Universitas Airlangga Official Website

Peran Krusial Mahasiswa Forensik dalam Identifikasi Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Sesi briefing dan pengarahan sebelum proses identifikasi (Foto: Dok. Narasumber)
Sesi briefing dan pengarahan sebelum proses identifikasi (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Airlangga (UNAIR) turut berpartisipasi berkontribusi dalam upaya kemanusiaan. Keempat mahasiswa yang juga tengah menjalani magang di Si Identifikasi Ditreskrimum Polda Jawa Timur itu ikut serta membantu tim Disaster Victim Identification (DVI) dan berbagai instansi lain dalam proses evakuasi dan identifikasi korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. 

Bertempat di Banyuwangi, selama lima hari sejak Kamis (3/7/2025) hingga Senin (7/7/2025), mereka bekerja sama membantu tim DVI sebagai tim properti yang memiliki peran krusial. Menurut keterangan salah satu mahasiswa, Muhammad Khoiri menjelaskan mahasiswa berperan untuk mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mengidentifikasi barang-barang pribadi milik korban yang ditemukan. 

“Melalui kolaborasi yang baik antara tim properti dan tim identifikasi, proses identifikasi menjadi lebih lengkap dan akurat. Sehingga dapat memberikan kepastian bagi keluarga korban dan mendukung proses penyidikan lebih lanjut,” ungkapnya. 

Khoiri menyampaikan ada beberapa hal yang menjadi kendala selama proses identifikasi properti korban kecelakaan. Paparan air laut dalam waktu yang lama mampu memberi kerusakan pada barang-barang temuan. Properti korban juga tersebar jauh dari lokasi kejadian imbas dari arus laut, sehingga menyulitkan pelacakan. 

Mahasiswa S2 Ilmu Forensik SPS UNAIR bersama pihak terkait dalam upaya kemanusiaan
Mahasiswa S2 Ilmu Forensik SPS UNAIR bersama pihak terkait dalam upaya kemanusiaan (Foto: Dok. Narasumber)

“Selanjutnya kontaminasi lingkungan. Lumpur, minyak, atau bahan kimia mencemari lokasi kejadian dapat menutupi, merusak, atau, mengubah bentuk serta warna barang, menyulitkan pengenalan. Kemudian ketiadaan identitas pribadi langsung. Banyak barang yang tidak memiliki penanda identitas langsung, misalnya cincin tanpa inisial dan tas tanpa nama,” sebutnya. 

Terlepas dari kendala yang dihadapi, Khoiri menuturkan pengalaman ini telah memperkaya studinya terkait bidang forensik. “Melalui peran ini saya menyadari betapa pentingnya dokumentasi dan penanganan barang milik korban dalam proses identifikasi. Terutama dalam kondisi korban sulit dikenali secara biologis,” imbuhnya. 

Sejalan dengan Khoiri, Qurotul Aini yang juga merupakan mahasiswa Ilmu Forensik SPS UNAIR turut membagikan pengalamannya dalam pemulihan identitas korban KMP Tunu Pratama Jaya. Menurutnya, seluruh tim yang terlibat dalam proses evakuasi dan identifikasi saling mendukung dalam menguatkan psikologis antarsesama. “Tim identifikasi dan pembimbing lapangan juga sangat terbuka. Sehingga suasana kerja tetap hangat walaupun kami sedang berhadapan dengan korban dan keluarga yang sedang berduka,” ucapnya. 

Pengalaman ini turut membuka perspektif Aini tentang dunia forensik. Aini mengungkapkan ilmu forensik adalah jembatan antara korban, keluarga, dan keadilan. Tidak semua korban bersuara, namun identitas mereka mampu ‘disuarakan’ kembali. “Forensik bukan sekadar ilmu, tapi bentuk penghormatan terakhir untuk korban dan jawaban bagi keluarga,” pungkasnya.

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor Yulia Rohmawati