjadi faktor penting, yang membedakan antara tatanan berbasis kesehatan dan non-kesehatan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa paritas (jumlah anak), tempat tinggal, kemampuan berbahasa Indonesia, jenis penolong persalinan dan tempat lahir berhubungan dengan kematian ibu dan kemampuan berbahasa Indonesia. Temuan ini memberikan dasar bukti krusial bagi pengembangan kebijakan dan intervensi yang bertujuan menurunkan angka kematian ibu pascapersalinan di Provinsi Papua. Kemahiran berbahasa Indonesia muncul sebagai

faktor yang paling berpengaruh,menggarisbawahi potensi intervensi yang terarah dan

peningkatan luaran layanan kesehatan.