Monosodium glutamate (MSG) merupakan bahan tambahan pangan yang banyak digunakan untuk meningkatkan cita rasa makanan. Meski diakui aman oleh Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) dalam kadar konsumsi normal, penggunaan MSG yang berlebihan telah dikaitkan dengan berbagai efek negatif terhadap kesehatan. Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi MSG di atas 3 gram per hari dapat memicu stres oksidatif, gangguan fungsi saraf, serta menurunkan keseimbangan hormon reproduksi. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk dalam kelompok dengan tingkat konsumsi bahan penyedap yang tinggi, mencapai 77,6%, melampaui konsumsi makanan manis dan berlemak. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang MSG, terutama pada kesehatan reproduksi wanita.
Untuk menjawab permasalahan ini, penelitian eksperimental dilakukan oleh tim dari Program Studi Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, bekerja sama dengan PAPRSB Institute of Health Sciences Universiti Brunei Darussalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran ekstrak etanol daun krokot (Portulaca oleracea L.) dalam melindungi sistem reproduksi dari kerusakan akibat paparan MSG. Tanaman krokot dikenal luas di Indonesia dan sering dianggap sebagai gulma, padahal memiliki kandungan antioksidan tinggi seperti flavonoid, omega-3, asam askorbat, dan α-tokoferol yang berperan penting dalam menangkal radikal bebas.
Penelitian ini melibatkan 30 ekor tikus betina yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok yang hanya diberi MSG, dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak krokot berbeda (125, 250, dan 500 mg/kg berat badan). Selama 28 hari, tikus-tikus tersebut diberikan paparan MSG setiap hari, disertai pemberian ekstrak krokot sesuai dosis perlakuan. Parameter yang diamati meliputi kadar malondialdehyde (MDA) sebagai penanda stres oksidatif, kadar hormon follicle-stimulating hormone (FSH), serta ketebalan endometrium.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun krokot mampu menurunkan kadar MDA secara signifikan dibandingkan kelompok yang hanya terpapar MSG. Dosis 250 mg/kg berat badan memberikan efek perlindungan paling optimal, ditandai dengan peningkatan kadar FSH yang mendekati nilai normal dan penebalan lapisan endometrium. Hal ini menunjukkan bahwa antioksidan pada krokot bekerja efektif dalam menetralkan radikal bebas dan memelihara fungsi hormonal serta struktur reproduksi.
Temuan ini menegaskan bahwa ekstrak daun krokot memiliki potensi besar sebagai agen pelindung alami terhadap gangguan reproduksi yang disebabkan oleh paparan MSG. Dengan kandungan antioksidan dan senyawa fitokimia yang melimpah, tanaman lokal ini dapat menjadi sumber terapi alami yang aman dan terjangkau. Meskipun hasil penelitian pada hewan menunjukkan hasil yang menjanjikan, studi lanjutan pada manusia diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam upaya memanfaatkan sumber daya alam Indonesia untuk mendukung kesehatan reproduksi wanita. Dengan pendekatan berbasis sains terhadap tanaman tradisional seperti krokot, diharapkan akan muncul alternatif terapi alami yang mampu melindungi sistem reproduksi dari paparan bahan kimia berlebih dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis:
| Astika Gita Ningrum, Endyka Erye Frety, Ivon Diah Wittiarika,Khadizah H. Abdul-Mumin, dan Renata Alya Ulhaq |
Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses melalui link berikut:
https://www.openveterinaryjournal.com/?mno=237865
DOI: 10.5455/OVJ.2025.v15.i8.28





